CERPEN: (P)UJIAN

(cerpen yang alhamdulillah mendapatkan tempat terbaik di acara Pekan Bahasa oleh prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UNLAM, Mei 2013)

(P)UJIAN

Oleh: Tiya Radam

Ratusan anak berseragam putih abu-abu yang menggila sedang menggelombang di belakangku. Dengan parang, kayu dan berbagai benda tajam lainnya mereka terus berlari mengejar. Aku tak habis pikir mengapa mereka berubah menjadi seberingas itu. Aku terus berlari sekuat tenaga, menyusuri gang-gang sempit pemukiman warga yang anehnya sekarang seperti kota mati tanpa seekor makhluk pun terlihat.

Keringat membasahi sekujur tubuh, kaki gemetar akibat kombinasi jauhnya jarak yang telah kutempuh dan teriakan-teriakan mengerikan dari anak-anak di belakang. Aku melangkahkan kaki lebih lebar, melompati selokan, menyusup di bawah portal jalan, berbelok dengan cepat, nyaris tergelincir, lalu terhenti.

Jantungku terhenti sekian detik. Jalan buntu!

Derap langkah anak-anak itu terdengar semakin keras. Aku berusaha memikirkan jalan untuk kabur. Tak ada celah, bahkan untuk tikus sekalipun. Tak ada benda yang bisa dijadikan tameng untuk bersembunyi. Aku benar-benar terperangkap.

Mereka datang. Dengan wajah beringas, Samsul, yang berperan sebagai pemimpin kelompok, maju dua langkah dan tepat berada di depan hidungku. Aku melirik sembunyi-sembunyi pada parang yang ada di tangan kanannya. Kualihkan pandangan ke barisan murid-muridku yang dikomandoi oleh Samsul. Ekspresi marah, kesal dan lapar tercetak jelas di wajah mereka, seolah siap melahapku hidup-hidup.

“Sam-sul, Bapak tahu… “ ucapku lirih sambil berusaha meraih tangannya, yang secepat kilat ditangkisnya sembari memotong kalimatku.

“BAPAK TIDAK TAHU!!!” teriaknya.

Aku tersentak. Kupandangi wajahnya yang benar-benar marah. Kalimatku tercekat di tenggorokan.

“BAPAK TIDAK TAHU BAGAIMANA PERASAAN KAMI! KAWAN KAMI MATI!”

“Nak–”

“–Bapak ingin tahu rasanya hah?!? INGIN MATI? BAIKLAH!”

Dalam adegan lambat, aku melihat tangan kanan Samsul mengayun ke atas, yang tanpa sempat kuhindari, telah menancapkan ujung parang ke arah jantungku. Kupegang dadaku yang mengucurkan darah, kutatap mata Samsul yang berkilauan oleh air mata kemarahan. Aku berteriak.


***

Aku tersentak oleh teriakanku sendiri. Perlahan-lahan kubuka mata, gelap. Apakah seperti ini keadaan di alam kubur? Senyap. Gelap. Terasa sempit.

Selagi aku mencerna keadaan dalam kubur, tiba-tiba cahaya menyilaukan muncul entah dari mana. Malaikatkah? Pikirku.

“Mimpi buruk lagi, nak?” dari balik cahaya kulihat malaikat berwujud ibuku berbicara padaku.

“Nak, bangun. Bawa sholat subuh biar tenang!” ucapnya lagi.

Aku menyipitkan mata untuk menghalangi sebagian cahaya yang berdesakan masuk menyilaukan mataku sambil mengumpulkan konsentrasi. Samar-samar nampak dinding biru dengan banyak figura foto menempel padanya. Ini kamarku!

Aku bangkit untuk duduk. Tanganku refleks memeriksa dada kiriku, masih utuh tanpa ada bekas luka sedikitpun. Rupanya adegan mengerikan yang baru saja kualami adalah rentetan teror mimpi buruk yang sudah menyerangku sejak setahun ini.

Aku seorang guru SMA honorer sejak dua tahun lalu. Iya, terbilang baru karena memang baru dua tahun ini aku lulus kuliah. Aku tipikal orang yang mudah dekat dengan orang baru, pun dengan murid-muridku di sekolah. Walau begitu, mata pelajaran yang kuajarkan tetap menjadi momok bagi mereka, meski sudah kuajarkan dengan berbagai cara yang menyenangkan dan bervariasi. Biasa, doktrin lawas yang sudah melekat di semua generasi. Matematika.

Banyak murid yang menemuiku di luar jam pelajaran untuk curhat tentang berbagai hal.

“Kenapa tidak curhat ke guru BK saja?” tanyaku tiap kali.

“Takut, Pak. Lebih enak cerita ke bapak aja, lebih bisa ngerti kita,” jawab mereka.

Memang, guru BK di sekolah rata-rata sudah berumur. Mungkin faktor itu yang membuat anak-anak menjadi segan untuk bercerita kepada mereka, selayaknya tugas guru konseling yang membantu siswa yang memiliki masalah.

