Berjilbab Membuatku Malu

Memakai jilbab bukan hal baru untukku. Aku lahir di keluarga muslim, di daerah dengan mayoritas muslim taat, dimana kalian bisa menemukan pondok pesantren hampir di setiap kecamatan. Meskipun bukan dari keluarga pemuka agama, tapi alhamdulillah hampir semua keluargaku yang perempuan telah melaksanakan perintah untuk menutup aurat. Jadi sejak kecil, aku sudah tidak asing dengan jilbab.

Aku ingat betul, pertama kali memakai jilbab ketika ingin mendaftar SMP. Aku lupa kenapa, tapi seingatku itu keinginan sendiri, bukan disuruh mama. Sehingga saat membuat seragam pun, aku dibuatkan seragam panjang plus jilbabnya.

Saat itu, tahun 2004, siswi-siswi sekolah di daerahku belum diharuskan berjilbab. Jadi saat kelas 1, siswi berjilbab masih minoritas, termasuk aku. Hingga akhirnya sedikit demi sedikit, seiring waktu keadaan berbalik, yang tidak berjilbab tinggal hitungan jari.

fotoku saat SMP

fotoku ketika SMP

Perjalananku dalam menutup aurat stagnan hingga kuliah. Sejak SMP, aku memang memakai jilbab, namun selalu dengan padanan jeans dan baju kaos. Begitu hingga kuliah. Kadang pakai baju kaos ketat, kadang lengan baju seperdelapan, hingga jilbab berbahan tipis. Begitulah pakaianku ketika berjalan keluar rumah. Kecuali di perkuliahan dimana kampusku memang mewajibkan kami memakai jilbab dan rok.

Ada beberapa momentum penting dalam perjalananku hingga saat ini.

Pertama, ketika aku memutuskan untuk selalu memakai rok dan menghibahkan semua celana jeans kepada orang lain, namun masih menyimpan satu dua celana kain longgar. Niat ini sebenarnya sudah kugaungkan di pertengahan kuliah, namun baru terwujud di semester akhir kuliahku.

Sayangnya, aku masih terbawa arus zaman. Saat itu sedang trend rok span yang tentu saja ada sedikit belahan di belakangnya, agar bisa berjalan. Jadi, aku selalu memakai rok, tapi dengan mode saat itu, dengan jilbab segiempat bahan paris tipis yang ujungnya kadang bahkan kusampirkan ke bahu. Meminjam istilah sekarang, semacam jilboobs.

Pada saat itu, kalau tidak salah tahun 2013 akhir, trend wanita berhijab sedang hangat-hangatnya. Trend hijab disini, disebut “hijabers”, adalah mereka yang berhijab namun dengan sentuhan modern. Pashmina adalah pemeran utamanya. Padanannya biasanya celana kain, atasan berlapis cardigan, dan pashmina berlilit. Aku pun sempat terbawa dengan berbagai macam hijab bertutorial lilit sana lilit sini itu. Sampai aku bingung harus memadankan pashima motif apa agar sesuai dengan atasan ini dan bawahan itu. Belum lagi memikirkan harus memakai pashmina dengan model seperti apa ya? Tutorialnya bagaimana ya?

Kedua, momen ketika aku memutuskan untuk benar-benar istiqomah memakai jilbab.

Jadi selama ini, selama hampir 10 tahun berjilbab, masih ada waktu-waktu inkonsisten dalam menutup aurat. Misalnya, ketika menyapu halaman, ketika berjalan kaki ke rumah sebelah (rumah nenekku) atau duduk-duduk sore di teras rumah. Kegiatan-kegiatan kecil di luar rumah macam itu kulakukan tanpa memakai penutup kepala. Artinya, selama 10 tahun, jilbab hanya kugunakan jika berjalan keluar, ke tempat yang jauh.

Kemudian suatu hari, peringatan itu datang. Saat itu aku sudah lulus kuliah dan menganggur di rumah sekitar 4 bulanan, sehingga pekerjaan rutinku adalah beberes rumah dan berselancar di dunia maya, mengecek setiap media sosial yang kupunya.

Itu sekitaran bulan Sya’ban ketika aku melihat seseorang memasang display picture BBM yang begitu menusukku, hingga secara tak sadar aku menangis. Gambarnya adalah seorang anak perempuan dan ayahnya, kemudian terdapat tulisan kurang lebih:

Selangkah anak perempuan keluar rumah tanpa menutup aurat, selangkah pula ayahnya ke neraka

Tidak cukup sampai di sana, selang beberapa hari aku kembali melihat sebuah gambar seorang laki-laki tua dengan tulisan kurang lebih:

Banyak perempuan yang ingin berjilbab setelah menikah, karena tak ingin suaminya menanggung dosanya. Lalu, bagaimana dengan ayah, nak? Yang menanggung dosamu sejak engkau baligh hingga menikah?

