Jatuh Cinta (lagi)

Jatuh Cinta (lagi)

by Tiya Maulida ‘khaylila’ Radam on Wednesday, February 16, 2011 at 4:47pm
Aneh.
Entah memang ditakdirkan. Entah karena sudah mulai muak melihat kota berisi jejeran gedung.
Entah faktor seseorang. Entah alasan apalagi. Tapi aku benar-benar jatuh cinta pada tempat itu.
Pada pandangan pertama! Ya, jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu mudahnya aku jatuh cinta? Mungkin tempat itu mengingatkanku pada sejuknya kampung halaman.
Mungkin.
Itu adalah catatan yang saya buat di FB beberapa hari lalu. Jatuh cinta pada pandangan pertama pada sebuah tempat bernama PELAIHARI. Kecintaan saya bermula saat 15 Februari kemarin, bersama Haris, Radit dan Giegie memanfaatkan hari libur untuk jalan-jalan sekedarnya. Pelaihari adalah ibukota dari Kabupaten Tanah Laut, kabupaten di selatan Kalimantan Selatan yang merupakan salah satu tempat yang belum pernah saya datangi. Maka perjalanan kali ini kami khususkan ke Pelaihari. Kebetulan Haris adalah orang Pelaihari, jadi dia yang menjadi guide kali ini.

 

ASAL USUL PELAIHARI

Mengenai asal-usul nama Pelaihari ada beberapa macam informasi antara lain, Bapak Achmad Sjakrani salah seorang tokoh daerah Tanah Laut, mengatakan bahwa nama Pelaihari berasal dari kata “PELARI”, yang maksudnya tempat pelarian pahlawan-pahlawan Banjar dalam menentang Belanda. Namun beliau tidak dapat menjelaskan siapa yang memberikan nama demikian.

Sedangkan berdasarkan sumber lainnya, yakni Arthum Artha seorang sejarawan dan wartawan di Kalimantan Selatan menyatakan dalam bukunya “Gelanggang Tanah Laut“, bahwa nama Pelaihari berasal dari nama seorang yang mula-mula membuka Perkebunan Lada, Mulocco (Malocco) yang kemudian menjadi maluka, yaitu Master Hare.

Pada Zaman penjajahan Inggris, yang menjalankan kekuasaan ialah Alexander Hare. Ia menunjuk salah seorang keluarganya yaitu Master Hare (Mr. Pley Hare) untuk membuka perkebunan lada di Tanah Laut.

Menurut Arthum, nama Pley Hare ini sering diucapkan oleh orang-orang di Tanah Laut dengan sebutan Pelaihari, seperti pada umumnya penyebutan nama-nama orang asing lainnya di Tanah Laut, misalnya Alexander menjadi Alikandar dan Mulocco menjadi Maluka.

Pada zaman Belanda, Kantor Pos menulis “Pelaihari” dan beberapa instansi menulis “Pleihari”. Pada zaman Bupati pertama Sjahril, penulisan nama kota ini diseragamkan menjadi seperti yang kita ketahui sekarang ini yaitu PELAIHARI.

Saya benar-benar serius mengenai kekaguman saya pada pandangan pertama. Buktinya, ini adalah tulisan pertama saya mengenai sebuah kota, dimana kota kelahiran saya sendiri pun belum sempat saya posting.

Kenapa tiba-tiba saya begitu jatuh cinta?

Saya angkat bahu. Seperti sudah saya jabarkan pada catatan di atas, entah karena saya mulai muak melihat deretan gedung bertingkat di Banjarmasin, entah karena saya begitu rindu pada kampung halaman, entah karena seseorang. Tapi yang pasti, pertama kali melihat hijaunya Kabupaten Tanah Laut, tempat itu benar-benar menghipnotis saya.

Ini adalah kabupaten yang benar-benar kaya akan wisata alam, seperti yang saya posting di sini. Wilayah sekitar Bukit Kayangan adalah favorit saya, begitu sejuk, begitu hijau. Asri dan Asli. Lalu saya katakan pada Radit, dkk “saya akan jadi orang pertama yang marah jika daerah itu didirikan gedung-gedung bertingkat“.

Tata kotanya juga bagus. Di dekat SMAN 1 Pelaihari, salah satu tempat yang sempat saya kunjungi 15 Februari lalu, terdapat berbagai kantor-kantor pemerintahan. Dikumpulkan di satu tempat saya rasa akan memudahkan pemerintahan, lalu saya ingat susahnya mendapati berbagai kantor dinas di kota saya sendiri.

Dan tiba-tiba saja, saya bercita-cita tinggal di Pelaihari, atau tempat apa pun yang seperti Pelaihari.

One thought on “Jatuh Cinta (lagi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s