Pengalaman Seleksi Masuk Bank Muamalat Indonesia (Part 2)

image

Melanjutkan kisah saya di postingan part 1, di sini saya akan langsung menjelaskan tahapan-tahapan seleksi masuk Bank Muamalat Indonesia (BMI). Sebagai catatan, seleksi yang saya ikuti adalah seleksi internal yang diadakan kantor cabang, bukan Muamalat Officer Development Program (MODP).

1. Wawancara Kantor Cabang Pembantu
Saya memasukkan lamaran melalui Kantor Cabang Pembantu Barabai, yang berada di bawah Kantor Cabang Banjarmasin. Tanggal 9 April 2014, siang hari setelah saya mengikuti pilkada, saya dapat telpon dari seorang laki-laki yang mengaku dari Muamalat Barabai meminta saya untuk mengikuti wawancara pada hari Jum’at, 11 April 2014 pukul 15.00 WITA.

Hari Jum’at, saya datang ke kantor Muamalat Barabai. Ternyata di sana sudah banyak juga yang menunggu untuk diwawancara, saya telat sekitar 15 menit saat itu. Baru duduk dan sedikit bertegur sapa dengan yang lain (yang ternyata melamar ke Mualamat lewat jobfair di disnakertrans kabupaten), saya langsung dipanggil untuk naik ke lantai dua.

Di lantai dua, saya menemui kepala kantor cabang pembantu, Sub Branch Manager (SBM) Barabai, Pak Budi. Seperti wawancara pada perusahaan-perusahaan sebelumnya, saya diminta memperkenalkan diri dan keluarga, alasan mengapa ingin masuk ke Muamalat alih-alih mengajar, kelebihan dan kekurangan diri, hobi, kegiatan semasa kuliah dan hal-hal dasar lainnya.

Tips saya, ceritakan saja apa adanya, jangan dibuat-buat. Misal, mengapa ingin ke Muamalat alih-alih mengajar, saya ceritakan saja bahwa saya memang sudah mencari posisi di sekolah, namun kebetulan tidak ada. Kemudian ketika mencoba peruntungan lain, saya diberi kesempatan untuk mengikuti seleksi Muamalat, maka tidak akan saya sia-siakan, siapa tahu memang rezeki saya di sini.

Saya juga ditanya kesediaan jika ditempatkan di KCP lain, semisal Banjarbaru, Martapura atau Batulicin. Saya jujur saja, bersedia jika daerah Banjarmasin atau hulu sungai, namun agak berat jika di Batulicin karena cukup jauh dari tempat tinggal.

Wawancara diakhiri dengan, “Nanti bersedia kan kalau tahapan selanjutnya dilakukan di Banjarmasin?

Okeeee siaaaaap.

2. Wawancara Kantor Cabang Banjarmasin
Sekitar 2 minggu kemudian, saya kembali menerima telpon dari Bank Muamalat untuk mengikuti wawancara lanjutan di Kantor Cabang Banjarmasin. Wawancara direncanakan pukul 14.00 WITA, jadi saya berangkat pagi dari Barabai. Perjalanan yang lumayan menguras tenaga, karena setibanya di depan kantor Muamalat Banjarmasin, saya muntah karena mabuk darat, padahal memakai mobil pribadi dengan papah. Mungkin karena sudah lama tidak melakukan perjalanan jauh, padahal semasa kuliah saya terbiasa pulang kampung 4 jam perjalanan memakai angkutan umum.

Dengan badan lemas karena isi perut habis terbuang, saya masuk ke kantor dan langsung disambut ramah oleh security. Setelah mengutarakan tujuan, saya diarahkan untuk ke lantai dua. Di sini saya sempat melirik-melirik petugas frontliner-nya, waaah manis-manis dengan kerudung ungunya. Di lantai dua, ternyata sudah ada 3 orang yang ikut menunggu untuk diwawancara, 2 laki-laki dan 1 perempuan yang ternyata berasal dari Barabai juga. Ngobrol-ngobrol sebentar, ternyata yang laki-laki sudah punya pengalaman kerja sebagai marketing, sementara saya dan perempuan satunya baru lulus kuliah. Di sini kami sempat berdiskusi tentang posisi yang dicari, katanya marketing. Waah marketing lagi, batin saya.

