Radam, Sebuah Silsilah yang ‘Kacau’ (bag. 2)

 

Ilustrasi 241112sumber ilustrasi

 

Jika ingin membayangkan bagaimana keluarga Radam tumbuh dan menyebar, lihatlah ilustrasi pohon di atas. Kita anggap batang pohon sebagai Radam, sedangkan dahan, ranting hingga pucuknya adalah keturunan-keturunan Radam hingga sekarang. Anggap saya sebagai daun yang berada di dekat pucuk, dan pucuk adalah keponakan-keponakan saya yang baru lahir, generasi terbaru, generasi keenam di rumpun H. Wahid.

Begitulah keadaan silsilah kami, luar biasa banyaknya. Maka tidak heran jika para daun ada yang tidak saling mengenal lagi. Apalagi sekarang para penggagas dan tetua-tetua dari masing-masing rumpun keturunan banyak sudah meninggal, maka tersisalah orang-orang muda yang dalam ‘kebutaan’ berusaha menyatukan dan menghimpun kembali keluarga besar ini. Untunglah ada jejaring sosial, dari sanalah keturunan Radam muda saling menyapa, meski tidak pernah bertatap muka karena domisili yang berbeda-beda.

Oh iya, setelah halal bihalal keluarga Radam yang pertama, tiga tahun kemudian, ketika saya baru masuk SMA, diadakan halal bihalal kedua. Disini banyak terungkap jalinan saudara yang mengejutkan, ternyata guru SMA saya, teman SMA dan beberapa adik kelas saya ternyata masih saudara saya di keluarga besar Radam. Kenyataan ini makin membuat penasaran saya akan saudara-saudara jauh lainnya, hingga saya menempelkan nama Radam di belakang nama akun jejaring sosial saya. Itulah awal mula terciptanya cyber group Keluarga Besar Radam, yang seperti saya sebutkan di atas, didominasi oleh orang-orang muda yang baru kenal dan bahkan tidak pernah saling bertemu.

Sekarang sudah terbilang sekitar 6 tahun sejak pertemuan terakhir. Kaum muda Radam begitu menantikan pertemuan keluarga besar selanjutnya, namun terhalang masalah koneksi. Sekarang para tetua keluarga sudah tiada, agak sulit bagi kami untuk menelusuri silsilah hingga ke bawah, yang mana orang-orangnya pun telah tersebar di seluruh Indonesia.

Alhamdulillah keadaan ini terbantu dengan semakin mudahnya mengakses internet saat ini. Bahkan salah satu anggota muda, yang kuliah di bidang IT akhirnya berinisiatif untuk membuat website khusus untuk silsilah Radam yang nantinya bisa disunting dan diakses secara online bagi semua keturunan Radam. Semoga cepat terealisasikan. Aamiin.

Dimana ‘kekacauan’ silsilahnya?

Nampaknya postingan ini tidak akan sesuai dengan judul jika ‘kekacauan’ silsilah belum saya jelaskan secara mendalam. Terlalu larut dalam kisah keturunan yang banyak, hehe.

Jadi, konsekuensi dari banyaknya keturunan, terjadilah kekacauan silsilah. Kekacauan yang saya tulis dalam tanda kutip itu, maksud saya adalah kekacauan tingkatan penyebutan dalam silsilah. Masih bingung? Oke saya beri contoh masalah di keluarga saya.

Nini saya punya 10 anak, dimana anak terakhir lahir setelah cucu pertama berumur sekian tahun. Di generasi berikutnya, masalah kembali terulang dimana acil saya melahirkan anaknya (sepupu saya) ketika sepupu saya yang lain sudah punya anak (ponakan saya) yang duduk di bangku SD.

Inilah yang saya sebut kekacauan, dimana ponakan saya yang SD tadi memanggil saya dengan sebutan kakak alih-alih acil, seperti seharusnya. Kemudian, sepupu saya yang karena jarak umurnya berbeda puluhan tahun dengan saya, memanggil saya dengan sebutan acil, padahal seharusnya kakak karena satu garis generasi. Sampai sini paham?

Hmmm, bagaimana menjelaskannya ya? Jadi jika sebenarnya ada garis tegas antar generasi, dimana mereka yang berada di tingkatan generasi yang sama adalah sebaya (tinggal perbedaan umur saja yang membedakan panggilan kakak atau adik), kemudian memanggil generasi di atasnya dengan acil atau paman, lalu memanggil generasi di atasnya lagi dengan sebutan kai atau nini.

Nah, permasalahan banyaknya keturunan ini menyebabkan bias sehingga garis pembatas antar generasi menjadi rusak. Ada orang di sebuah generasi yang malah lebih muda dari generasi di bawahnya, dan ada juga yang malah lebih tua dari generasi di atasnya. Sehingga terjadilah kerancuan dalam penyebutan panggilan.

“Kamu harusnya acil aku lhooo, tapi karena kita seumuran yaaa pakai aku-ikam aja seperti teman sebaya.”

Begitulah kira-kira….

Itu baru contoh di keluarga saya. Jika ruang lingkupnya kita perbesar hingga seluruh keturunan Radam, bayangkan betapa ‘kacau’-nya silsilah kami. Sebagai contoh, ada saudara yang seharusnya saya panggil ‘paman’ padahal dia lebih muda dari saya, muehehehe.

Entah bagaimana nanti silsilah online di website Keluarga Besar Radam, apakah garis-garisnya akan ikut kacau? Semoga tidak. Tapi terlepas dari bagaimana kacaunya silsilah kami, saya bangga menjadi salah satu bagian dari Keluarga Besar Radam :)

One thought on “Radam, Sebuah Silsilah yang ‘Kacau’ (bag. 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s