Langit Sama yang Berbeda

Untuk bocah-bocah pengacau rumah, dari seorang saudara yang ‘durhaka

Ading-ading yang kaka sayang. Surat ini kaka tulis di tengah hujan deras, dalam kamar kecil di kota yang begitu berbeda dengan kota tempat kita tumbuh. Ini, kota yang berpohonkan beton, berudara debu dan berair peluh.

Hujan ini mengingatkan kaka pada kebiasaan kita saat hujan. Berkumpul di teras sekedar menikmati aroma tanah basah yang menyejukkan saluran napas. Atau mengurung diri di kamar, bernyanyi menggila sekeras mungkin melawan suara titik-titik air yang menyentuh atap. Atau kadang menghangatkan diri dengan cara konyol, berebut rebusan mie Soto Banjar Limau Kuit sampai berkejaran keliling rumah.

Ading-ading kaka yang nakal. Kaka rindu keusilan kalian. Kaka rindu tangis dan tawa kalian. Kaka rindu teriakkan memekakkan telinga tiap kali kita bertengkar. Kaka rindu tapi kaka terlampau gengsi untuk bicara di telpon ‘Nin, Yu, kaka kangen

Sekarang hujan bukan lagi sesuatu yang kaka tunggu, bukan lagi hal yang menyenangkan hati ketika ia datang. Tidak ada aroma tanah basah yang bisa dinikmati, ding. Duduk di teras memandangi butiran air yang turun hanya menyesakkan dada. Langit yang gelap terasa semakin memekat jika dinikmati sendirian.

Sekarang mie Soto Banjar Limau Kuit pun tak berasa di lidah. Tidak ada sensasi yang bisa dirasa karena tidak ada makhluk pengacau yang akan berusaha merebut mangkuk mie kaka. Hambar.

Kaka rindu kebiasaan kita merebahkan diri di teras rumah saat mati lampu, mengacuhkan serangan nyamuk hanya untuk memandangi indahnya langit malam. Berlomba mencari bintang paling terang lalu tertawa bersama. Sekarang kaka kehilangan bintang, ding. Disini lebih banyak cahaya, tapi cahaya berwarna-warni dari lampu-lampu neon atau baliho di jalan-jalan. Bintang kita tersamarkan lampu, terhalang beton raksasa yang menjulang ke langit.

Kaka rindu teriakan malam hari ‘kaaaa, bulan purnama‘ lalu kita berlarian keluar rumah. Memandangi benda langit bulat sempurna itu sambil menirukan lolongan serigala. Lalu hawa menjadi dingin dan kita bergegas masuk rumah karena ketakutan yang kita buat sendiri.

Sekarang kaka jadi anak baik. Tidak pernah lagi menganiaya bocah nakal seperti kalian. Tidak ada lagi anak kecil yang menangis gara-gara kaka. Kaka jadi orang baik, ding. Tapi sejujurnya itu cukup menyiksa. Kaka ingin jadi orang jahat lagi, ding. Suruh sana suruh sini, berlagak ratu yang selalu dilayani. Kaka ingin jadi orang sibuk lagi, ding. Jalan kesana kemari menenangkan hati, menyusuri jalan tanpa tujuan, ditemani kalian.

Kaka rindu suasana makan malam, kesempatan kita berkumpul satu keluarga lengkap. Rindu lawakan papah yang ditanggapi garing oleh mama, karena sudah berkali-kali diulang. Rindu hal-hal lucu yang sebenarnya sepele, namun membuat kaka tidak bisa meneruskan makan karena tidak bisa menghentikan tawa. Rindu melihat mama memandang heran anaknya yang sakit perut karena overdosis tawa. Disini kaka hanya akan dianggap orang gila jika makan sambil tertawa, tertawa sendirian.

Ah, kaka rindu pohon Mahoni, ding. Rindu taman yang selalu kita kunjungi tiap pekan. Rindu paman-bertopi-putih di pinggir taman di bawah pohon Mahoni dengan buah-buah segar dalam kotak kaca. Rindu bakso urat di simpang empat. Rindu nasi goreng warung biru di pujasera. Rindu nasi goreng dekat Burung Anggang dengan pelayan-pelayan yang begitu familiar. Rindu toko buah yang sering kita singgahi. Rindu dengan paman arab tempat kita berburu cokelat. Rindu mie ayam kantor polisi.

Ninud, kaka rindu kesombongan Ninud saat mengukur tinggi badan. Saat kaka pulang, mungkin tinggi kita sudah sama :)

Ayu, kaka rindu keegoisan Ayu di tiap hal. Kaka rindu amukan Ayu tiap kali kaka jahili :)

Kaka rindu Bumi Murakata dan segala isinya :(.

Jika saja ini bukan tentang MASA DEPAN, ding.

*kamis, 041110. DI BAWAH LANGIT YANG SAMA NAMUN BERBEDA, saat hujan deras*

Tiya - Ayu - Ninda

 

12 thoughts on “Langit Sama yang Berbeda

  1. Duh, sungguh postingan yang begitu dalam dan sarat dengan cinta kasih persaudaraan.sama halnya yang kurasakan saat ni Tia,aku juga rindu kebersamaan dengan kakak dan adikku yang telah sekian lama berpisah jarak dg ku.

    maaf aku gak bisa nyelesein baca postinganmu ni,karena jika kuselesaikan takutnya ntar tanpa kusadari air mataku malah meleleh deras lagi. :( **Hufft…,kumat dah lebay nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s