Hamil 8 Minggu (6 Pebruari 2016): Duh, Hamil Muda yang…

Kehamilan tentu merupakan hal yang diidam-idamkan semua pasangan yang telah menikah. Meski beberapa memilih untuk menunda sekian waktu dengan memakai alat kontrasepsi karena ingin menikmati masa pacaran dan lain hal, atau beberapa lainnya memang ditunda mendapatkan amanah seorang anak dari Sang Pencipta hingga harus menunggu bertahun-tahun.

Saya sendiri sebelum menikah sudah dapat wejangan dari papah, yang kurang lebih:

“Nak, menikah itu artinya kita siap punya anak. Jadi setelah menikah, jangan coba-coba menunda dengan memakai alat kontrasepsi, takut keterusan (nggak subur). Na’udzubillah.”

Maka sesuai nasehat Papah, saya menikah dengan menyiapkan mental untuk jadi seorang isteri sekaligus ibu, meskipun sebenarnya nggak siap-siap banget, hehe. Dan alhamdulillah, Allah beri kemudahan bagi saya dan suami dalam hal ini. Mendengar berbagai pengalaman orang lain yang mesti ke dokter untuk program hamil dengan biaya yang wow, hingga menunggu bertahun-tahun agar bisa punya anak, maka alhamdulillah kami langsung diberi kabar segera setelah menikah.

Hamil?

Jadi sekitaran tanggal 18 Januari 2016, saya mulai merasa nggak enak badan, rasanya badan belakang sakit semua, suhu badan naik, kepala pusing dan nafsu makan hilang. Suami takut saya sakit kenapa-kenapa lagi, soalnya bulan kemarin sempat masuk RS karena saya kena DBD pasca resepsi, hiks. Nah, sakit saya yang ini mirip gejalanya dengan DBD kemarin, makanya jadi takut. Ada sekitar tiga harian saya nggak mau makan nasi, sampai dipaksa-paksa dan akhirnya muntah di suapan kedua. Saya menyerah dengan minum air dan makan buah saja.

Setelah berdiskusi panjang dengan suami, kami akhirnya punya dua tebakan, yaitu antara saya memang sakit lagi atau saya hamil! Soalnya saat itu saya sudah telat haid 10 hari lebih. Cuman, karena biasanya haid saya mundur-mundur terus, jadi kami nggak berani untuk berharap duluan, takut lepas harapan. Tapi lagi… kok tanda-tanda kondisi badan saya sama kayak ciri-ciri hamil yang kami dapat di internet ya? Tapi eh… mirip juga dengan gejala DBD. Tapi… pokoknya banyak keraguan saat itu. Akhirnya diputuskan lah untuk beli testpack saja.

Dua yaaa, Yang. Merk yang beda.” kata saya. Soalnya di internet bilangnya gitu, biar tambah yakin, takut kalo satu aja pas TP-nya rusak atau apa.

Jum’at, 22 Januari 2016, pulang kerja suami akhirnya bawa TP 2 biji. Sampai kamar baru dikeluarin, takut ketahuan mama hehe (saya serumah dengan mertua). Baca-baca petunjuk pengunaannya, ternyata harus dipakai di pagi hari yaaa. Hmmm. Tapi saking penasarannya, kalau suami bilang, “biar malam ini bisa tidur tenang” akhirnya TP yang satu dipakai malam itu juga, hihihi. Saya ingat betul itu sudah sekitar jam 12 malam, orang rumah sudah pada bobo. Luar biasa deg-degan pas mau pakai. Saya jadi ingat scene-nya Acha Septriasa di film Testpack, nunggu sampai garisnya muncul itu lhooo, berasa otomatis nahan napas.

Dan akhirnya…
Jeng-jeng. Muncul dua garis merah!
Saya bengong sendiri di toilet. Nggak tahu harus bersikap bagaimana.

Akhirnya bawa TPnya ke kamar, “Yang…” tunjukkin ke suami. Dan ekspresinya sama, bengong. Hahaha. Beneran, saat itu rada-rada percaya nggak percaya. Yang, ini positif? Ini beneran hamil? Alhamdulillah. Tapi nggak tahu ekspresinya mesti gimana. Alhamdulillah. Akhirnya bisa tidur tenang sambil pelukan, hehe.

Besok subuhnya, saya coba lagi pakai TP yang satu, dan hasilnya sama. Alhamdulillah, jadi yakin kalau benar-benar hamil. Akhirnya suami bilang ke mama mertua, deh.

image

Yang atas, dipakai malam. Yang bawah, dipakai subuh.

Kebetulan hari itu saya dan suami rencana pulang ke rumah orang tua saya, di Barabai. Di jalan, sudah ngobrol, nanti bilangnya ke orang rumah gimana ya? Hihi. Akhirnya pas sudah di rumah, saya minta periksakan perut ke mama karena kebetulan mama bidan.

Kenapa?” tanya mama.
Kayaknya ada cucu mama deh di sini.” jawab saya 😂

Garing.

Jadilah mama periksa tensi darah, aman. Trus dikasih buku pedoman ibu hamil, disuruh baca. Besoknya mama ngukur lingkar lengan atas (LiLA), yang untuk ibu hamil harusnya minimal 23,5cm kalo nggak salah. Nah, berhubung saya kurus banget dari jaman kapan, eh saya masuk golongan yang nggak nyampe, huhuhu. Harus makan banyak kata mama, biar LiLA-nya normal. Oke, ma, doakan!

