Jangan Minder Jadi ‘Ban Bekas’

Seandainya kalian sedang tenggelam di lautan, lalu ada orang yang melemparkan ban bekas dan emas 100 kg, mana yang kalian pilih?

Itu omongan dosen Ilmu Kealaman Dasar yang paling saya tangkap pada pertemuan kedua hari ini. Kenapa? Karena…

  1. Itu bahasan yang paling saya mengerti diantara materi ‘biologi’ lain yang disampaikan beliau saat itu. Bukan, bukan karena saya orang Matematika lalu menganggap materi Biologi membosankan, tapi karena pada dasarnya saya memang tidak punya kemampuan istimewa dalam memahami materi yang berkaitan dengan Biologi.
  2. Saya mengantuk *don’t try this at home* karena tidak sempat sarapan sebelum berangkat ke kampus. Saat materi ‘ban bekas’ disampaikan, roh saya tiba-tiba bangun karena kelas mendadak riuh.

Dan untung saja saya masih mendengar beberapa kata awal Ibu yang ‘seandainya kalian tenggelam di laut’, karena jika tidak maka bisa saja muka saya tiba-tiba hilang saking malunya karena berteriak dengan tegasnya ‘EMAS, BU!!!

Iya, saya pasti akan sangat malu jika itu benar-benar terjadi karena siapa saja pasti akan memilih BAN BEKAS jika berada pada situasi seperti itu. Untuk apa 100kg emas sedangkan nyawa kita sedang di ujung tanduk?

ada saat dimana sesuatu yang tidak berharga menjadi sangat berharga dan sesuatu yang sangat berharga menjadi tidak berharga, tergantung waktu dan situasi. (Dra. St. Wahidah Arsyad, M. Pd)

Emas memang berharga, tapi tidak ada gunanya saat kita sedang sekarat terombang-ambing ombak lautan menanti pertolongan. 100kg emas? SANGAT tidak berguna karena itu malah akan membuat kita semakin tenggelam. Bagaimana dengan ban bekas yang biasanya sering dianggap tidak berguna? Dia tiba-tiba jadi dewa penyelamat bagi kita. Kedatangannya ibarat mendetakkan kembali jantung yang sempat terhenti.

Kata kuncinya adalah ‘RELATIF’

Pandangan satu orang saja tidak bisa kita jadikan tolak ukur akan berharga atau tidaknya sesuatu. Kita tahu bahwa setiap manusia punya pendapat dan pandangan berbeda atas suatu hal, maka bisa saja sesuatu yang dianggap A sangat berharga bernilai biasa saja di mata B. Situasi dan kondisi juga jadi faktor penentu, seperti permisalan dosen saya, semua orang pasti akan memilih ban bekas yang bisa membantu kita mengapung di laut daripada emas yang membuat tenggelam, kecuali orang yang teramat sangat gila akan harta. *ada?*

Sama halnya dengan kasus ‘ban bekas dan 100kg emas’, manusia pun tidak bisa dicap ‘tidak berharga/berguna’ hanya berdasarkan beberapa faktor. Setiap manusia punya kekurangan, setiap manusia punya kelebihan, dan perbedaan itulah yang membuat dunia menjadi lebih hidup.

Jangan pernah minder menjadi ‘ban bekas’ yang dianggap tidak berharga oleh kebanyakan orang. Teruslah berpikir positif karena ada saat dimana kita menjadi lebih berharga dari ’emas’. Asalkan kita bisa mensyukuri dan mengoptimalkan semua yang sudah diberikan Allah SWT kepada kita, baik dan buruknya, kita akan terus menjadi orang yang berharga.

15 thoughts on “Jangan Minder Jadi ‘Ban Bekas’

    • nggak, itu materi Ilmu Kealaman Dasar, tapi saat itu yg dibahas berkaitan dg biologi. dosen saya kalo ngajar bisa lari kemana-mana, makanya bisa sampai ke ‘ban bekas’ hehe

  1. kalo baca pertanyaan diatas, au malah jadi terinagta ma Film nya jacky chan yang sedang memburu harta karun di padang pasir. Ketika sudah berhasil menemukan harta karun yang berupa emas logam yang begitu banyak, namun menjadi tiada artinya ketika sedang kehausan di tengah2 gurun pasir. apa boleh buat, emas logam yang banyak tadi malah ditukar dengan Sebotol air minum,kwaakakakaka……..,sungguh ironis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s