CERPEN: Ketidakwarasan Padaku

Ini kisah labil yang juga dibuat di saat TERLABIL kurang lebih 8 bulan lalu. Agak kurang greget karena ya LABIL itu tadi, hehe. Tapi terasa ada yang mengganjal kalau tulisan ini hanya saya simpan sebagai draft di folder terdalam lappie saya, so here it is, sekedar melegakan hati.

———————————–

Ketidakwarasan padaku membuat hidupku lebih tenang, aku tak kan sadari bahwa kau tak lagi disini… (Ketidakwarasan Padaku-Sheila On 7)

***
‘Sepertinya di sini. Ya, seharusnya di sini’

Tangannya terus mengais-ngais tanah disela rerumputan liar yang tingginya hampir 15 sentimeter. Beberapa butir air menetes membasahi pipinya. Dia menangis tanpa suara seiring beberapa bayangan lalu melintas di kepalanya. Beberapa kenangan yang merupakan alasan mengapa dia berada di sini.

***
‘Tenang, sayang. Selama kita masih memiliki mata kalung yag sama, selama kalung ini masih kita miliki, perasaan ini akan tetap ada’ wajah itu berkata.

Dia hanya bisa menangis saat itu, itulah yang selalu dilakukannya setiap kali menghadapi masalah.

‘Tapi… aku tidak akan sanggup, Pram’ dia berusaha bertahan ditengah isakan. Tapi rupanya dia tak bisa menahan, dan ini memang selalu terjadi, tangisnya pecah mengalahkan deras hujan yang turun sore itu.

‘Percaya padaku, kita akan bisa melewati semuanya’ badan itu berbalik, meninggalkannya di tengah guyuran hujan.

***
Dia bergegas. Sudah pukul 3 dan dia harus segera berada di rumah. Tapi di pintu kelas, Anis mencegatnya.

‘Na, ada yang menitipkan sesuatu untukmu’ dari garis muka Anis, dia tahu bahwa ini bukan sesuatu yang menyenangkan.

‘Apa, Nis?’

‘Ini…’ Anis mengeluarkan sesuatu dari tasnya, meletakkan benda itu ke telapak tangan Na. Na merasakan sesuatu yang dingin seperti logam menyentuh kulitnya, dia menggenggam benda itu tanpa berani melihatnya.

‘Dari Pram’ kalimat terakhir Anis menohok hatinya. Ya, dia tahu apa yang ada digenggamannya sekarang. Ya, dia tahu, dia masih ingat kejadian di tengah hujan 3 bulan lalu.

‘Hah, apa ini Nis? Haha tidak penting’ dia berusaha menyembunyikan suasana hatinya yang sebenarnya. Dia tertawa untuk menyembunyikan hatinya yang menangis teriris.

‘Haha, benda ini tidak penting’ Dia melempar mata kalung itu ke tengah semak di samping kelas, kemudian berlalu.

***
Dia berjanji, ini akan menjadi tangisannya yang terakhir…

Meraung, dia menangis di atas motor yang dipacunya dalam kecepatan tinggi. Tidak akan ada yang melihat air matanya, tidak akan ada yang mendengar tangisannya. Dia melaju tak tentu arah. Di tengah perjalanan, di sebuah daerah yang tidak dia kenal, dia melemparkan sesuatu ke tengah deras arus sungai dari atas jembatan. Sesuatu yang dia renggut dari lehernya sendiri.

***
Dia terus mengais tanah. Dia yakin bahwa dia akan mendapatkannya. Di tempat inilah kalung itu dia lemparkan setengah tahun lalu. Hahaha setengah tahun lalu, dan dia berharap akan menemukannya? Haha dia tahu bahwa dia sudah gila.

‘Aku akan mendapatkannya’ dia menggumam sendiri. Matanya memerah karena tangisan. Satu jam sudah berlalu dan dia terus mengais.

Akhirnya dia menyerah, terduduk dan terus menangis. Dia menyeka air matanya dengan kedua tangannya yang berlapis tanah, tak peduli wajahnya juga menjadi penuh dengan tanah kotor.

‘Haha itu hanya kalung tak penting kan? Setidaknya bukan hatiku yang hilang, aku masih punya hati. Hahaha’ dia tertawa di tengah tangisan.

‘Haha setidaknya bukan otakku yang hilang, aku masih punya akal hahaha’ dia tidak berhenti tertawa sementara isakannya juga masih terdengar.