Cobaan Hamil Trimester Pertama

Ternyata nggak bisa makannya, khususnya nasi, lanjut hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Tiap coba makan nasi, sesuap dua suap, muntah. Jadi mensiasatinya saya ganti dengan roti, buah, susu dan madu. Pokoknya makanan apa aja yang habis diicip-icip nggak bikin mual, saya makan.

Agak tersiksa juga karena sebenarnya sebagai orang yang biasa makan nasi, nggak nyentuh nasi sekian hari ternyata tetap bikin lapar, meski diganti roti, misalnya. Badan lemes, perut lapar, tapi sekali mau makan nasi, keluar. Akhirnya diganti jadi minum banyak-banyak aja.

Ada satu momen dimana saya sudah sangat lapar, badan lemes, kepala pusing, badan pegel dan akhirnya coba lagi makan nasi kuning yang dibeliin Abah pagi itu. Sesuap, dua suap, seperti biasa, muntah. Coba lagi, muntah lagi. Saking sudah putus asanya, saya nangis di meja makan. Ya Allah, harus lebih kuat, batin saya. Saya coba lagi makan, agak enakan. Saya suap terus sambil satu tangan lainnya nyeka air mata yang terus keluar. Entahlah, saat itu saya benar-benar merasa down. Merasa bersalah dengan anak di perut saya, kok bisa saya nggak berusaha lebih kuat padahal ini bukan cuma buat saya lho, buat anak. Gitu saya mikirnya.

Jadi ingat lagi bunyi detak jantungnya pas kemarin periksa ke dokter. Lihat bentuk dia yang masih begitu kecil namun sudah terlihat kehidupannya, duuuh, selalu itu yang bikin saya jadi lebih kuat meski harus berusaha lebih lagi karena sebenarnya saya lelah dalam urusan mual dan makan ini. Katanya harus lillah biar nggak lelah. Insya Allah.

image

Pas UK 7w3d, itu di foto kanan bawah detak jantungnya.

Selain masalah mual. Di hamil usia muda ini saya juga sering capek, padahal nggak ngapa-ngapain lho. Selama hamil nggak masak-masak lagi, beberes juga enggak, yang nyuci baju diganti suami. Paling saya jalan dikit ambil minum, nonton tv, ngemil. Kebanyakan seharian saya habiskan dengan rebahan, duduk, jalan dikit, rebahan lagi. Tapi tetap capek lho.

Oh iya, saya juga jadi mudah ngantuk. Biasanya waktu-waktu yang perlu diwaspadai itu pagi dan sore hari. Sekitar jam 9an pagi saya sudah ngantuk banget, padahal seger habis mandi. Yang ini susah bangrt buat nahannya, soalnya kan tidur pagi sebenarnya nggak bagus, apalagi kalo hamil. Solusinya biasanya saya senderan aja sambil dengerin murottal qur’an, meski sesekali kebablasan juga karena matanya berat.

Semenjak hamil, saya sering google segala sesuatu yang berasa di diri saya. Saya sering buka forum ibu hamil buat lihat, apa yang saya rasa ini wajar nggak sih. Misalnya, saya sering cegukan, saya cek di forum, oh ternyata yang lain juga sama, solusinya harus banyak minum lagi karena sekarang airnya buat dua orang, hehe. Pokoknya apaaaaa aja selalu saya cari di forum.

Sekarang sudah 8 minggu. Kalo ngikut pengalaman mama, mual-mual gini biasanya sampai akhir trimester pertama, artinya sebulan lagi. Ya Allah, semoga secepatnya bisa makan normal lagi. Aamiin.

Terimakasih Suamiku
Untungnya di hamil pertama tanpa pengalaman apa pun ini, suami saya termasuk sosok yang paling membantu saya untuk melewati masa-masa sulit. Meski dia kerja, ba’da magrib bahkan jika lembur bisa sampai nyaris tengah malam baru pulang, saya tetap dapat perhatian lebih. Saya nggak boleh nyuci lagi, karena itu pekerjaan berat, katanya. Jadilah suami saya disela-sela kerjanya sambil nyuci pakaian. Badan saya yang sering pegel juga dipijitin. Saya mau apa dibeliin. Tapi untunglah sejauh ini saya nggak pernah minta yang aneh-aneh, misalnya mau buah mangga tetangga tengah malam, nggak. Hehehe.

Paling yang agak aneh, saya tiba-tiba mau makan pakai Pakasam dan Jaruk Tarap. Buat yang nggak tahu, bisa googling, itu dua makanan khas dari masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Sementara dua makanan itu adanya di kampung saya, di Barabai. Setelah ditahan-tahan sekian hari akhirnya kemarin bisa pulkam lagi dan langsung dimasakin mama dua menu itu. Dan taraaaa… saya bisa makan nasi bahkan sampai nambah lho!

Aneh yaaa, kadang saya sendiri nggak ngerti. Padahal biasanya cuma dua suapan nasi, saya langsung muntah, lah ini sampai dua piring bisa masuk semua cuma gara-gara Pakasam dan Jaruk Tarap. Alhamdulillah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s