CERPEN: IP

(Salah satu cerpen di Antologi Wajah-Wajah Kayu Bapak)

IP

Oleh: Tiya Radam

“IP itu nggak penting, toh cuma nilai. Nilai nggak menjamin kecerdasan apalagi kesuksesan. Yang penting gimana kita nerapin ilmunya di kehidupan nyata.”

Kalimat dari Radit di akhir semester dua lalu kembali terngiang di telingaku. Saat itu aku mengeluh karena IP-ku menurun dibanding semester awal. Sebenarnya aku tak menyalahkan pendapatnya, dia benar. IP tinggi tak menjamin kesuksesan seseorang di dunia yang sebenarnya. Tapi bagiku, untuk semester ini, IP benar-benar kunci kelangsungan hidupku.

***

Indahnya hari kembali kujalani dengan semangat gontai. Entah mengapa semester 4 ini terasa begitu berat. Memang tak ada sekarung batu di pundakku. Tak ada yang menindih bahuku. Tapi aku merasa benar-benar begitu tak nyaman menjalani hari-hari semester ini.

Sebagai mahasiswi semester 4 harusnya aku sudah bisa beradaptasi dengan segala kesibukan kuliah. Tapi nyatanya aku seperti kembali menjadi mahasiswi baru yang begitu terbebani dengan tugas kuliah. Pontang-panting, semester ini kujalani dengan tertatih.

Hari ini hari terakhir Ujian Akhir Semester, aku masih saja merasa lesu.

“Khay, semangat dong! Kita jadi ikutan lesu nih liat kamu gini,” kata Dinda beberapa saat sebelum ujian dimulai.

Aku memandangnya dengan malas, lalu kembali menjatuhkan wajah ke halaman buku Himpunan Samar. Bukan belajar, hanya ingin menyembunyikan wajah usangku.

“Iya, Khay. Kalau nggak semangat gimana mau naikin IP, ini hari terakhir lho!” Radit ikut menyemangati.

Sejujurnya aku merindukan semangat itu, tapi entah kenapa kata-kata penyemangat dari kedua sahabatku ini hilang menguap di udara sebelum menyentuhku. Aku benar-benar kehilangan semangat karena masalah IP. Grafik nilai IP-ku menurun tajam. Semester ini ada dua mata kuliah yang harus kutinggal karena IP-ku tak mencukupi untuk mengambil SKS full.

***

Semuanya berawal dari liburan semester ganjil tadi. Aku menyempatkan diri pulang kampung walau hanya satu minggu. Sudah berbulan-bulan aku tak melihat wajah Abah, juga dua adikku yang masih SD.

“Kalau tak bisa ngambil full, kawin aja sudah!” suatu hari Abahku berujar.

Saat itu kami sedang mengobrol tentang kuliahku. Memang nilaiku menurun dibanding semester sebelumnya. Tapi itu harusnya tak lantas membuat Abah semudah itu membuat keputusan.

“Kenapa, Bah? Ulun mau kuliah,” kataku sambil berharap Abah hanya bergurau.

“Kalau Khay tidak serius kuliah, nilai terus menurun, buat apa diteruskan? Lebih baik kawin daripada buang-buang duit. Udin sudah siap melamar, usaha sudah ada untuk diteruskan. Lihat teman-teman sebaya kamu, sudah menggendong anak,” cacau Abah panjang lebar. Aku mulai menitikkan air mata. Rupanya Abah serius.

Abah, seperti kebanyakan orang di kampungku, memang hanya tamatan Sekolah Dasar. Mereka kadang berpikiran terlalu kolot, menganggap kuliah hanya menghambur-hamburkan uang. Aku bisa kuliah pun sebenarnya atas usaha Paman membujuk Abah. Paman bilang dia akan membantu sedikit biaya kuliahku. Setelah Paman berkali-kali memohon akhirnya Abah mengijinkan.

Sore hari lainnya aku duduk di teras depan sambil mengamati kegiatan tetangga-tetanggaku. Rata-rata anak gadis seusiaku memang sudah menggendong anak. Mereka dikawinkan selepas tamat SMP atau SMA. Memang hanya aku anak gadis yang kuliah di kampung ini.

Aku mencintai tempat ini karena di sinilah aku tumbuh. Tapi aku tak suka dengan cara berpikir para orang tua di kampungku, terlalu menutup diri dengan peradaban luar. Saat Abah memutuskan mengirim aku ke kota untuk kuliah pun, para tetangga sempat menggunjingku. Di mata mereka, anak gadis yang pergi ke kota kerjaannya tak jauh dari begituan. Sungguh sempit pemikiran mereka, batinku.

“Kawin aja sudah, biar sambil mengurus adik-adikmu di rumah,” seruan Abah dari dalam rumah membuyarkan lamunanku.