Cukup lama kami menunggu, sambil melihat para karyawan lalu-lalang naik-turun lantai. Seorang karyawan kemudian memberitahukan kami untuk menunggu sebentar karena kepala cabang masih ada urusan di lapangan. Sekitar pukul 15.00, datanglah serombongan laki-laki yang saya tebak adalah bapak kepala cabang dan kroninya. Ternyata benar, setelah mereka masuk ke sebuah ruangan, datang karyawan lain meminta kami untuk bergiliran diwawancara. Eh saya dipilih pertama, padahal belakangan datangnya.

Agak kaget ketika pertama masuk, wah kroyokan nih, karena di dalam sudah ada 3 orang laki-laki yang salah satunya saya kenali sebagai Pak Budi, SBM Barabai. Setelah dipersilakan duduk, Bapak kepala cabang, Branch Manager (BM) Banjarmasin, Pak Qoimun, langsung saja memperkenalkan diri dan pria lainnya, Mas Bayu, yang saat itu dari bagian Human Capital Department (HCD), atau HRD di kebanyakan perusahaan lain.

Wawancara kali ini terasa sangat ringan, seolah kami hanya mengobrol santai menunggu waktu ashar. Pak Qoimun juga terkesan sangat ramah, alih-alih terus bertanya tentang diri saya, beliau sesekali bercerita tentang dirinya dan keluarganya dengan sedikit guyonan. Meski begitu, inti dari wawancara tetap didapat. Saya disuruh memilih 1 dari 3 posisi yang ada, yaitu Frontliner, Back Office dan Marketing. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, tentu saya tidak ingin FL karena keterbatasan tinggi badan, apalagi teller-teller di depan tadi badannya sungguh semampai, menunjukkan standar Muamalat untuk FL-nya. Marketing pun saya ogah, akhirnya saya pilih BO yang saya pikir-pikir sesuai dengan saya yang lebih suka di belakang panggung.

Tapi kalau melihat latar belakang organisasi, kegiatan dan hobi kamu, kamu lebih cocok jadi marketing. Percaya sama saya, sebentar saja jadi BO, tipe seperti kamu pasti bosan.

Saya ngotot menolak marketing, dengan alasan badan yang kurang fit, sehingga jika terus berada di lapangan, panas hujan, kemungkinan akan sakit-sakitan. Saya ceritakan riwayat penyakit saya.

Siapa bilang marketing panas-panasan? Kita kerja pakai mobil kantor kok.”

Akhirnya diceritakan standar kerja di Muamalat khususnya marketing, Pak Qoi sampai memanggil salah satu karyawati yang kabarnya baru pindah dari bank lain dan sekarang di Muamalat sebagai marketing.

Iya beda kok, kita di sini naik turun mobil kantor aja, ada drivernya juga, gak pake motor pribadi.

Akhirnya pembicaraan santai terus berlanjut, semacam sharing session pengalaman Pak Qoi dan Pak Budi selama bekerja sebagai marketing. Menjelang akhir wawancara, saya disodorkan Al-Qur’an dan disuruh mengaji beberapa ayat Surah Al-Baqarah yang berkenaan tentang riba. Diskusi pendek tentang riba, kemudian ditutup dengan statement Pak Qoi.

Kamu kalo jadi BO, saya nggak terima. Kalo mau marketing, Sabtu besok langsung psikotest. Nanti dihubungi sama Bayu.

3. Psikotest
Sejujurnya saya deg-degan menunggu Sabtu, mengingat perkataan dari Pak Qoi. Tapi ditunggu-tunggu, kok belum ada telpon cinta (istilah yang biasa digunakan pencari kerja terhadap panggilan kerja) ya? Apa saya sudah gugur?

Tapi ternyata lewat beberapa hari ada telpon dari nomor kantor, dengan kode Banjarmasin. Muamalat nih! Muamalat nih! Batin saya. Dan benar, dari Muamalat Banjarmasin meminta saya untuk mengikuti psikotest tanggal sekian bertempat di PT. XXXX, saya lupa namanya, Banjarmasin.

Psikotest dimulai pukul 08.00 atau 09.00, sehingga saya subuh-subuh sudah berangkat dari Barabai, menempuh perjalanan 4 jam. Kali ini mabuk darat lagi, Ya Allah. Sarapan nasi kuning di tengah jalan, keluar semuanya. Hanya dengan bantuan do’a orang tua, saya bisa mengikuti psikotest yang tergolong berat dengan keadaan lemah selama kurang lebih 5 jam nonstop.

