Mantan, Apa Kabar?

image


"Mungkin nama mantannya, Volde...mort?"

Seperti sebuah garis bilangan, selurus apapun kehidupan seseorang, tidak lepas dari hal positif dan negatifnya masa lalu. Sesempurna apa pun ia di mata manusia. Yang terlihat sempurna saja pasti ada salahnya, apalagi yang dari tampak mukanya sudah banyak cacat, seperti saya 😂

Namun tentu, seburuk apapun atau sebaik apa pun masa lalu, ia ada di belakang. Hanya bisa diingat, tak bisa dikembalikan. Orang jahat bisa jadi baik. Orang baik bisa membalik jahat. Maka, masa lalu bukanlah bahan untuk menghakimi, karena yang sepatutnya dilihat untuk menilai adalah masa kini.

Bicara masa lalu, mungkin ada salah satu kata yang konotasinya mirip: MANTAN. Yaaa mantan apa lah, mantan teman, mantan tetangga, mantan supir, dan…. mantan pasangan 😂😂😂

Mungkin bagi kita, mantan sekarang hanyalah teman, atau bahkan sesorang yang tak lagi pernah kita sebut namanya, tahu keadaannya, bahkan keberadaannya. Tapi ada beberapa orang yang mengenal kita di masa lalu, semisal teman sekolah, guru favorit, paman kantin, amang mpek-mpek, dan sebagainya yang kemudian lama terpisah, lalu bertemu lagi setelah sekian tahun, tidak menutup kemungkinan akan bertanya kabar dan sebagainya. Termasuk kabar mantan. Jeng jeng jeng.

Misal. Ketemu di jalan dengan guru SMP yang duluuu dekaaat sekali sampai-sampai tahu kisah asmara kita di SMA. Tahu kita pernah dekat dengan siapa. Tahu pernah sakit hati oleh siapa. Tahu kisah kita hingga ke akarnya. Maka obrolannya mungkin akan seperti ini:

K : Ibu…
G : ***** ya?
K : Iyaaa bu, wah lama ya gak ketemu. Ibu apa kabar?
K : Alhamdulillah, baik. Kamu? Kerja dimana sekarang?
K : Baik juga, Bu. Kerja di nganu, Bu. Kemarin sih sempat di ngono, tapi pindah ke nganu.
G : Oh, sudah nikah?
K : Belum, Bu. Insya Allah bulan depan.
G : Sama yang kemarin kah? *menyebutkan nama mantan pas sekolah*
K : Gak bu, sama fulan. Yang itu mah sudah lama banget pisahnya. *nyengir kuda*
G : Oh kirain. Dia gimana kabarnya?
K : ……&%5$$@+?]%?

Kalau saya yang kejadian sih, saya bisaaa jawab. Maksudnya, tidak akan terbawa perasaan seketika galau, karena biasa-biasa saja, hehe. Dulu sudah sering soalnya. Sampai-sampai kalau ketemu orang lama, jadi pengen nulis di jidat: sudah-gak-sama-anu-sejak-1973. Semacam pertanyaan basi yang nyangkut di draft selama satu dekade. Dan selama itu, dia bahagianya dimana, saya bahagianya dimana. Tapi pertanyaan begitu tetap akan saya jawab kok, toh saya juga sedikit banyak tahu keadaan mantan, setidaknya tahu dia masih hidup. Hahaha.

Memang ada berbagai jenis sikap orang dalam menghadapi mantan. Ada yang berteman baik seperti sahabat. Ada yang biasa-biasa saja seperti saya. Ada yang sejak putus langsung blokir hingga sekarang. Ada juga yang wuzzzz, langsung hilang tak tahu kabar.

Lalu pertanyaannya, lebih baik berteman baik kembali atau menghilangkan komunikasi sama sekali?
Tergantung kondisi.

Ada beberapa kondisi yang memungkinkan kita untuk kembali berteman:
○ Masing-masing sudah dewasa, sudah punya kehidupan sendiri yang mana lebih membahagiakan daripada masa lalu.
○ Pasangan saat ini anteng-anteng saja, malah ikut merekatkan silaturahim. Karena percaya bahwa kisah masing-masing sudah diperbaharui dengan orang yang berbeda.

Kondisi yang jadi peringatan untuk jangan sekali-kali berhubungan lagi:
○ Masih belum kuat iman. Maksud saya, baca namanya aja langsung nostalgia lima jam ke masa lalu. Sambil nangis-nangis lagi. Inifisiensi waktu!
○ Pasangan, baik pasangan kita maupun pasangannya, masih terlalu cemburu. Maka baiknya dihindari saja, daripada menyakiti hati orang, meski kita tidak bermaksud.

Kondisi yang jadi sinyal “terserah aja mau gimana…”:
○ Masing-masing masih/sudah single.

Eh, tapi kan tidak semua orang pernah melewati fase jahilliyah “pacaran”? Yaa anggaplah di kampus pernah lihat ikhwan yang wajahnya teduh, lalu kesengsem diam-diam. Lihat akhwat yang senyumnya manis lalu mengagumi jauh-jauh. Anggap saja itu mantan-calon-gebetan.

Saya sendiri tidak pernah terpikir untuk menutup komunikasi dengan orang-orang di masa lalu, tapi juga tidak ingin berlebihan dalam berhubungan. Maksud saya, kalau ada perlu yang sangat perlu dan tidak ada orang lain lagi yang bisa dihubungi yaa baru berkomunikasi. Karena tentu ada perasaan orang lain yang perlu di jaga kan? Di kedua sisi.

Sejahat dan sebaik apa pun mereka, saya yakin mereka dipertemukan pada saya dengan suatu maksud, dengan sebuah pembelajaran. Maka tidak ada alasan bagi saya untuk memutus silaturahim, sejauh memang bermanfaat dan tidak menyakiti suatu pihak.

Apa kabar mantan?

Selamat berbahagia dengan kehidupanmu.
Karena aku pun telah diberikan kebahagiaan oleh orang-orang di sampingku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s