Aku mendesah lesu. Kutatap Niah di seberang jalan, kawan sepermainanku yang sekarang sudah menggendong bayinya. Tak sanggup aku membayangkan kalau nasibku juga akan sepertinya. Harapanku satu-satunya hanyalah IP semester depan, semoga saja nilainya memenuhi.

***

Aku sedang tidur siang saat handphone bergetar membangunkanku. Susah payah kubuka mata dan meraba sisi tempat tidur untuk mencari asal getaran. Akhirnya ia aku temukan di dekat kakiku.

Masih dengan kelopak mata yang berat kubuka sebuah pesan yang masuk. Dari Radit.

Kata bagian akademik, nilai keluar hari ini. Periksa situs fakultas.

Rupanya pikiranku belum sepenuhnya bangun. Butuh dua kali baca sampai aku bisa benar-benar mencerna isi sms Radit. Tanpa menunggu lama, aku langsung menyambar laptop dan modemku. Kubuka situs resmi kampusku untuk memeriksa KRS online.

Dadaku berdegub kencang. Saking gugupnya aku sampai dua kali salah memasukkan NIM untuk memeriksa KRS-ku. Semakin bertambah kesal karena modemku bertingkah di waktu yang salah, loading-nya begitu lama. Aargh! Kucoba untuk lebih bersabar, mungkin traffic-nya sedang sibuk karena ratusan mahasiswa lain juga membuka situs yang sama.

Muncul! Bisakah seseorang memeriksa KRS-ku sehingga aku tak perlu melihatnya langsung? Aku menutup mataku dengan barisan jari yang renggang. Menyempitkan area penglihatan sepertinya bisa sedikit menekan rasa was-was yang sedari tadi hendak meloncatkan jantungku.

Kujajari setiap nilai yang muncul di layar laptopku. Statistik, A. Alhamdulillah. Himpunan Samar, B. Yah, lumayan. Semakin ke bawah, bibirku juga semakin melengkung ke bawah. Mataku mulai berkaca-kaca saat mendapati ada huruf D di KRS-ku. Ya Allah, kenapa?

Akhirnya hujan pun turun dari sudut gelap mataku, semakin deras ketika angka itu benar nyata.

Dua koma sembilan tujuh.

2,97! Apa aku salah lihat? Hanya sebesar itu kah nilai IP-ku? Ya Allah, ini benar-benar mimpi buruk. Bukannya aku tak bersyukur, tapi aku takut bercerita pada orang rumah.

“Kalau nggak bisa ngambil full, kawin aja sudah!”

Suara Abah memenuhi kepalaku. IP dibawah 3,00 berarti lagi-lagi aku tak bisa mengambil SKS full. Benarkah jalan hidupku seperti ini? Meninggalkan bangku kuliah dan semua teman, lalu kembali ke kampung halaman dan menjadi ibu rumah tangga saja? Aku tak sanggup. Aku masih ingin menuntut ilmu di kampus ini.

Aku terus menangis. Tak bisa memikirkan bagaimana hari esok. Tiba-tiba ada yang menggedor pintu kamarku. Aku bangun.

Aku terbangun! Suara Nina, anak kamar sebelah membangunkanku. Ternyata aku tertidur. Dan berarti… tadi adalah mimpi. Mimpi buruk. Kuraba bantalku yang basah karena air mata. Ya Allah, terimakasih. Rupanya aku terlalu khawatir memikirkan nilaiku sampai terbawa ke alam mimpi.

“Khay!” Nina masih memanggilku sambil menggedor pintu kamar. Aku cepat-cepat bangkit.

“Iya, tunggu.”

Aku membuka pintu dan melihat Nina berdiri dengan pakaian rapi. Ah, aku lupa kalau ada janji menemaninya belanja hari ini. Dia menatapku dengan cemberut.

“Maaf, ketiduran, hehe…” kataku beralasan. “Tunggu mandi bentar,” lanjutku.

Aku bergegas masuk kamar dan mandi secepat kilat. Aku tak biasa membuat orang menunggu, apalagi jika sudah ada janji seperti ini. Dengan kilat pula aku berdandan seadanya. Aku sambar handphone-ku di tepi kasur. Kegiatan kilatku terhenti ketika melihat layar handphone. Ada sms masuk, dari Radit.

Inikah yang namanya dejavu?

Kata bagian akademik, nilai keluar hari ini. Periksa situs fakultas.’ tulis Radit dalam sms-nya.

Aku terduduk di tepi ranjang. Perasaanku tiba-tiba tidak enak. Pandangan dan pendengaranku mulai kabur. Samar-samar kudengar Nina kembali memanggilku dari luar, namun kuacuhkan.

Apakah ini mimpi buruk dalam mimpi buruk? Atau memang akan menjadi mimpi buruk yang nyata? Seseorang, bangunkan aku!

 

Banjarmasin, 29 Maret 2011

Keterangan     :

Abah    : Ayah

Ulun    : Saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s