Aku sendiri tidak keberatan dengan banyaknya anak yang menjadikanku tempat curhat, karena sejak sekolah pun aku sudah menjadi ‘tempat sampah’ bagi teman-temanku. Dan lagi, aku paham alasan anak-anak itu lebih memilihku ketimbang guru BK. Faktor umurku dengan mereka yang tidak terpaut terlalu jauh membuat mereka lebih nyaman, karena bisa menganggapku sebagai temannya. Setidaknya begitu jalan logikaku, sebagai orang yang pernah muda.

Hanya saja aku khawatir dengan pandangan guru-guru senior terhadap kedekatanku dengan banyak murid, terlebih murid perempuan, yang bilangannya memang lebih banyak dibanding murid laki-laki. Kekhawatiranku bukan tanpa alasan, sekali aku pernah mencuri dengar guru yang diam-diam membicarakanku.

“Mestinya kan guru jadi panutan kan ya, ini malah dekat-dekat dengan murid…”

“Yaaa biasalah guru muda, ya gitu….”

Kubiarkan saja, karena mereka tidak tahu bagaimana hubunganku dengan murid-murid yang sebenarnya. Toh, jika aku jelaskan kepada mereka, belum tentu pandangan mereka berubah.

***

Ada satu muridku yang hampir setiap hari curhat denganku. Namanya Dina, murid tahun terakhir dari jurusan Ilmu Sosial. Meski aku tak pernah mengajar di kelasnya, dia mulai ikut-ikutan bercerita denganku sejak menemani Dini, saudara kembarnya di kelas Ilmu Alam, untuk konsultasi masalah PR.

Berbagai hal sudah pernah diceritakannya. Tentang kesulitannya dalam mencerna pelajaran Matematika, tentang pandangan miring orang lain tentangnya yang begitu berbeda dengan kembarannya, tentang orang tuanya yang terkesan menganak-emaskan Dini, bahkan tentang teman laki-laki yang sedang dekat dengannya.

“Jadi, tiap kali belajar di kelas saya nggak konsen, Pak. Gara-gara ada Sakti. Bawaannya jadi gugup terus, apalagi dia duduk di samping saya,” keluhnya suatu hari.

“Lah, mestinya kan kamu bisa lebih semangat buat belajar, toh?” kataku.

Dia memilin ujung rambutnya sembari melakukan gerakan-gerakan aneh, “Saya malu, Pak.” Dia terkekeh sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. Aku ikut tersenyum, aneh sekali remaja yang sedang kasmaran ini.

Dari sekian banyak hal yang ia ceritakan, aku menaruh perhatian pada masalah psikologinya. Terlahir sebagai kakak yang lebih tua satu jam dari Dini, yang memang kuakui sangat cerdas, membuat Dina terlihat begitu tertekan karena mempunyai kemampuan akademik yang lebih rendah dibanding kembarannya. Bukan hanya teman mereka, orang tuanya pun sering memperlakukan mereka dengan berbeda, aku Dina.

“Kalau lagi musim ulangan, saya sering disuruh mencontoh Dini, yang rajin belajar. Padahal saya juga belajar, kok. Kalau hasil ulangan sudah dibagi, nilai saya selalu dibandingkan. Padahal kan pelajaran kami memang beda.” ungkapnya.

Dia terdiam sejenak sebelum menyambung, “Bahkan sejak pembagian jurusan, dan saya masuk ke kelas sosial, perlakuan orang-orang mulai berbeda, Pak. Seolah-olah saya adalah Dini dalam versi yang gagal.”

“Jadi, kamu menyesal sudah lahir bersama Dini?”

“Tidak, Pak! Sama sekali tidak. Saya sangat sayang dengan Dini, dia juga sangat baik dengan saya. Sering bantu-bantu kalau ada PR Matematika. Dengerin curhat saya kayak gini. Tapi orang-orang…”

Aku kemudian menyarankannya untuk tidak terlalu memikirkan hal itu, karena hanya akan membuatnya semakin tertekan. Banyak orang yang memandang miring tentang kita, berarti mereka selalu memperhatikan setiap progress dalam hidup kita. Ini hanya masalah waktu dan kesalahan persepsi dari orang lain, yang faktanya memang tidak melihat kita seutuhnya. Asal ada niat, kita bisa mengubah hidup kita, juga pandangan orang lain.

“Buktikan saja pada mereka, kamu juga bisa seperti Dini. Jika memang bukan di bidang akademik, kamu bisa gali potensi kamu di bidang lain.”

Dina mengangguk.

***

Aku sedang sibuk merekap nilai ulangan siswa kelas 10 sore itu, ketika Ibu mengetuk pintu kamarku.

“Ada muridmu di luar.”

Kubereskan lembar-lembar kertas ulangan yang berserakan di meja, kumasukkan ke dalam map. Laptop kubiarkan saja dalam mode sleep.

Pemandangan pertama yang kulihat di ruang tamu adalah wajah Dini yang berurai air mata. Feeling-ku mendadak tidak enak. Kuhampiri muridku yang cerdas itu, lalu duduk di sofa di hadapannya. Dia tersentak, mengangkat wajahnya, begitu sofa reot yang menerima beban badanku berbunyi pelan.

