Kata Mereka Itu Bukan Warna Perempuan

Aku tak suka boneka, Ry.

Aku tak suka bunga.

Pun warna pink, simbol kefeminiman, aku tak suka.

Terlahir sebagai anak pertama yang memiliki saudara kesemuanya perempuan, dengan papah yang terlampau menginginkan seorang utuh (anak laki-laki) dalam keluarga, mungkin sedikit berpengaruh akan kepribadianku.

Terlahir dengan saudara yang kesemuanya perempuan kadang membuatku iri pada mereka yang punya saudara laki-laki, terlebih kakak. Lalu aku berpura-pura menjadi adik seorang sepupu yang memang tak mempunyai adik perempuan. Sejak kecil aku anggap dia kakak sampai orang menyangka kami memang saudara kandung seibu sebapak. Masa kecil aku habiskan dengan peran sebagai adik, adik seorang laki-laki yang sekolah teknik mesin.

Aku suka biru, Ry. Kata mereka biru bukan warna perempuan.

Bermain bersama kawan, aku jarang main boneka, atau masak-masakan. Main kelereng, favoritku saat itu. Balap sepeda sepulang sekolah TK Alquran. Walau begitu, aku tidak bisa dikatakan tomboy. Aku lebih sering memakai gaun daripada celana. Yah, sebenarnya mama yang membelikan gaun, kebanyakan warna pink.

Kata mereka perempuan itu kerjanya di dapur, Ry. Sayangnya sejak kecil aku tak terbiasa.

Aku lebih bangga bisa membongkar DVD rusak lalu berhasil memperbaikinya, dibanding bisa menciptakan sebuah resep masakan baru. Aku lebih senang membantu papah mengaduk adonan semen dibanding berkutat dengan terigu di dapur.

Sejujurnya aku menginginkan kata itu, Ry. Kata yang begitu lekat dengan seorang perempuan, feminim. Tapi toh dibilang tomboy, aku tak tomboy. Sejak puber aku bisa berdandan, walau sekedarnya. Aku tak bisa memakai maskara, aku tak tahu apa tu eyeshadow, eyeliner, dan istilah lainnya. Maskara pun bahkan lebih dulu ada di meja rias adikku, yang notabene diramalkan akan menjadi yang paling tomboy diantara kami.

Aku punya rok, Ry. Namun kadang aku padankan dengan kaos bola.

Aku membiasakan diri memakai rok sejak kelas 1 SMA, melihat sahabatku begitu anggun mengenakan rok. Tapi tidak berjalan mulus, kadang aku merasa ribet memakai rok. Sampai kelas 3 SMA mood-ku memakai rok masih naik turun.

Entah mengapa aku merasa nyaman bergaul dengan laki-laki, Ry.

Bukan berarti aku mengalami kelainan seksual. Aku masih tertarik pada laki-laki. Tapi entah mengapa aku merasa cocok berada di lingkungan laki-laki, laki-laki baik tentunya seperti teman-temanku sekarang. Awal kuliah aku langsung hampir akrab dengan semua teman laki-laki di kelas. Bagaimana tidak jika pulang kuliah aku sering bergabung bersama mereka, jadi satu-satunya manusia yang memakai rok di gerombolan itu.

Aku memang tak bisa dikatakan feminim, Ry. Namun aku lebih tak bisa dikatakan tomboy. Aku punya bakat untuk jadi feminim. Ya, aku katakan itu bakat. Rambutku panjang layaknya anak perempuan lain. Aku suka berkaca, walau tak berdandan. Aku bisa belajar masak mulai saat ini. Aku bisa membiasakan diri memakai rok lagi. Aku bisa bersikap layaknya seorang perempuan.

Tapi semua perlu waktu, toh nantinya aku akan jadi seorang ibu.

Dari sekian banyak keanehanku, mungkin satu yang paling bisa meyakinkan bahwa aku perempuan. Aku punya perasaan yang peka.Terlalu peka untuk ukuran perempuan yang tak suka pink, tak suka boneka dan tak suka bunga.

Aku terlalu mudah menjatuhkan air mata, Ry.

 

One thought on “Kata Mereka Itu Bukan Warna Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s