Beberapa waktu berikutnya, kata-kata dalam gambar itu selalu terngiang di pikiranku. Hingga aku kemudian googling segala macam hal tentang perintah menutup aurat, sampai akhirnya kuputuskan sejak Ramadhan akan menyempurnakan kewajibanku menutup aurat. Memakai jilbab kemana pun, bahkan di rumah jika ada yang bukan mahram bertamu.

1 Ramadhan, seperti biasa, ba’da subuh aku menyapu halaman rumah, dengan jilbab terpasang di kepalaku. Awalnya orang rumah bingung, sampai saudaraku bertanya, “Mau kemana kak? kok pakai jilbab?”. Tapi alhamdulillah, seiring hari mereka mulai terbiasa dengan penampilanku.

Langkah awal ini alhamdulillah juga memberi dampak baik bagiku, aku bertekad untuk menjadi muslimah yang lebih baik tidak hanya dari penampilan. Alhamdulillah, Ramadhan kali itu aku berhasil membuat perubahan-perubahan positif.

Momentum ketiga, adalah ketika aku memutuskan untuk menyempurnakan lagi pakaianku, dengan pakaian syar’i.

Jadi ceritanya, setelah momentum kedua, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan syariah, dimana bagiku ini adalah salah satu titik yang juga memantapkanku untuk bertekad menjadi lebih baik. Sebagai orang yang bekerja di lembaga syariah, tentu aku tak ingin mempermalukan diri dengan berpakaian yang tidak syar’i. Entah kenapa, sejak wawancara awal aku begitu yakin akan diterima di perusahaan ini, aku berdo’a jika perusahaan ini memang baik bagiku, maka aku meminta agar diberi keyakinan oleh-Nya. Saking yakinnya, aku bahkan menolak beberapa tawaran pekerjaan dari perusahaan lain. Nanti akan kuceritakan kronologisnya di postingan lain.

Di perusahaan ini aku melihat banyak sekali rekan seperusahaan, muslimah-muslimah cantik yang selalu istiqomah menutup aurat. Memang saat jam kantor, seragam kami sama. Namun di luar kantor, terlihatlah mereka yang benar-benar berpakaian syar’i. Entahlah, aku selalu nyaman melihat mereka, cantik yang berbeda, bukan karena make up, namun pakaian syar’inya.

Selain alasan teman kantor, pekerjaanku di perusahaan ini juga sedikit banyak memberikan pengaruh baik untukku. Aku beberapa kali dituntut untuk menyambangi sekolah islam terpadu di kotaku, di sana aku bertemu dengan para pengajar –disebut ustadzah—yang pakaiannya, Masya Allah, membuatku malu. Jilbab mereka sungguh lebar, baju mereka panjang hingga menutup bagian tubuh. Cara mereka berbicara pun memakai istilah anna – antum – antunna – ukhti. Sungguh, aku malu sekali berada di lingkungan itu. Ditambah beberapa siswi sering memanggilku ustadzah, sembari mencium tanganku, karena mereka mengira aku salah satu pengajar baru di sana.

Ya Allah, hamba malu memakai jilbab ini. Kami sama-sama telah menutup aurat, namun jauh sekali perbedaannya. Melihat mereka, sungguh sejuk, berbalut kesederhanaan. Sementara aku, masih sibuk memikirkan mode pakaian.

Di momentum ketiga ini, cukup banyak tahapan yang aku lalui. Awalnya, aku mulai mencoba melebarkan jilbab saat bekerja, tidak terlalu lebar tapi lewat lah dari bahu. Baju-baju yang sekiranya membentuk badan juga kutinggalkan, alhamdulillah dari dulu aku memang tidak nyaman memakai baju yang ngepas badan, jadi untuk hal ini lebih mudah kulakukan.

Beberapa waktu berikutnya, kutingkatkan lagi dengan lebih melebarkan jilbab hingga siku. Aku juga membiasakan diri memakai manset tangan juga kaos kaki. Di fase ini mulai terasa sulit, karena stok jilbab di rumah mayoritas bahan paris yang tipis, yang mana jika dilebarkan jatuhnya akan menerawang. Tapi alhamdulillah wa syukurillah, ada 2 jilbab lama berbahan tebal punya mama. Jadilah selalu itu yang kupakai kerja. Jika tidak, jilbab paris kudobel agar tidak menerawang.

Teman-teman di kantor mulai memanggilku dengan “ustadzah” karena jilbab lebar yang kupakai. Awalnya aku merasa terganggu, karena dari nada bicara mereka terkesan sedikit mengejekku. Tapi lama kelamaan aku merasa nyaman, bukankah itu do’a? Bukankah sebutan itu baik? Mengapa terganggu jika dido’akan menjadi baik? Aamiin.

