Apakah Saya Terlambat Menjadi Orang Baik?

Belakangan, pertanyaan-pertanyaan semacam itu berkecamuk di pikiran saya.

“Kenapa tidak dari dulu tobatnya?”
“Kenapa tidak dari dulu memilih jalan yang baik?”
“Kenapa niat ingin jadi baik selalu ditahan?”

… dan banyak kenapa lainnya.

Di umur yang sudah terbilang tua, hampir seperempat abad, sudah lewat masa belajar formal, baru terpikir betapa menyesalnya saya menyia-nyiakan masa muda. Padahal dari dulu selalu ada kesempatan untuk jadi lebih baik.

Dulu setamat SD negeri, saya digadang-gadang untuk mondok ke sebuah pesantren di Pulau Jawa. Papah sudah bawa brosur ke rumah, tanya-tanya ke teman kantor yang anaknya sekolah di sana. Saya waktu itu juga tidak menolak, bayangan jadi anak pondok dengan segudang aktivitas dari subuh hingga malam sudah bertengger di imajinasi saya. Kebetulan di brosur juga ada jadwal kegiatan di pondok beserta berbagai jenis ekskulnya. Saya bisa, pikir saya saat itu. Pikiran anak SD.

Tapi entahlah… akhirnya saya masuk SMP negeri di kota saya. Tanpa ada kejelasan, tanpa ada pembicaraan lanjut lagi tentang pondok ataupun pondok lain di kota saya sekalipun. Saya jalani masa puber di sekolah negeri, hingga lupa tentang sekolah agama. Terlalu nyaman dengan kehidupan sekolah konvensional, saya meneruskan ke SMA negeri favorit di kota saya, tanpa ada pikiran sedikit pun ingin kembali ke jalur awal.

Tapi keinginan itu masih ada…
Di ujung SMP, sempat ada keinginan untuk bergabung dengan rohis di SMA nanti. Keinginan ini dipengaruhi oleh bacaan saya waktu itu, majalah Annida. Alhamdulillah, di SMA memang ada kelompok rohis, saya lupa sebutan nama grupnya, namun lagi-lagi sisi kiri saya lebih berat. Saya memilih ikut ekskul lain hingga lulus SMA.

Masa kuliah saya lanjutkan ke universitas negeri alih-alih ke IAIN. Dan meski lagi-lagi ke konvensional, keinginan itu pun sebenarnya masih ada terlintas di benak saya, masya Allah. Sebelum masuk kuliah saya sudah bertekad untuk ikut kelompok mahasiswa muslim di kampus, harus. Tapi lagi-lagi, tekad saya masih kurang  bulat, niat saya masih kurang kuat, saya kembali berat ke sisi kiri. Saya ikut organisasi lain, dan hanya bisa memandang teman-teman di Kelompok Studi Islam (KSI) dengan dilema, antara sedih dan iri.

Kenapa begitu sulit menjadi orang baik?
Kenapa begitu berat padahal niat sudah bertengger sejak ‘berabad-abad’?
Kenapa keramaian kehidupan dunia selalu bisa mengalahkan langkah kebaikan yang bahkan sudah lama direncanakan?

Karena belum kuat iman?
Karena dosa segunung?
Karena maksiat selalu dianggap remeh?
Karena tidak berani berubah?

Jika begitu, apakah orang jahat tak bisa jadi baik?
Apa orang yang kotor tak bisa jadi bersih?

Saya mencari jawabannya selama ini. Setelah bertahun-tahun berjibaku dengan semuanya, akhirnya saya tahu beberapa alasannya.

Kenapa dulu saya tidak jadi mondok? Karena saya takut berpisah dengan orang tua. Jika jadi, itu akan jadi momen pertama saya terpisah jauh, berpisah pulau, dengan keluarga. Karena orang tua takut saya sakit , yang mana saya memang gampang sakit bahkan hingga sekarang, dengan aktivitas pondok sepadat itu. TAKUT.

Lalu kenapa setamat SMP saya tidak mondok? Atau memilih sekolah berbasis keislaman seperti MA? Nampaknya saya sudah terlanjur nyaman dengan kehidupan sekolah konvensional. Sudah terbiasa dengan aktivitas di sekolah biasa. Saya takut jika akhirnya beralih ke sekolah agama, saya keteteran karena dari awal sudah berada di jalur konvensional. KEBIASAAN.

