Radam, Sebuah Silsilah yang ‘Kacau’ (bag. 1)

Radam itu apa sih?

Itulah pertanyaan yang paling sering ditanyakan teman baru saya sejak jaman sekolah hingga saat ini. Dan inilah jawaban yang selalu saya ulang-ulang untuk pertanyaan itu:

“Itu ngaran Kai Datu-ku. Keluarga besar, aku keturunan sidin yang kelima.”

Kemudian ditanggapi, “Oh pantas ai aku lihat banyak yang pakai nama Radam, kukira marga.”

“Iyaaa, banyak. Saking banyaknya, bisa ada yang kada kenal hahaha.”

———————————

Begitulah ilustrasi percakapan yang sering saya alami. Tentang nama belakang saya, yang sering dikira marga. Hingga saya selalu ditanya sebenarnya asli mana? Saya jawab, dari tiga generasi ke atas yang saya sempat temui, kami tinggal di Barabai, maka saya pastikan saya asli Urang Banjar.

Radam. Memang nama yang unik untuk digunakan orang Indonesia, apalagi bagi telinga Urang Banjar. Suatu hari iseng-iseng saya googling “Radam”, lalu muncullah ratusan nama orang berkebangsaan asing semacam Radam Schwartz, Allan Radam, Vanessa Radam, Dennis Radam, Jennifer Radam, dll. Percayalah, itu bukan kerabat saya, hehe.

Maka kemudian saya berpikir, apakah orang tua Radam ini terinspirasi dari nama para penjajah? Mengingat beliau pasti hidup di jaman pra-kemerdekaan. Entahlah. Nama orang tua Radam sendiri adalah Tangkas, nama yang juga memiliki makna unik, yang saya bayangkan beliau adalah sosok pejuang dengan badan tegap dan berkeberanian penuh.

Darimana dan sejak kapan nama Radam bertengger di belakang nama saya?

Dimulai dari Ramadhan tahun 2004, saat itu saya baru masuk SMP, terdengar kabar bahwa Idul Fitri nanti ada acara halal bihalal keluarga Radam. Tidak banyak hal yang saya ingat, tapi saya ingat betul ketika hari halal bi halal, kampung kami nyaris kosong. Semua yang punya mobil, memakai mobilnya untuk berangkat. Yang lainnya menyewa beberapa angkot untuk berangkat ke Gedung Djoeang Barabai, tempat acara dilaksanakan. Saat itu saya takjub, jika ini memang pertemuan keluarga, ini berarti satu kampung saya bersaudara semuanya dong? Memang sebelumnya saya tahu bahwa si itu adalah sepupu nenek, si ini adalah sodara datu, tapi saya tidak membayangkan bahwa kampung kami akan kosong jika keluarga besar ini pergi ke suatu acara.

Sesampainya di Gedung Djoeang, saya makin takjub. Sudah banyak orang berkumpul, bermacam rupa, berbagai umur. Dari yang pakaiannya glamour, cincin bersusun, emas menggantung, turun dari mobil mewah hingga beberapa keluarga yang turun dari angkot, sama seperti kami. Ini pertemuan keluarga atau mau demo? Pikir saya.

Dalam ruangan sudah bersusun kursi-kursi yang tidak mampu saya hitung jumlahnya. Berjejer di belakang masing-masing meja panjang yang di atasnya tertulis nama-nama berbeda seperti Katusnah, H. Wahid, H. Halui, dll. Di kursi terdepan, duduk para tetua, laki-laki perempuan, yang beberapa wajahnya saya kenali sebagai orang yang sering bersilaturahim ke rumah Kai. Belakangan, saya tahu bahwa mereka adalah keturunan-keturunan ketiga dari H. Radam, dan nama-nama seperti H. Wahid tadi adalah nama-nama anak dari H. Radam, yang kemudian disebut rumpun.

H. Radam punya tujuh anak, diantaranya H. Wahid, H. Halui, dan Katusnah (yang lainnya saya lupa, nanti saya sunting lagi tulisan ini ketika melihat buku silsilah). Saya sendiri berasal dari dua rumpun sekaligus. Kai adalah keturunan kedua dari Katusnah, sedangkan Nini adalah keturunan kedua dari H. Wahid. Jadi kai-nini masih ada hubungan saudara? Iya, meski agak jauh.

Hari itu saya duduk di jejeran kursi di belakang meja bertuliskan Katusnah. Kai duduk di kursi paling depan, bersama saudara-saudara beliau yang lain. Disitu saya tahu, ternyata keturunan H. Wahid memerlukan kursi paling banyak, itupun sudah dikurangi keluarga besar kami yang seharusnya juga bisa duduk di rumpun H. Wahid.

Acara kita skip, karena membosankan bagi saya yang saat itu masih anak-anak dan belum kenal siapa-siapa. Di akhir acara, kami diberi buku silsilah keluarga Radam, satu untuk satu keluarga. Di lembar kedua buku silsilah, saya lihat ternyata Kai sayalah yang menjadi penggagas buku silsilah ini. Bangganya :)

Sejak hari itu, saya sering membuka buku silsilah sederhana itu, melihat-lihat ribuan nama yang tertulis disana, dan mendapati nama-nama familiar, teman sekolah, teman masa kecil, yang ternyata adalah saudara saya.

….karena terlalu panjang, maka saya bagi menjadi dua tulisan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s