Kak, Kok Mau Jadi Guru?

ilustrasi_mengajar_v_kartun

Terhitung sejak 2 September 2013, saya resmi praktek sebagai pengajar, namanya Praktek Pengalaman Lapangan (PPL). Jadi, untuk mahasiswa keguruan yang sudah memasuki semester 7, akan diserahkan ke sekolah untuk mengabdikan diri dan belajar secara langsung bagaimana kehidupan sebagai guru.

Saya ditempatkan di SMPN 6 Banjarmasin, salah satu sekolah favorit di kota Banjarmasin, bersama 3 teman lain sesama program studi Pendidikan Matematika UNLAM. Selain itu juga ada 5 orang dari Sendratasik, 4 orang dari Bahasa Inggris dan 5 orang dari Bimbingan Konseling.

Hari pertama, langsung terasa mengharukan karena akhirnya kami bisa ikut upacara bendera hari Senin lagi setelah beberapa tahun sudah tidak mengikutinya. Kesannya sangat luar biasa, karena sekarang kami berada di barisan berbeda. Bukan lagi di kumpulan siswa-siswi, tapi berbaris sebagai pengajar. Oh….

Seminggu pertama hanya digunakan sebagai waktu observasi, mengenal lingkungan sekolah, melihat-lihat bagaimana cara guru mengajar di kelas, dan yang terpenting mencari tahu apakah masakan di kantinnya enak. Hahaha.

Memasuki minggu kedua, dimulailah petualangan sebenarnya. Kelas pertama yang saya masuki adalah kelas 9C. Kesan pertama, cukup tertib dan nyaman untuk diajar. Pertemuan kedua, di minggu yang sama, cukup mengharukan bagi saya. Dimana saat jam istirahat, alih-alih keluar untuk mencari jajan, mereka malah memilih untuk tetap berkutat dengan soal yang saya berikan.

Di minggu ini, saya dan teman-teman juga berkesempatan untuk mengajar kelas 7, tepatnya di kelas G dan F. Kesan pertama, what a….

Benar-benar anak-anak tulen! Berlarian kesana-kemari, saling meneriaki, mencari perhatian masing-masing, sampai-sampai kami kewalahan untuk mengatur.

Suara pun nyaris habis meladeni berbagai pertanyaan yang mereka ajukan. Selain over-aktif bertanya tentang materi pelajaran, mereka juga bertanya hal-hal aneh semacam ini:

“Kak, kakak dari UNLAM?”

“Kak, kakak semester berapa?”

“Kak, Kakak Tiya sama Kakak Maulida bersaudara ya?”

“Kak, twitternya apa? Kak follow aku dong!”

Hingga permintaan semacam, “Kak, yuk gabung jadi NadaLovers,” kata seorang siswi yang bernama Nada. Pffttt.

Tapi akhirnya dia menanyakan hal yang selama ini coba saya ingkarkan.

“Kak, kok kakak mau sih jadi guru?” katanya polos.

Hati saya tersentak, kemudian refleks menjawab.

“Sekarang kakak tanya, yang ngajarin kamu di sekolah siapa?”

“Guru.”

“Yang ngajarin dokter siapa?”

“Guru, Kak.”

“Nah, dokter, pengusaha, menteri, presiden, siapa pun diajar sama guru. Kamu mau jadi apa pun pasti diajar sama guru kan? Gitu.”

Secara teknis, saya tidak menjawab pertanyaan yang dia ajukan. Hehehehe.

“Oh, gitu ya kak. Kalo aku sih maunya jadi pengusaha aja.”

Menjadi guru sebenarnya bukan tujuan saya. Jadi, keberadaan saya di kampus keguruan pun sebenarnya semacam ‘terperosok’. Saya memang menyukai Matematika, tapi tidak dengan mengajar, awalnya.

Diberondong banyak pertanyaan, kami mulai kehabisan akal untuk menguasai kelas, hingga saya mengeluarkan jurus jitu, ANCAMAN.

“Kalo nggak bisa tenang, nggak boleh istirahat!!!” seru saya sekeras mungkin. Tapi ternyata jurus saya tidak mempan, karena mereka malah balik berteriak.

“HOREEEEEEE! Asik lagi, kan nggak perlu keluar duit, kak!”

“Kalo gitu, nggak boleh pulang!!!”

“HOREEEEEEE!”

“Kakak laporin ke Ibu guru nanti!”

“HOREEEEEEE!”

Kemudian saya pingsan di tempat.

Hari-hari berikutnya saya semakin sering masuk kelas 7G dan 7F. Kelas mulai bisa kami kuasai karena mereka sudah mengenal dan dekat dengan kami.

Bertemu di lingkungan sekolah, di luar jam pelajaran pun beberapa dari mereka menyapa dengan polosnya, bahkan ada yang sampa berteriak-teriak, “Kak Tiyaaaa, Kak Tiyaaaa!” sambil cium tangan.

Apa yang bisa saya ungkapkan di sini? Banyak bahagia meletup-letup di dada saya. Ditambah lagi perasaan bangga jika mereka, yang kita ajari begitu antusias dan paham dengan materi yang kita sampaikan.

Hari itu, saya semakin yakin bahwa mengajar memang jalan hidup saya. Meski cita-cita saya tetap menjadi pengusaha, ternyata mengajar punya tempat tersendiri di jiwa saya.

Yang ini saya alami di kelas 8CI, kelas Cerdas Istimewa, dengan istilah lain kelas akselerasi. Sesuai dengan nama kelasnya, anak-anak disini memang sangat aktif dan kreatif. Setiap saya mengajukan pertanyaan, mereka berebutan mengangkat tangan.

“Ada yang masih ingat apa rumus volume kubus?”

Telunjuk-telunjuk berbagai ukuran mendadak mengacung memenuhi ruangan, diiringi teriakan-teriakan khas anak-anak semacam, “Ulun, Kak! Saya! Saya! Ulun! Ulun!”. Lalu ketika saya pilih satu orang, pemilik telunjuk lain kelihatan sangat kecewa. Uh.

DI lain kesempatan, saya coba untuk memberi sedikit guyonan.

“Tetap ya kalau mau jawab angkat tangan dulu, baru boleh jawab.”

Mereka menyimak dan mengangguk-angguk.

“Aaaaapaaaa….” saya sengaja melambatkan dan menggantung pertanyaan. Sesuai prediksi saya, beberapa telunjuk sudah mengacung.

“Lho, pertanyaannya belum selesai. Tunggu sampai pertanyaannya lengkap dong!”

Mereka terbahak menertawakan kelakuan mereka sendiri. Saya ulangi dua sampai tiga kali, tiga kali pula mereka terjebak, lalu terbahak. Saat itu, tanpa bisa dijelaskan, jelas sekali saya sangat bahagia. Entah kenapa….

Kebahagiaan itu sampai terbawa-bawa ke dunia maya, dimana saya memposting beberapa status di facebook maupun twitter tentang pengalaman saya mengajar selama seminggu itu.

“Sudah menikmati jadi guru ya?”

Itu pertanyaan yang kakak ajukan beberapa waktu lalu. Saya hanya tertawa kecil.

Yah, entah guru ataupun bukan profesi saya nanti, setidaknya saya sudah paham bagaimana rasanya mencintai pekerjaan, terutama mengajar.

Setidaknya saya bisa ikut andil di salah tujuan bangsa ini….

….mencerdaskan kehidupan bangsa.”

7 thoughts on “Kak, Kok Mau Jadi Guru?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s