‘Hei, tunggu. Akal? Sepertinya akalku juga hilang. Haha. Gilakah aku? Haha. Sepertinya aku gila. Ya, sepertinya aku gila. Haha’

‘APA AKU GILAAAAA?!?’ teriaknya. Dia kembali menangis, meraung. Dia tak tahu bahwa sejak tadi ada sosok tegap yang memperhatikannya dari sudut gedung. Sosok itu melihat Na dan benda di telapak tangannya secara bergantian. Benda yang sama seperti yang sedang dicari Na. Benda yang sekarang sudah basah oleh air yang tak dia sadari berasal dari mana.

‘Na…’

***

‘Na…’

Hanya terdengar isakan teredam dari Na yang sedang terduduk memeluk lututnya.

‘Na…’ suara itu kembali terdengar.

Na merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya. Isakannya tertahan, hening sejenak. Suara daun yang disentuh lembut angin terasa memenuhi seluruh alam. Na buru-buru menyeka air matanya, menoleh dan mendapati seorang laki-laki sedang berdiri di belakangnya.

‘Na, sudahlah. Ayo pulang!’ suara berat tapi menenangkan itu berusaha membujuk Na untuk meninggalkan tempat itu.

Na menatapnya sebentar lalu kembali meringkuk memeluk kedua kakinya.

‘Na, ayolah. Untuk apa lagi kau berdiam di sini? Lebih baik kau pulang. Istirahat.’

Na mengangkat bahunya, ‘Aku masih ingin di sini, pulang saja kau duluan.’

‘Kenapa Na?’ Laki-laki itu berpindah ke hadapan Na. ‘Ini kah alasanmu tidak mau beranjak dari tempat ini? Lihat aku, Na.’

Na mengangkat kepalanya, matanya terbelalak melihat sepasang kalung teruntai dari genggaman laki-laki itu. Hening lagi.

‘Ini kan, Na, alasanmu tak mau pulang?’

‘Ba…ba…bagaimana bisa kalung ini…’

‘Kau mencari kalung ini kan, Na? Aku akan memberikannya padamu, tapi kau harus pulang ke rumah sekarang juga.’

‘Tapi kenapa bisa?’ tanya Na masih dengan ekspresi keterkejutannya.

‘Tak usah kau pikirkan, yang penting sekarang kau pulang dan…’

‘Tunggu!’ Na dengan cepat memotong kalimat laki-laki itu saat secara tiba-tiba dia menyadari sesuatu, ‘Ini bukan kalung yang kucari. Kau punya sepasang, sedangkan kalungku sudah kubuang ke sungai dan tak mungkin bisa didapatkan. Itu bukan yang kucari. Bukan!’ geleng Na.

‘Apalah artinya, Na. Ini kalung yang sama persis dengan yang kau cari di tempat kotor ini kan? Sudahlah, kau sudah mendapatkannya kembali’ jelas laki-laki itu.

‘Aku tahu kau pasti membelinya kan? Kalung semacam ini banyak di pasaran, aku tahu.’

‘Iya, aku memang membelinya, dan ini untukmu. Tak usah kau cari-cari lagi kalungmu yang dulu. Sudah lebih setengah tahun, kau tak akan mendapatkannya’

‘Kau tak mengerti, Do!’ Na berdiri secara mendadak, membuat laki-laki itu hampir terjungkal karena terkejut.

‘Ada satu hal yang tak kau mengerti’ tegas Na seraya meninggalkan Ridho yang berdiri mematung.

Laki-laki itu menggenggam erat mata kalung di tangannya sambil terus menatap punggung perempuan yang semakin menjauhinya.

‘Ada satu hal yang juga tak pernah kau mengerti, Na…’

***

Terimakasih untuk kehadiran kalian selama ini. Memberi arti dan mengisi kekosongan hati. Tapi sungguh aku tak bisa memilih.
Ini hatiku dan akulah yang berandil besar dalam menjaganya.

Maaf atas semua kesalahan yang sudah kulakukan pada kalian. Sungguh, aku tak bisa memilih salah satu dan mengorbankan yang lainnya. Namun sudah kuputuskan, kuserahkan kembali hati ini kepada Pemilik Yang Sesungguhnya. Maaf telah mengecewakan. _Na_

***
Di rumah Na. Hawa duka menggantung di atmosfer, menambah kelam langit yang mendung sedari subuh. Isak tangis terdengar di setiap sudut dan memberi kesan kesedihan terdalam.

Ridho dan Pram saling menatap dalam diam. Terlalu sungkan untuk melakukan komunikasi verbal, namun secara tak sadar sama-sama berbisik dalam hati.

‘Maafkan aku, Na. Mungkin Dia lah tempat terbaik untuk melabuhkan cintamu.’