“Kenapa, nak?” tanyaku pelan.

Terlihat jelas Dini sedang menahan isak tangisnya ketika menjawab, ”Dina, Pak…”

Dengan terus menangis, Dini menjelaskan bahwa saudara kembarnya kabur dari rumah sejak dua hari lalu. Aku sangat terkejut, baru sadar bahwa beberapa hari ini Dina memang tak pernah lagi bercerita padaku. Di sekolah pun, aku tak bertemu lagi dengannya karena murid kelas 12 sudah libur sejak pengumuman kelulusan Ujian Nasional. Aku tercekik. Pengumuman kelulusan!

“Sejak pengumuman kelulusan, dia terus mengurung diri di kamar, Pak. Bahkan saya tak boleh masuk. Padahal saya ingin menemaninya,” Dini menangis sesenggukan sambil terus menyapu matanya.

Aku merasa kecolongan sebagai guru konseling pribadinya. Aku tahu Dina tidak lulus ujian dan aku mengacuhkannya karena terlalu sibuk menyiapkan naskah-naskah ulangan umum untuk murid-murid kelas 10 dan 11. Aku pikir, Dina kuat, karena meski tidak lulus di Ujian Nasional pertama, masih ada ujian ulang. Ternyata pikiranku terlalu sombong. Dina tidak sekuat yang aku pikir. Dia begitu tertekan, ini puncaknya.

Polisi sudah dihubungi. Orang tua dan teman-teman Dina ikut menyisir lingkungan rumah mereka untuk mencarinya. Hasilnya nihil.

Hari kedua sejak Dina kabur, kabar baru akhirnya muncul. Dina ditemukan Pak Amat, tukang kebun di rumah itu, di gudang bawah tanah dalam keadaan sudah tidak berdaya karena tidak makan berhari-hari. Pergelangan tangannya penuh luka akibat sayatan benda tumpul. Rupanya dia bermaksud mengakhiri hidupnya, namun tidak berhasil.

Dina dilarikan ke rumah sakit saat itu juga, namun napasnya hilang selagi masih di perjalanan.

Seluruh penghuni sekolah berduka. Meski Dina bukan murid yang menonjol di sekolah, kepergiannya yang tidak wajar membuat luka tersendiri bagi orang-orang yang mengenalnya, terlebih aku. Dan nampaknya, bukan hanya aku yang menyalahkan diriku, orang-orang terlihat memandangku aneh sejak kematian Dina.

Aku menerka-nerka alasannya, lalu mendapati sebuah kenyataan yang mungkin dianggap orang lain alasan kematian salah satu murid di sekolahku.

Mata pelajaran dengan nilai paling rendah di hasil Ujian Nasional Dina adalah Matematika, itu fakta pertama. Fakta berikutnya yang mungkin punya benang merah dengan itu adalah rapat guru beberapa bulan lalu. Pikiranku berkeliaran ke momen-momen tersebut.

Suasana rapat terasa memanas, banyak emosi dibanding mulut yang bicara di ruangan ini. Guru-guru senior menjelaskan panjang lebar ketika kutanya alasan mengapa kami harus melakukan hal itu.

“Pak Yasir, ini tuntutan sistem pendidikan kita. Bapak mau melihat anak-anak kita stress karena tidak lulus ujian? Sekolah kita memang sekolah pinggiran dengan sarana yang minim, juga guru yang terbatas. Anak-anak kita sulit menyamakan kemampuan dengan mereka yang ada di sekolah berstandar. Hanya ini satu-satunya jalan kita untuk membantu siswa kita, Pak. Demi kebaikan mereka, orang tua mereka, juga kita. Bapak mau dicap gagal karena anak-anak kita gagal?”

Aku ingin menyahut, namun pandangan puluhan mata yang mengarah kompak ke arahku, membuatku mengurungkan niat itu. Aku masih ingat, setelah membiarkan ruangan hening dalam beberapa saat, aku memilih untuk berdiri dan keluar ruangan tanpa meninggalkan satu kata pun.

Aku tak tahu lagi bagaimana kelanjutan rapat itu. Yang aku tahu, sejak kejadian, hanya beberapa guru saja yang masih memberikan senyumnya setiap kali berpapasan denganku.

***

Aku masih tenggelam dalam lamunan, ketika tiba-tiba muncul siluet Pak Adam. Aku tersentak. Alam menyempit menjadi bilik kecil, ruang kepala sekolah. Aku kembali ke dunia nyata, ke waktu sekarang, yang sedang menempatkanku berdua saja dengan Pak Adam.

“Jadi, bagaimana, Pak? Mau bekerja sama?”

Minggu depan Ujian Nasional. Di depanku, Pak Adam sedang sangat berharap akan kesediaanku melaksanakan ‘tugas’ demi anak-anak didik kami. Bayangan Dina muncul di hadapanku. Pikiranku berkecamuk.

“Apakah ini ujian seorang guru demi mendapat pujian?”

***

Banjarmasin, Mei 2013

 

2 thoughts on “CERPEN: (P)UJIAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s