Untung Ruginya Jadi Perempuan

Girls are complicated

Beberapa hari lalu, saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman PPL di sekolah. Tema yang tidak akan lekang hingga ujung waktu: PEREMPUAN.

Yang lelaki bilang, ”Ribet lah binian nih napa-napa salah! Salah pandir dikit, salah. Dibaiki, salah. Digombali, salah jua. ” (Ribet ya perempuan ini apa-apa salah! Salah bicara dikit, salah)

BUJUR!!!” (benar)

Saya, yang perempuan tulen, langsung menimpali. Terang saja sang lawan bicara langsung melongo karena alih-alih menyangkal, saya malah ikut menyetujui pernyataannya.

Pertanyaannya, kenapa?

Alasan saya cukup simpel, karena saya sebagai perempuan sadar diri betapa ribetnya jadi saya. Dengan wujud perempuan yang bawaannya emosional dari sononya, ditambah poin plus saya yang punya banyak kelebihan di bidang over-sensitif-apa-apa-terlalu-dipikirin, saya bisa jadi sampel bagus untuk keribetanisasi perempuanisme ini. Oke, beberapa kata terakhir terinspirasi dari Vicky, biar dikata gak telat gaul :D

Mari langsung saya contohkan beberapa hal yang membuat perempuan bete setengah mati, setidaknya buat saya pribadi, padahal bagi lelaki mungkin hanya hal sepele.

Pakai Baju Apa?!?

Ini yang paling klasik, pasti dialami setiap perempuan. Saya, yang tergolong urakan dan cuek dengan penampilan pun dibuat mendidih karena hal sepele ini. Setiap kali ingin keluar, apalagi untuk acara-acara spesial, hal yang memakan waktu dandan adalah memandang-tumpukan-baju-di-lemari-dan-tetap-tak-mendapati-baju-apa-yang-ingin-dipakai. Berpuluh-puluh lembar baju, masih saja teriak “Aku gak ada baju buat jalan!”.

Kemudian, kebetean di depan lemari ini terbawa-bawa ke hadapan kalian, lelaki.

Pfttt. Bilang pfttt aja. Perempuan. Memang. Begitu. Pfttt.

Dandan Lama, Jalannya Sebentar

Ini hal lain yang membuat saya dongkol setengah mati. Dandannya nyaris sejam, keluarnya cuma setengah jam.

Hellooooo, lelaki. Kalian enak cuma kaosan, paling sisiran dikit, pakai parfum, selesai. Kami, mesti mix and match warna baju, rok, jilbab, sepatu, tas, aksesoris. Pakai bedak standarnya, mungkin beberapa ditambah dengan pensil alis, eyeshadow, maskara, eyeliner, blablabla yang melelahkan, dan akhirnya cuma dibawa jalan setengah jam bahkan tanpa dipuji sedikit pun? Terimalah jika kami badmood dua hari dua malam setelahnya. Setidaknya saya .____.

Karena setiap hal yang berhasil dilakukan perlu mendapat apresiasi, sesimpel apapun itu. Dandan abis-abisan buat keluar cuma 15 menit, misalnya.

Curhat, Malah Ditekan

“Aku begini blablabla… Gimana ya?”

“Lah, itu salah kamu sendiri kenapa malah blablabla”

“……”

Salah satu prinsip dasar curhat sebenarnya adalah untuk berbagi beban dan keluh kesah. Mendapat solusi ataupun tidak, itu hanya poin tambah. Jadi, saya paling benci jika curhat pada seseorang dengan tujuan untuk berbagi isi kepala, malah balik ditekan dan disalahkan atas masalah yang saya punya. Mending saya simpan sendiri daripada berbagi tapi malah balik menambah beban diri!

Badmood Dadakan

Faktor yang ini mungkin hanya terjadi pada saya, karena otak kiri saya mengatakan bahwa hal ini sangat tidak masuk akal untuk membuat mood menjadi buruk. Ada banyak hal yang membuat saya bete, semisal warna baju hari itu tidak matching sama sekali. Atau jilbab yang saya pakai panjang sebelah. Atau lagi baju yang saya pakai terasa tidak nyaman. Lalu saya badmood seharian.

Pfttt.

Masa Lalu

Mungkin ini hal sensitif bagi semua perempuan. Masa lalu pasangannya.

“Tadi si itu, mantan aku SMP, sms aku katanya mau pinjam blablabla”

“Ayahnya si itu, mantanku, kemarin kecelakaan”

Plissss, kami sangat menghargai kejujuran, tapi untuk tema yang satu itu lebih baik disimpan sendiri. Kami mencoba untuk tidak mencemburui masa lalu, hanya saja secuek-cueknya kami, ada rasa yang menyesaki dada tiap kali tema itu dibahas. Sesepele apapun komunikasi yang kalian ciptakan dengan mantan pasangan, belajarlah untuk tidak mengungkitnya di hadapan kami. Sepenting apapun informasi yang ingin kalian sampaikan, jika memang ada sangkut pautnya dengan mantan, cobalah menyusun bahasa yang baik agar kami tidak….. Ah, masalah ini nampaknya tidak ada jalan keluar.

Saya pribadi, sudah belajar untuk memaklumi masa lalu. Hanya saja di waktu-waktu tertentu, tema itu benar-benar membuat mood saya berbalik tiba-tiba. So, please….

Bla Bla Bla Bla

Itu beberapa hal umum yang membuat saya, sebagai sampel perempuan, menjadi dongkol. Banyak hal-hal kecil lain yang memuakkan, misalnya dibuat menunggu beberapa puluh menit, diacuhkan, dinomorduakan, cemburu buta dengan teman-teman ceweknya, hingga ada angin kecil bertiup dan membuat jilbab saya sedikit miring.

Akhirnya saya menyimpulkan….

Girls are complicated. I AM EXTREMLY COMPLICATED, and I really know it. Jadi saya berterimakasih pada orang tua saya, teman-teman dan pasangan saya yang sudah mampu menemani dan memahami saya selama ini, di dalam kerumitan sifat yang saya buat-buat sendiri, yang masih belum bisa saya normalisasi.

Tapi, saya beruntung jadi perempuan karena tak perlu menjadi pasangan mereka, dan dipusingkan dengan hal-hal sepele yang membuat mood mereka berantakan, lalu akhirnya serba salah.

Beruntungnya saya terlahir sebagai perempuan :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s