PRESTASI: Antara Kejeniusan dan Kesempatan

Sebagai negara berkembang yang mengalami banyak masalah ekonomi, pendidikan, kemacetan, bahkan korupsi, Indonesia termasuk negara yang anak muda-nya banyak memiliki prestasi. Indonesia selalu diperhitungkan dalam event-event internasional, baik kesenian, olahraga, teknologi dan olimpiade sains. Kontingen Indonesia selalu membawa oleh-oleh gelar dari event internasional, disambut dengan kalungan bunga di bandara oleh pemerintah terkait. Membanggakan.

Kita soroti salah satu bidang yang paling menonjol belakangan ini, OLIMPIADE SAINS. Masyarakat pasti juga sudah tahu bagaimana prestasi pelajar kita di bidang ini. Di koran, di televisi dan di dunia maya keberhasilan Indonesia dalam olimpiade sains internasional selalu diekspose, membuat decak kagum masyarakat dan membuat kita tersenyum untuk sejenak melupakan berbagai masalah dalam negeri.

Beberapa medali emas, medali perak, medali perunggu, honorable mention selalu di persembahkan pelajar-pelajar jenius itu untuk Indonesia selepas mengikuti olimpiade-olimpiade sains internasional seperti IPhO (International Physic Olimpiad), IMO (International Mathematic Olimpiad), IChO (International Chemistry Olimpiad), IBO (International Biology Olimpiad), dan sebagainya. Hal ini tentu sangat membanggakan, kita bisa membuktikan diri bahwa Indonesia memiliki SDM yang berkualitas. Lalu bagaimana perjalanan anak-anak muda itu sampai bisa mengharumkan nama Indonesia?

Sebelum mencapai prestasi gemilang, mereka harus melewati berbagai seleksi. Seleksi dilakukan bertahap mulai tingkat sekolah, kabupaten, propinsi, sampai nasional yang dikenal dengan OSN (Olimpiade Sains Nasional). Pelajar yang mendapat medali pada OSN akan dikarantina selama beberapa waktu dan dibina oleh ahli untuk kemudian dilepas di ajang olimpiade internasional.

Sayangnya, peroleh medali OSN didominasi oleh propinsi dan sekolah tertentu saja. Apakah artinya anak-anak jenius hanya ada di wilayah tertentu saja? TIDAK! Saya yakin bahwa tiap daerah punya anak-anak cerdas yang bisa berprestasi sampai ke tingkat internasional, bahkan mereka bisa kita temukan di pelosok desa. Yang menjadi permasalahan adalah kesempatan. Mereka cerdas, tapi mereka tidak punya kesempatan untuk dibimbing lebih serius oleh ahli.

Kita misalkan 2 orang siswa yang kecerdasannya hampir sama bernama A dan B. A berasal dari sekolah yang sudah sering mencetak pelajar berprestasi internasional, siswanya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari dengan latihan yang sangat serius, dilatih oleh orang yang sudah berpengalaman untuk menghadapi seleksi olimpiade. Mental olimpiade pun ditanamkan, mereka diberi tahu terlebih dahulu bagaimana bayangan nyata di lapangan oleh pembimbing mereka (biasanya adalah orang yang pernah meraih medali di olimpiade internasional) sehingga kesiapan mental mereka pun menjadi salah satu kunci kesuksesan saat olimpiade digelar.

Sedangkan B berada di daerah yang –katakanlah– lebih terbelakang, ‘budaya olimpiade’ belum semaksimal itu. Mereka dilatih hanya oleh guru kelas reguler, hanya beberapa waktu sebelum seleksi. Mereka tidak diberi tahu bagaimana nanti suasana saat olimpiade, sehingga kebanyakan dari mereka akan mengalami kejatuhan mental saat olimpiade, karena tidak terbiasa dan tidak tahu sebelumnya. Padahal mereka memiliki potensi dan kecerdasan luar biasa, namun terhalang oleh sebuah kata yang disebut kesempatan.

Bagaimana agar kesempatan itu didapatkan oleh anak-anak seperti A? Pemerintah harusnya bisa lebih pro-aktif dalam mengatasi masalah ini. Perolehan medali di OSN tidak hanya menyangkut prestasi dan kebanggan sekolah maupun tiap propinsi, tetapi juga menyangkut negara. Seleksi olimpiade dilakukan untuk menjaring anak-anak cerdas dari seluruh Indonesia agar bisa bersaing di olimpiade Internasional, sudah sepatutnyalah setiap anak di seluruh Indonesia bisa mendapatkan kesempatan itu.

Selama ini, para peraih medali internasional yang sudah menyelesaikan studi-nya, akan kembali ke sekolahnya sebagai pembimbing olimpiade adik-adik kelasnya. Inilah alasannya mengapa ada beberapa sekolah yang dikenal sebagai sekolah pencetak siswa-siswi peraih medali olimpiade.

Pernah tercetus ide di benak saya, bagaimana jika para peraih olimpiade itu kemudian disebar ke seluruh propinsi di Indonesia untuk melakukan pembimbingan pra-olimpiade? Ini akan memberi kesempatan kepada anak-anak daerah untuk juga ikut andil dalam olimpiade internasional. Tujuan negara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan mencerdaskan kehidupan penghuni wilayah tertentu.

2 thoughts on “PRESTASI: Antara Kejeniusan dan Kesempatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s