Dia Pelakunya, Dia!

Dia yang menjatuhkan air mata saya!
Dia yang menertawakan kebodohan saya!
Dia yang melakukan semuanya!!!

Saya menemukannya –atau dia yang menemukan saya?- pada suatu waktu di tempat yang sangat biasa. Saat itu pun biasa, terlebih dia, sangat biasa. Saking biasanya, kalian akan menemukan jenisnya di pasar, balapan di jalanan, nongkrong di pos keamanan, atau sedang berlalu-lalang di lampu merah. Itulah mengapa saya tidak pernah menyangka dia akan jadi salah satu halaman dalam novel saya. Saat biasa yang serba biasa itulah akhirnya yang mengubah alur novel saya dan berbuah malapetaka ini!

Dia yang membuat saya kembali menangis! Saya sudah jadi pribadi yang kuat belakangan itu, beberapa waktu sebelum mengenalnya. Saya sudah tak mengenal air mata. Dialah yang kembali membawa air bening itu di sudut mata saya!

Oke, kadang saya memang ceroboh. Dia selalu menertawakan saya! Pada suatu kondisi harusnya saya diberi simpati, tapi malah tawa haha hihi.

Kadang saya berpikir mengapa dia bisa menjadi tokoh dalam novel saya? Dimana saya mencomot wujudnya? Ah, ini seperti seorang pengarang yang kehilangan kendali lalu ditaklukkan oleh tokoh cerita yang dibuatnya sendiri. Saya kemudian mengikuti alurnya, hingga saat ini. Dan saya semakin yakin, dialah tokoh yang sudah mengobrak-abrik hidup saya. Seperti,

Saya tidak pernah membaca tulisan biasa dengan tulisan tangan biasa dari orang biasa sampai menitikkan air mata. Dialah yang pertama kali melakukannya. Ingin tahu bagaimana tulisannya? Pernah melihat cacing menggeliat, ya seperti itulah. Bagaimana kualitas tulisannya? Bahkan diikutkan dalam lomba menulis artikel anak SD tidak akan menang.

Saya tahu kecerobohan bukan peliharaan, itu sebuah ketidaktelitian. Dia selalu menertawakan saya saat itu terjadi. Harusnya saya diberi simpati. Saya yang terlampau ceroboh atau dia yang keterlaluan? Terlalu banyak hal ‘aneh’ yang saya dapatkan darinya.

Tapi akhirnya saya mendapatkan banyak hal baru darinya. Ada hal sederhana yang akan menjadi sangat istimewa saat kita dapatkan di situasi tertentu, itulah yang membuat saya terharu sampai menitikkan air mata. Lalu tentang menertawakan kebodohan? Saya semakin berhati-hati dalam segala hal, ada sedikit kebahagiaan melihatnya kehilangan kesempatan untuk menertawakan saya.

Dia biasa, terlampau biasa. Tragisnya, itulah yang mengistimewakannya dari pendahulu-pendahulunya :)

*tetaplah menjadi biasa :)

orang-gila-yang-menggilakan-saya

2 thoughts on “Dia Pelakunya, Dia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s