Dewasa Itu Pilihan

Sebentar lagi masuk kuliah dan saya akan resmi menjadi ‘anak kuliahan’ alias mahasiswi. Tingkat pendidikan yang sering diasumsikan sebagai tahapan remaja menuju kedewasaan. Belajar mandiri, cari uang sendiri dan segala hal yang jauh dari kekanak-kanakan yang biasa dilakukan di bangku sekolah *uh I miss my high school and extremely crazy friends X(*

Tapi bagi saya, dewasa bukan suatu hal nyata yang pasti, yang bisa ditetapkan pada suatu tingkatan umur tententu. Dia pasti akan datang, tetapi berbeda-beda pada tiap individu. Dewasa sama seperti kesuksesan, yang pasti akan terjadi pada setiap manusia, asalkan kita berusaha menggapainya. Dewasa adalah pilihan, dia adalah sebuah proses dimana kitalah yang memilih apakah ingin menjalaninya atau tidak. Sebagai bukti, kita bisa bersifat kekanakan seumur hidup, jika memang itu pilihan kita.

Umumnya pencapaian kedewasaan diidentikkan dengan umur 17 tahun, dimana manusia dianggap mulai bisa melakukan segala hal sendiri, berpikir matang dan tidak lagi menatap hidup secara ‘cengeng’ hanya untuk bersenang-senang. Di umur 17, kita mulai bisa menentukan hidup kita sendiri tanpa tergantung lagi dengan orang tua. Dewasa seolah-olah menjadi sebuah titik acuan kapan seorang manusia bisa benar-benar dianggap ‘manusia’. Setiap remaja dituntut untuk menjadi dewasa: mandiri, mapan dan matang.

Dewasa itu pilihan.

Dewasa itu membosankan! Setidaknya ini yang mulai saya rasakan dan saya lihat pada orang-orang dewasa di sekitar saya. Orang-orang dewasa sibuk menata hidup mereka, bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup, kadang tidak punya waktu untuk sejenak mengistirahatkan badan, ujung-ujungnya stres dan depresi. Sebegitu mengerikankah menjadi dewasa (orang tua)?

Saya punya 2 adik yang masih SD dan beberapa sepupu yang juga masih bocah. Setiap hari mereka bermain dengan gembiranya, terkadang mereka bertengkar tetapi kembali akur dan kembali bermain sambil tertawa lepas. Kadang saya berpikir, bagaimana masa kecil saya dulu? Mungkin sama seperti mereka, sayangnya saya lupa bagaimana bebasnya menjadi anak kecil.

Menginjak dewasa, manusia semakin kehilangan ‘masa kanak’ nya. Mereka sibuk bekerja dan mereka lupa bagaimana caranya tertawa lepas seperti anak kecil. Hidup mereka penuh problem, pikiran mereka dipenuhi berbagai rencana masa depan yang kemudian menusuk balik menjadi sebuah beban mental bagi diri mereka sendiri. Menimbulkan berbagai macam pertanyaan semacam: Bisakah aku mencapainya? Bagaimana jika aku gagal?

Perhatikan anak kecil, dimanapun mereka selalu ceria menjalani hidup tanpa terlihat memiliki beban. Enjoy the day, kata mereka. Apa rahasianya? Anak kecil, dihitung dari umur, mereka lebih muda dari kita. Mereka belum memiliki banyak pengalaman seperti orang dewasa. Oleh karena itu, setiap hal yang mereka jalani adalah sesuatu yang menarik. Setiap saat mereka menemukan hal baru, itulah sebabnya hidup anak-anak sepertinya tidak mengenal kata bosan.

Berbeda dengan orang dewasa. Semakin dewasa, semakin banyak pengalaman, tapi semakin sering juga mengalami kebosanan karena yang dikerjakan hanya itu-itu saja. Saya tidak heran kemudian muncul ‘terapi tertawa’ untuk para orang dewasa. Saking banyaknya kegiatan, mereka melupakan hal simpel yang menjadi dasar kebahagiaan, tertawa.

Kemudian saya memikirkan cara baru untuk hidup: menggunakan kedua sifat itu dalam bergaul. Bersikaplah seperti anak kecil tanpa beban pikiran, dengan perhitungan konsekuensi layaknya orang dewasa. Jadilah anak kecil yang melihat semua hal sebagai hal baru yang menarik, ini untuk menghindari kebosanan kita sebagai orang dewasa. Jadilah orang dewasa pada saat yang tepat, saat segala sesuatu membutuhkan pemikiran matang dan keputusan yang bertanggungjawab.

Dewasa itu pilihan.

Apa saya salah?

One thought on “Dewasa Itu Pilihan

  1. Ehem, buat saya, dewasa itu suatu keharusan. :lol:
    Memang sudah siklusnya begitu, seperti kurva parabola. Dari anak-anak, semakin dewasa ke remaja, menuju keadaan puncak dewasa di usia dewasa, kembali jadi anak-anak ketika umur semakin tua. :)

    Itu menurut pengamatan saya. ;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s