Pengalaman Seleksi Masuk Bank Muamalat Indonesia (Part 1)

image

Sebenarnya sudah lama saya ingin berbagi pengalaman mengikuti seleksi masuk sebagai karyawan Bank Muamalat Indonesia (BMI), sejak awal lulus hingga sudah resign hampir setahun ini. Tapi karena faktor kesibukan saat kerja kemarin, akhirnya lupa, padahal sudah ada di draft.

Part 1 ini akan saya awali dengan kisah pengalaman-pengalaman minim saya dalam mencari kerja. Bagi yang ingin langsung ke tahapan seleksi Bank Muamalat, bisa langsung ke sini aja ya.

Saya lulus pendidikan S-1 pada Januari 2014 dan diwisuda bulan berikutnya. Pengalaman pertama saya mengikuti wawancara kerja adalah pada sebuah Bank berwarna orange yang kantor Simpan Pinjamnya mungkin sudah tersebar di seluruh kabupaten di Indonesia. Kebetulan seleksi ini adalah sebuah undangan bagi para lulusan baru, diadakan di rektorat kampus kami, istilahnya Campus Hiring. Dulu iseng saja ikut-ikutan, sendirian karena teman-teman dekat tidak ada yang berminat, hitung-hitung biar tahu seleksi masuk kerja bagaimana sih? Alhamdulillah dari sekian ratus orang, saya lolos (saat itu psikotest) dan masuk tahap selanjutnya, wawancara.

Saya diwawancara oleh seorang perempuan, mungkin dari bagian HRD, saya lupa nama beliau. Di dalam ruangan, kami hanya berdua. Menurut saya wawancaranya terkesan sangat formal, saya diminta memperkenalkan diri dan menjelaskan apa kelebihan dan kekurangan saya. Di sini saya baru tahu bahwa posisi yang dicari hanya teller dan marketing. Di tahapan wawancara ini ada yang unik. Jika yang lain wawancaranya bisa 15 menit hingga setengah jam, saya hanya perlu waktu 5 menit. Kenapa? Saya yakin langsung gugur karena memilih posisi teller alih-alih marketing padahal badan endek tidak lebih dari 1,5 meter. Walhasil, saya memang tidak pernah dapat telpon lagi dari perusahaan tsb. Hehe.

Berikutnya, saya coba bertanya posisi di sekolah saya dulu, karena basic saya adalah pendidikan matematika. Ternyata di sana tidak ada posisi guru matematika, sudah penuh. Sempat ditawari jadi staff tata usaha, namun setelah saya pikir-pikir, daripada saya belok tapi tanggung, lebih baik saya belok sekalian. Nah, itulah awalnya mengapa saya terjun ke dunia perusahaan.

Setelah dapat ijazah, saya kemudian menyebar lamaran ke hampir seluruh perusahaan di kota saya. Entah ada atau tidak ada pengumuman rekrutmen, saya sambangi saja dan menitipkan surat lamaran. Saya yang sebenarnya begitu pemalu, ajaibnya jadi punya muka badak saat bertemu tiap security/CS perusahaan saat itu. Selang beberapa waktu, satu per satu perusahaan mulai memanggil.

Yang pertama dari sebuah bank plat merah. Panggilan seleksinya ke ibu kota provinsi, lumayan jauh dari domisili saya, sekitar 4 jam perjalanan darat. Ternyata eh ternyata, mereka memang sedang buka rekrutmen pegawai, sementara saya asal saja menyebar lamaran. Sebagai bank berplat merah yang konon gaji dan bonusnya menggiurkan, peminatnya pun cukup banyak. Pewawancaranya saja ada 3 atau 4 orang dalam sekali waktu. Pertama datang kami disuruh mengisi formulir, saat itu posisi yang dicari seingat saya adalah frontliner, marketing dan bagian IT. Saya, lagi-lagi memilih frontliner, karena tidak ada minat/kemampuan sama sekali pada dua bidang lainnya. Selanjutnya, masuk ruangan diminta untuk menunjukkan ijazah asli dan mengukur berat serta tinggi badan, sebelum diwawancara.

Di perusahaan ini juga ada hal yang unik menjurus ke miris menurut saya. Bapak yang mewawancara saya saat itu bertanya, “Kenapa kamu mau ke perusahaan ini, sementara saya lihat IPK kamu bagus. Sayang kalo nggak lanjut pendidikan.” dan blablabla. Pembicaraan selalu mengarah ke penolakan karena alasan saya berlatar belakang orang pendidikan. Akhirnya saya pun ditolak lembut dengan alasan tersebut, meski saya tahu bahwa tinggi badan saya lah yang jadi alasan utamanya. Kenapa? Karena setelah saya melihat pengumuman peserta yang lulus, ada beberapa nama familiar yang saya tahu IPK mereka juga tinggi, yang latar belakangnya juga orang pendidikan, tapi badan mereka lebih tinggi dari saya. Haha.

Ketiga, panggilan dari Muamalat. Untuk Muamalat sendiri, bersinggungan dengan tinggi badan sudah saya alami sejak mengantar lamaran ke CS. Saat itu CS Muamalat yang badannya tinggi semampai (belakangan saya kenal dekat sebagai Kak Melli) langsung bertanya, “kamu tinggi badannya berapa?“. Sudah terbiasa dengan pertanyaan semacam itu, langsung saya jawab tegas, “150 cm, Mbak.” pada beliau yang saat itu saya taksir sekitar 1,7 meter.

Sebelum saya tuliskan tahapan seleksi Muamalat yang saya jalani, sebenarnya di tengah-tengah seleksi saya juga dapat panggilan dari dua perusahaan lain, perusahaan berplat merah. Hanya saja ada hal yang membuat saya tiba-tiba yakin bisa masuk menjadi karyawan Muamalat, hingga akhirnya panggilan tersebut saya abaikan.

Sampai sekarang, saya hanya pernah mengikuti 3 rekrutmen perusahaan, yang secara umum tidak begitu berbeda. Jadi, bagi yang sedang mencari tahapan seleksi perusahaan lain, mungkin juga bisa menambah referensi berdasarkan pengalaman saya mengikuti seleksi masuk Bank Muamalat Indonesia ini.

Di postingan berikutnya yaaaa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s