Hingga akhirnya di SMA pun saya tidak mewujudkan niat saya ikut rohis, kenapa? Lebih kepada ikut-ikutan teman. Saya takut sendirian. Saat itu teman saya banyak ke ekskul tertentu, akhirnya saya ikut mereka, melupakan rohis. LINGKUNGAN.

Pun dengan kuliah, meski nampak di depan mata ada KSI, saya lebih memilih ikut organisasi mahasiswa lainnya. Kenapa? Tidak percaya diri. Saya takut keteteran karena sedari awal tidak berada di jalur itu. Saya takut minder karena kurang ilmu. Mereka begitu sopan dengan jilbab lebarnya, sementara saya berjilbab ala kadarnya. Mereka begitu menjaga pergaulannya, sementara saya punya teman dekat kebanyakan lawan jenis. Meruntut ke latar belakang pun, saya tak pernah ikut organisasi keagamaan sebelumnya, tak pernah sekolah di sekolah keagamaan. Semuanya konvensional, yaa sekolahnya yaa organisasinya. MINDER.

Akhirnya setelah lulus kuliah, saya sendirian di dunia yang saya bangun sendiri. Saya tidak lagi terkotakkan oleh lembaga konvensional dan keagamaan. Karena saat itu saya lebih sering sendiri, saya mandiri, tidak terikat. Saya sempat bekerja di sebuah perusahaan syariah, yang mana membuat saya mulai berpikir tentang niat yang terbengkalai sejak dulu, tentang keinginan yang tidak pernah terwujud, tentang alasan dan ketakutan saya. Saya rangkum perjalanan hidup saya yang singkat itu, akhirnya saya mendapati beberapa alasan mengapa saya begitu sulit untuk ke kanan.

TAKUT
Saya takut berubah. Saya orang yang takut untuk memulai hal baru. Saya cemas jika akan dihadapkan dengan situasi asing.

KEBIASAAN
Ketakutan saya untuk berubah akhirnya membawa saya ke sebuah kehidupan yang monoton yang akhirnya menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang akan sulit diubah, sulit saya tinggalkan.

LINGKUNGAN
Ketakutan berubah dan terlalu nyaman menjalani apa yang biasa saya jalani berdampak pada lingkungan saya yang berputar disitu-situ saja. Akhirnya saya terjebak dalam lingkaran yang sama dalam beberapa masa, yang jadi kebiasaan yang takut untuk saya ubah.

MINDER
Saya takut keluar dari zona nyaman, hingga akhirnya saya merasa tak punya kapasitas yang cukup untuk merambah dunia baru yang lebih baik. Takut, kebiasaan dan lingkungan yang tidak mendukung menjadi beban yang membuat saya sulit melangkah ke sisi kanan. Saya merasa sendiri. Saya takut. Saya tidak percaya akan kemampuan diri.

Akhirnya pada suatu waktu saya paksakan diri untuk melangkah, mengubah penampilan, mengubah pemikiran. Sendiri. Tak ada teman di dunia nyata yang menemani perjalanan, hingga akhirnya saya mencari di dunia maya untuk bisa meneruskan perjuangan. Mencoba bergabung beberapa komunitas, dengan harapan setelah terbiasa dengan aktivitas di dunia maya, saya akhirnya bisa mereka bawa ke dunia nyata. Mencari celah dan mencoba bersisian dengan mereka yang berilmu, meminta dukungan dari mereka yang lebih dulu berproses, dan berharap akan mendapati sahabat dunia akhirat.

Akhirnya saya sadar…
Tak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, asal jangan mengulang kembali ke sisi kiri. Tak akan pernah ada kata ‘tak ada kawan’, karena orang-orang baik akan selalu sigap merangkul mereka yang ingin memperbaiki kehidupan. Dan tak ada kata tak bisa, karena siapa yang sudah bertekad, siapa yang sudah berusaha, akan ditunjukkan jalan oleh-Nya. Minim ilmu? Tak apa. Belajar jadi lebih baik memang tujuan kita kan? Cari wadahnya.

image

Karena aku perlu teman.
Karena aku butuh dukungan.
Perjalanan ini panjang,
sendiri akan berat,
bersama semoga jadi lebih kuat.

One thought on “Apakah Saya Terlambat Menjadi Orang Baik?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s