Aku juga mulai mengikuti akun-akun islami di twitter, instagram juga facebook. Lewat instagram lah yang kurasa lebih banyak memberi pengaruh padaku. Awalnya hanya melihat-lihat online shop pakaian syar’i, karena ingin punya pakaian yang lebih baik. Masya Allah, ketika beberapa kali bertansaksi di online shop syar’i, rasanya senang sekali ketika dipanggil ukhti, kemudian berbincang dengan campuran bahasa arab dan bertabur do’a. Ya Allah, ingin sekali belajar bahasa Arab. Semoga kesampaian bisa fasih bahasa Al-Qur’an itu.

Dari beberapa akun olshop itu, kemudian aku terbawa ke akun-akun lain yang banyak sekali memberiku ilmu baru. Yang semakin membulatkan tekadku untuk menyempurnakan pakaian. Aku juga bertemu beberapa akun individu yang juga berbagi pengalamannya berhijrah, ataupun yang masih dalam proses.

Di fase ini, aku juga mendapat ilmu baru tentang istilah-istilah pakaian. Ternyata yang sering aku sebut dengan jilbab atau kerudung, namanya adalah khimar. Sementara jilbab sendiri adalah istilah untuk keseluruhan pakaian yang menutup aurat kita. Jadi selama ini aku salah persepsi tentang istilah-istilah ini. Ah, makin menguatkan minatku untuk belajar Bahasa Arab.

Alhamdulillah, sekarang aku mantap menghijrahkan diri ke arah yang lebih baik. Namun dengan penampilanku yang sekarang, bukan berarti aku mendiktekan diri sebagai muslimah yang paling baik dan paling benar. Tentu ada orang lain yang amalannya lebih banyak dariku, meskipun dia belum menutup aurat dengan sempurna. Juga sebaliknya, tentu ada keburukan yang masih kumiliki meskipun aku telah memutuskan untuk menutup aurat rapat-rapat. Masih banyak hal-hal dan ilmu agama yang harus kupelajari. Aku masih perlu sahabat-sahabatku, entah mereka yang sudah hijrah terlebih dahulu, maupun yang masih meniti langkah ke arah ini.

Seperti sebuah tulisan yang pernah aku baca, yang kurang lebih:

Banyak perempuan yang menunda untuk berjilbab dengan alasan memperbaiki akhlak dulu, menjilbabkan hati dulu. Lalu bagaimana jika akhlaknya tidak baik-baik? Apakah seumur hidup memungkiri jilbab? Justru berjilbablah terlebih dahulu, maka dengan begitu otomatis kita akan berusaha memperbaiki akhlak diri. Kenapa? Karena kita malu dengan jilbab kita. Jilbab membuat kita malu. Jilbab membuat kita malu untuk melakukan hal-hal yang buruk. Jilbab adalah benteng penghalang. Ya tentu saja, tidak semua yang berjilbab akhlaknya baik. Namun mereka yang berakhlak baik, pasti akan berjilbab.

Tapi aku tahu, setiap orang pasti punya jalan dan cara yang berbeda hingga sampai di tahap akhir. Di kampus aku punya teman satu prodi, semasa ospek dia termasuk mahasiswi yang begitu vokal, ya maaf bisa dibilang hiperaktif. Namun, baru dua tiga semester, suatu hari dia menggegerkan kampus dengan datang ke kelas memakai gamis panjang, khimar lebar plus cadar. Pakaiannya gelap semua. Masya Allah, saat itu aku sempat berpikiran yang tidak-tidak, bagaimana mungkin dia yang sifatnya begitu tiba-tiba langsung alim? Terpengaruh aliran apa? Pikirku. Astagfirullah, padahal saat itu aku tidak tahu apa alasan dia berubah drastis, hidayah Allah tidak ada yang tahu.

Lain lagi seorang teman tamatan pesantren, setelah lama mondok, dia akhirnya melanjutkan ke sekolah formal. Iman orang siapa yang tahu, sekarang dia tak malu memajang auratnya di dunia maya, pun di dunia nyata.

Jadi, inti dari berhijrah sebenarnya adalah bagaimana usaha kita agar terus istiqomah dan menjadi makin baik setiap harinya. Setiap orang punya alasan masing-masing kenapa bisa sampai ke tahapan ini, mereka punya jalan masing-masing yang entah itu langsung drastis atau bertahap begitu lama. Maka, begitu sampai di tahap akhir, selalulah berdoa agar Allah terus menjaga kita di jalur-Nya. Aamiin.

Berani berhijrah!

Semoga istiqomah!

One thought on “Berjilbab Membuatku Malu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s