Luka hati akan mati, jika jiwa terus menari dan bermimpi… (Ketidakwarasan Padaku-Sheila On 7)

*penghujung Mei 2010, pada 20:08 dari sebuah tempat yang kusebut ‘segalanya’*

‘Na…’ 

Hanya terdengar isakan teredam dari Na yang sedang terduduk memeluk lututnya.

‘Na…’ suara itu kembali terdengar.

Na merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya. Isakannya tertahan, hening sejenak. Suara daun yang disentuh lembut angin terasa memenuhi seluruh alam. Na buru-buru menyeka air matanya, menoleh dan mendapati seorang laki-laki sedang berdiri di belakangnya.

‘Na, sudahlah. Ayo pulang!’ suara berat tapi menenangkan itu berusaha membujuk Na untuk meninggalkan tempat itu.

Na menatapnya sebentar lalu kembali meringkuk memeluk kedua kakinya.

‘Na, ayolah. Untuk apa lagi kau berdiam di sini? Lebih baik kau pulang. Istirahat.’

Na mengangkat bahunya, ‘Aku masih ingin di sini, pulang saja kau duluan.’

‘Kenapa Na?’ Laki-laki itu berpindah ke hadapan Na. ‘Ini kah alasanmu tidak mau beranjak dari tempat ini? Lihat aku, Na.’

Na mengangkat kepalanya, matanya terbelalak melihat sepasang kalung teruntai dari genggaman laki-laki itu. Hening lagi.

‘Ini kan, Na, alasanmu tak mau pulang?’

‘Ba…ba…bagaimana bisa kalung ini…’

‘Kau mencari kalung ini kan, Na? Aku akan memberikannya padamu, tapi kau harus pulang ke rumah sekarang juga.’

‘Tapi kenapa bisa?’ tanya Na masih dengan ekspresi keterkejutannya.

‘Tak usah kau pikirkan, yang penting sekarang kau pulang dan…’

‘Tunggu!’ Na dengan cepat memotong kalimat laki-laki itu saat secara tiba-tiba dia menyadari sesuatu, ‘Ini bukan kalung yang kucari. Kau punya sepasang, sedangkan kalungku sudah kubuang ke sungai dan tak mungkin bisa didapatkan. Itu bukan yang kucari. Bukan!’ geleng Na.

‘Apalah artinya, Na. Ini kalung yang sama persis dengan yang kau cari di tempat kotor ini kan? Sudahlah, kau sudah mendapatkannya kembali’ jelas laki-laki itu.

‘Aku tahu kau pasti membelinya kan? Kalung semacam ini banyak di pasaran, aku tahu.’

‘Iya, aku memang membelinya, dan ini untukmu. Tak usah kau cari-cari lagi kalungmu yang dulu. Sudah lebih setengah tahun, kau tak akan mendapatkannya’

‘Kau tak mengerti, Do!’ Na berdiri secara mendadak, membuat laki-laki itu hampir terjungkal karena terkejut.

‘Ada satu hal yang tak kau mengerti’ tegas Na seraya meninggalkan Ridho yang berdiri mematung.

Laki-laki itu menggenggam erat mata kalung di tangannya sambil terus menatap punggung perempuan yang semakin menjauhinya.

‘Ada satu hal yang juga tak pernah kau mengerti, Na…’

***

Terimakasih untuk kehadiran kalian selama ini. Memberi arti dan mengisi kekosongan hati. Tapi sungguh aku tak bisa memilih.
Ini hatiku dan akulah yang berandil besar dalam menjaganya.

Maaf atas semua kesalahan yang sudah kulakukan pada kalian. Sungguh, aku tak bisa memilih salah satu dan mengorbankan yang lainnya. Namun sudah kuputuskan, kuserahkan kembali hati ini kepada Pemilik Yang Sesungguhnya. Maaf telah mengecewakan. _Na_

***

Di rumah Na. Hawa duka menggantung di atmosfer, menambah kelam langit yang mendung sedari subuh. Isak tangis terdengar di setiap sudut dan memberi kesan kesedihan terdalam.

Ridho dan Pram saling menatap dalam diam. Terlalu sungkan untuk melakukan komunikasi verbal, namun secara tak sadar sama-sama berbisik dalam hati.

‘Maafkan aku, Na. Mungkin Dia lah tempat terbaik untuk melabuhkan cintamu.’

Luka hati akan mati, jika jiwa terus menari dan bermimpi… (Ketidakwarasan Padaku-Sheila On 7)

2 thoughts on “CERPEN: Ketidakwarasan Padaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s