Kenapa Harus Resign Dari Bank?

Begitulah pertanyaan dari setiap orang yang tahu bahwa akhirnya saya memutuskan untuk berhenti jadi pegawai salah satu bank swasta.

“Kenapa kok resign? Sayang ih, gajinya kan gede.”

image

Pegawai bank mungkin masih jadi opsi di skala prioritas bagi mayoritas sarjana di daerah saya. Bukan hanya karena lowongannya yang ajaibnya selalu ada, tapi juga karena faktor gajinya yang terbilang menggiurkan. Selain itu nampaknya bank bisa menerima semua lulusan, tidak terlalu berpatokan pada konsentrasi pendidikan seorang lulusan.

Maka ketika orang lain susah payah menyebar lamaran, seperti yang pernah saya lakukan, namun tak kunjung diterima, keputusan saya untuk keluar setelah diterima di sebuah bank besar bagi sebagian orang adalah suatu peluang yang saya sia-siakan. It’s ok. Saya terima pendapat yang berbeda-beda karena selalu ada dua sisi dari sebuah keputusan, pun dengan apa yang sudah saya putuskan. Namun tentu ada beberapa bahan pertimbangan yang melandasi keputusan saya. Saya memikirkan sejak jauh-jauh hari, bukan perkara seminggu dua minggu.

Keluarga
Dari awal orang tua memang tidak mendukung penuh keputusan saya untuk bekerja di bank. Karena capek, tentu saja. Beberapa keluarga dekat juga ada yang bekerja di bank, jadi dari pengalaman mereka diambil kesimpulan bahwa kerja di bank tidak senyaman yang dilihat. Maka alasan pertama saya adalah karena janji dengan orang tua.

Saya sedari awal juga tidak berniat menjadikan bank sebagai lahan duit seumur hidup, katakanlah ini tidak sengaja dan qadarullah saya diterima. Ketika diskusi panjang lebar, akhirnya saya dan orang tua memutuskan untuk tidak salahnya mencoba dulu setahun dua tahun. Jika cocok, terus. Jika tidak, saya mundur. Begitu pembicaraan di awal.

Jadi ingat perbincangan dengan Kiky, teman saya SMA hingga kuliah, di masa-masa semester akhir.

Nanti kerja di bank, Ky. Kumpulin modal, kan gajinya lumayan. Setahun dua tahun, resign, buka usaha. Aamiin.”

Diaminkan oleh Kiky, yang sekarang juga jadi karyawan bank plat merah. Masya Allah, yang saya katakan terkabul, sekarang saya memang buka usaha kecil-kecilan sih, menggunakan sedikit tabungan dari gaji yang saya sisihkan.

Waktu
Ini yang dikhawatirkan orang tua saya. Bukan rahasia lagi pegawai bank bisa pergi pagi pulang pagi. Saya pun. Meski tidak terlalu ekstrim hingga lembur hampir tiap hari seperti frontliner (terkhusus teller), tapi pulang nyaris selalu ba’da magrib akhirnya membuat saya berpikir, mau begini seterusnya?

Mau begini seterusnya? Ini untung saya masih single, bagaimana nanti jika sudah berkeluarga? Saya bayangkan beberapa sepupu dan rekan di kantor yang sudah punya anak, pulang ba’da isya, sampai ke rumah capek, anak sudah tidur. Kapan waktunya untuk keluarga? Dua hari di weekend saya pikir masih terlalu sedikit.

Ini pula yang melandasi kekhawatiran orang tua saya. Seandainya saya laki-laki, agak lumrah jika bekerja hingga malam. Sementara saya perempuan, yang ketika langit sedang menguning harusnya sudah di rumah, namun terhalang oleh kewajiban pekerjaan.

Kenyamanan Hati
Oh ya, saya bekerja sebagai marketing financing, dimana saya saban harinya berurusan dengan nasabah pembiayaan. Mulai dari prospek, urus aplikasi, akad pembiayaan hingga nagih jika ada nasabah yang telat atau nunggak bayar. Awal-awal saya cukup menikmati dan termotivasi dengan target, namun akhirnya saya merasa tidak enak hati.

Bagaimana mungkin saya mengajak orang-orang untuk berhutang sementara saya tahu bahwa hutang itu akan menyusahkan mereka? Meski saya niatkan bahwa ini adalah upaya saya untuk membantu sesama yang kekurangan dana, namun lama-lama saya pikir lebih banyak menyusahkan daripada meringankan, apalagi jika sudah sampi ke tahap “nagih”. Saya meminta orang-orang untuk bayar hutang, meski cara saya baik-baik bukan seperti kolektor, tapi saya tahu rezeki orang tidak bisa dipaksakan. Anggaplah mereka usahakan bayar, dan saya terbebas dari beban menyusahkan perusahaan, saya tahu bahwa mereka bayar dari hasil ngutang ke saudara juga. Saya kasian.

Menghindari “Kelebihan”
Selain hal-hal di atas, batin saya juga bergejolak memikirkan tentang kelebihan di bank, riba. Iya, saya bekerja di bank syariah yang tidak ada sangkut pautnya dengan bank konvensional. Tapi hal itu tidak mengurangi kekhawatiran saya. Bagaimana jika yang saya yakini saat memutuskan bergabung dengan perusahaan ini salah? Bagaimana jika syariahnya sekedar label? Saya kan hanya bekerja di bawah, tidak tahu bagaimana sistem hingga ke detailnya. Karena ketakutan akan hal ini lah yang menjadi alasan tambahan. Daripada ragu, lebih baik saya tinggalkan. Toh, masih ada pekerjaan lain kan?

