Dari Musim Durian Hingga Musim Nikahan

“Anakku tiba-tiba minta dibelikan sepatu roda, masa?” kata rekan kerja saya suatu hari.

“Laah, kan memang lagi musimnya.”

Yap! Di kota saya memang lagi ngetrend lifestyle musiman. Masih ingat beberapa tahun lalu, ketika sepeda fixie, yang bannya tipis kayak keripik itu menjamur dimana-mana. Dari anak SD sampai orang dewasa, masing-masing punya satu. Dari pagi sampai sore, bahkan malam, ada saja yang lewat dengan sepeda warna-warni itu. Bahkan ada komunitasnya, ding! Komunitas abege, yang tiap jalan gerombolan cekikikan dengan sepatu sneakers, pakai headphone dan gadget di tangan, ada. Atau yang lebih gede, remaja nyaris duapuluhan, bahkan yang tua macam bapak-bapak dua anak. Semua ada komunitasnya.

Kemudian mereka satu-satu mulai menjual fixie-nya, kenapa? Karena jamannya fixie sudah lewat, sekarang musimnya sepeda gunung. Dari anak kecil hingga dewasa, ibu-ibu cantik sampai bapak-bapak berseragam PNS asik gowes saban hari pakai sepeda gunungnya. Ada komunitasnya juga, sering kumpul di taman kota.

Nah, yang teranyar, ini lagi musim sepatu roda. Di Banjarmasin sendiri, komunitas sepatu roda ini sudah menjaring semua kalangan. Dari anak yang baru belajar jalan satu dua langkah, sampai kakeknya mungkin, hihi. Di kota saya, Barabai, sepatu roda baru merambah ke kalangan batita hingga umuran SD sih. Jalan kemana aja selalu ketemu sama anak krucil-krucil main sepatu roda dengan sebayanya. Di jalan raya! Bahaya, deks. Hiks.

Itu baru musiman lifestyle. Ada lagi musim lain yang juga heboh-hebohnya, yaitu musim buah. Buat saya yang punya berbagai macam jenis buah di halaman rumah, musim buah ini anugerah banget. Mau Rambutan, tinggal nyomot di depan rumah. Gak usah naik pohon, karena dia cangkokan. Mau Mangga? Ada juga di samping rumah. Jeruk? Duku? Srikaya? Sawo? Durian? Ada. Kalo Pisang jangan ditanya lagi, karena itu gak musiman, hihi. Saking banyaknya punya tanaman buah, sampai eneg makannya. Kalau Durian saya mulai jaga-jaga sih, soalnya sudah kejadian beberapa kali, tiap kebanyakan makan Durian pasti sakit. Jadinya, maaf ya Durian, saya sudah tak terlalu cinta lagi.

Tapi yang paling penting dan paling perlu ditanggapi serius sekarang ini adalah, MUSIM NIKAH!

Entahlah ya, entah karena saya juga sudah ada keinginan menikah, atau ini memang sedang mayoritas umur-umurnya untuk menikah. Tiap minggu perginya ke mantenan aja. Undangan numpuk di rumah, kalo gak dari teman seangkatan, dari adik kelas atau kakak kelas beda satu dua tahun. Dalam tahun 2015 yang belum genap tiga bulan ini saja, sudah habis jari tangan buat ngitung undangan pernikahan. Gak perlu saya sebut satu-satu kali ya. Pokoknya tiap ketemu kawan, bahasannya pasti eh-si-anu-udah-nikah-lho atau eh-undangan-si-inu-udah-nyampai-kamu-belum dan sebagainya.

Sebagai Pengingat Usia

Selamat datang di dunia orang dewasa.

Setelah lulus kuliah dan akhirnya masuk dunia kerja, saya masih setengah hati untuk menyatakan bahwa saya sudah berada di dunia orang dewasa. Secara meski sudah punya penghasilan sendiri, saya masih tinggal dengan orang tua, masih jadi tanggungan mereka, masih jadi anggota dalam kartu keluarga mereka dan masih sering ribut dengan adek. Tapi kemudian, sadar atau tidak, bertebarannya tulisan “happy wedding” di media sosial, mulai membuat persepsi baru di diri kita. Dunia orang dewasa, cepat atau lambat, akan datang sendiri tanpa diminta.

Teman-teman yang dulunya cekikikan satu kelas dengan kita, sekarang mulai bahas tentang dimana beli popok bayi yang murah, dimana dokter yang bagus kalo anaknya lagi sakit, apa aja yang mesti dimakan biar ASi-nya bagus, kalo lagi isi bagusnya konsumsi apa, atau gimana sih tips biar suami betah di rumah. Dan yang paling merajalela di kalangan high quality single, kapan nikah?

Pernikahan.

Jika dulu, jaman SMA misalnya, kita mikir bahwa menikah adalah cara untuk menyatukan dua hati yang saling cinta (yaelaaaah), sekarang sudah beda. Menikah bukan hanya perkara menyatukan dua perasaan, tapi tentang menyatukan dua keluarga. Menikah bukan perkara memutuskan hidup bersama, bahagia hingga akhir masa.

Jauh lebih penting dari semua itu, menikah adalah menjalankan sunnah. Sebagai lumbung pahala. Sebagai wadah agar bisa beribadah bersama-sama. Bukan hal yang sepele karena pernikahan bukan hanya satu dua tahun, tapi selamanya.

Kemudian, ketika kita melihat teman-teman yang dulunya menikah muda, akhirnya memutuskan untuk berpisah, ada satu pelajaran lagi yang bisa kita ambil. Siapkah kita saling melengkapi satu sama lain? Tahu betul kekurangannya, namun tidak mencelanya. Tahu dimana kekurangannya, namun berusaha untuk melengkapinya dengan kelebihan kita. Bersama-sama meningkatkan iman dan taqwa, hingga kebersamaan bukan hanya di dunia tapi hingga akhirat-Nya. Dan terpenting untuk kaum hawa, mematuhi suami seperti kita mematuhi orang tua, sebagai ladang amal untuk bekal nantinya.

Ah, sepertinya saya mulai melankolis ya? Hihi.

“Mau rezekinya lancar? Menikahlah.”

“Mau terus sehat? Menikahlah.”

Itu kata senior saya di kantor.

Dari ngomongin sepatu roda, sampai buah durian, sampai musim nikahan ini, intinya sih cuma satu: waktunya akan datang.

Happy wedding buat sahabatku Sandy Veonita, by the way. Semoga Mas Agus bisa membimbingmu menuju Surga-Nya. Aamiin.

ndy

Saya sendiri? Hanya berdo’a semoga rencana saya sejalan dengan rencana-Nya. Aamiin.

Jadi, kapan nikah?

One thought on “Dari Musim Durian Hingga Musim Nikahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s