Mewujudkan Impian Lain
Toh masih ada pekerjaan lain kan? Yang sudah sejak lama saya impi-impikan, yaitu berwirausaha. Berniaga. Berdagang.

Akhirnya saya wujudkan perkataan saya kepada Kiky tempo dulu. Saya pakai tabungan untuk modal usaha kecil-kecilan. Dan Masya Allah, saya dapat waktu full dengan keluarga, bisa dengan tenang beribadah karena waktu istirahat saya sendiri yang menentukan, bisa mengurangi interaksi dengan lawan jenis yang tidak terlalu penting dan memperoleh ketenangan batin.

Tentang banyaknya yang menyayangkan keputusan saya, saya ajukan beberapa pembelaan.

Sayang sekali, di saat orang berlomba-lomba cari kerja, kamu malah keluar.
– Ya, anggap saja saja ingin membantu mereka, memberi satu kursi bagi yang ingin benar-benar bekerja sebagai karyawan kantoran.

Sombong sekali, baru seumur jagung sudah bangga resign dari kantor.
– Justru di awal, ketika saya belum terlalu ‘merusak’ perusahaan karena bekerja tidak sepenuh hati, sementara masih banyak orang lain yang lebih produktif yang menginginkan posisi saya. Toh, saya juga tidak terlalu menemukan diri saya di posisi itu, bukankah lebih baik diberikan kepada yang lebih berhak dan mumpuni?

Jika memang tidak cocok, kenapa tidak berusaha mencintai pekerjaan?
– Ya, itu salah satu pilihan. Tapi saya juga punya pilihan lain. Di umur yang masih muda, saya ingin mencoba beberapa dunia, ingin melihat dimana tempat yang paling nyaman untuk saya. Bukan gaji tinggi ya, tapi kenyamanan. Saya tidak ingin di waktu tua, yang saya ceritakan pada cucu hanyalah saya yang bekerja di satu bidang. Saya tidak ingin di waktu tua saya menyesal karena tidak mencoba apa yang ingin saya coba, apa yang saya impikan. Jika pun akhirnya saya gagal dengan impian yang saya pilih, saya sudah tahu bagaimana rasanya berada di tenpat yang saya inginkan.

Seperti yang pernah dikatakan senior saya, “Kamu masih sangat muda, Ty. Jangan terpaku pada dimana kamu saat ini. Coba apa yang kamu mau, hingga kamu merasa benar-benar nyaman di sana. Saya sudah berkelana di berbagai pekerjaan hingga akhirnya saya memutuskan berhenti di sini.

Pada akhirnya saya tidak pernah menyesali keputusan saya untuk bergabung maupun untuk berhenti dari perusahaan. Qadarullah. Saya yakin apa yang saya ambil, jalan mana yang saya ikuti, adalah yang terbaik bagi saya menurut-Nya. Jika ada beberapa poin di atas yang dijadikan alasan untuk mundur, tentu juga ada poin-poin lain yang membawa saya menjadi pribadi lebih baik selama bekerja di perusahaan, terlebih dalam konteks keagamaan. Saya yakin, apa yang tidak baik bagi saya, baik bagi orang lain dan sebaliknya. Maka saya tinggalkan posisi saya, saya berikan kesempatan pada mereka yang memang menginginkan dan dibutuhkan di sana.

Karena kita tidak bisa membahagiakan semua orang dengan suatu keputusan, maka putuskanlah apa yang menjadikanmu bahagia. Sesekali bahagiakan dirimu. Terlalu memikirkan kebahagiaan banyak orang kadang membuat kita lupa akan kebahagiaan sendiri.

10 thoughts on “Kenapa Harus Resign Dari Bank?

  1. Inget waktu ditawarin kerja di bank wktu baru beberpa mnggu setelah yudisium Ty, setengah hati ikut tesnya lulus terus padahl yg diminta ikut cuma aku yg dri pndidikan kimia dan 3 org yg lain dri akutansi, waktu mau tes akhir gak ikut karna gak ku angkat telponnya (read : gak pegang hp saat itu) jd fak tau tesnya dmna jamnya dll. Niat awl habis lulus mau ngajar sambil usaha aja.. Sblm tes aku doanya kalo emg jdohnya di bank lancarin tesnya.. Trnyata gak jdoh.. Hahaha

  2. Hm… saya juga sedang berjuang untuk impian saya, yang orangtua tidak mengerti sama sekali. Orangtua saya masih berpikir kalau PNS adalah pekerjaan terbaik, dan mereka tidak mengerti sama sekali bahkan definisi passion. Semoga secepatnya saya bisa meyakinkan mereka dan mereka tidak kecewa dengan keputusan saya.

    • Iya, rata-rata orang tua yg berpikiran begitu sebenarnya cuma ingin anaknya punya penghasilan yg stabil hingga tua, pensiun terjamin. Tidak salah. Tapi kita juga punya impian ya? Tidak nyaman bekerja di bidang yg tidak kita sukai. Akan lebih baik jika kita menyenangi dan pekerjaan itu juga menghasilkan. Yang terberat yaa meyakinkan orang tua. Jelaskan pelan-pelan.

      Semoga berhasil yaa Mas Firman 😊
      Ridho orang tua tetap dinomorsatukan 😊

  3. Bismillah walhamdulillah..
    Hari ini hari terakhir sy bekerja di bank setelah 12 tahun berkarya. Sy sangat yakin dengan keputusan ini lillahi ta’ala.
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

    “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s