Awal masuk ruangan tes, saya syok, kok yang lain malah pakai rok mini ya? Saya sendiri yang berjilbab. Usut punya usut, ternyata mereka ikut seleksi untuk BCA. Owalah, saya kira hari ini khusus Muamalat.

Psikotestnya terdiri dari beberapa sesi:

Tes Kepribadian (Tes PAPI)
Ini tes lumayan mbikin pusing karena terdiri dari puluhan soal, dan pertanyaannya sering berulang. Konon tes ini akan menentukan kita cocok dengan posisi apa. Tidak ada jawaban benar atau salah dalam tes ini, kita hanya diminta untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan diri kita. Saya sendiri jujur saja dalam menjawab, tidak mencoba mengarah-arahkan pada satu sifat. Karena dari beberapa opsi jawaban, terlihat sekali pilihan yang mengarah ke orang yang suka dipimpin, orang yang suka memimpin, yang suka kerapian, disiplin dan sebagainya. Ingat, jujur saja, karena jika tidak kita akan kesulitan mengingat jawaban pada pertanyaan-pertanyaan (berulang) berikutnya.
image

Itu contoh lembar jawabannya. Jawaban hanya terdiri dari dua opsi. Jadi kalau tidak salah jika kita memilih a, maka lingkari panah ke samping, jika b lingkari panah ke bawah.

Tes Logika
Berisi soal-soal logika penalaran, bahasa dan beberapa aritmatika. Sebagai anak matematika, saya cukup terbantu karena sudah terbiasa dengan angka-angka. Soal-soal logikanya mencocokkan pasangan kata, misal topi : kepala = sepatu : …… (jawabannya kaki), ya semacam soal masuk perguruan tinggi.
Untuk soal barisan dan deret, kita diminta untuk menentukan angka berikutnya. Misal 2, 4, 6, …. (jawabannya 8). Contohnya terlalu gampang ya? Hehe
Oh iya juga ada logika penalaran terhadap beberapa deret gambar berpola, kita diminta untuk memahami polanya dan menentukan bentuk pola berikutnya.

Tes Wartegg
image

Kali ini kita diberi selembar kertas berisi delapan kotak yang didalamnya terdapat bentuk-bentuk yang tidak sempurna, semisal garis melengkung, segitiga atau sebuah titik. Di sini kita diminta untuk meneruskan bentuk-bentuk tersebut menjadi sebuah gambar utuh sesuai dengan imajinasi kita. Kita juga harus memberi nomor urut, gambar mana yang kita lengkapi terlebih dahulu. Kemudian menentukan gambar mana yang paling disuka dan tidak suka,  yang mana paling sulit dan mana yang paling mudah. Katanya ada orang yang suka dengan keteraturan, mengurutkan dari gambar paling awal hingga akhir. Saya sendiri menggambar secara acak, sesuai dengan bentuk mana yang langsung terbayang oleh saya (mudah ke sulit). Ada beberapa penjelasan tentang teknik tes ini, silakan cari artikelnya sendiri, hehe. Saya pribadi, selalu mencoba jujur dalam setiap tes, dengan apa adanya kondisi saya, seperti di tes kepribadian.

Tes Gambar
Dalam tes ini kita diberi kertas kosong dan diminta untuk menggambar dua hal. Pertama seseorang plus deskripsinya (usia, jenis kelamin, aktivitas dan sifat), kedua gambar pohon. Tokoh yang langsung terpikir oleh saya adalah petani, seperti kerja sampingan papah saya. Maka saya langsung saja menggambar seorang petani sedang mencangkul di sawah, lengkap dengan topinya seperti yang biasa dipakai papah.

Untuk gambar pohon, saya menggambar pohon Kalangkala yang ada di samping rumah saya. Kenapa pohon itu? Karena pohonnya sedang berbuah saat itu, jadi secara refleks ada di pikiran saya, meskipun ada banyak pohon lain di halaman rumah.

Tes Kubus
image

Tes ini yang paling sulit bagi saya, kita diberi sebuah gambar kubus dengan pola yang berbeda di setiap sisinya. Kemudian diminta untuk menjawab apa pola yang ada di sisi yang tertutup (sisi belakang) jika ditampilkan sisi depan dengan pola seperti ini. Harus pintar-pintar berimajinasi. Di tes ini, saya tidak sempat menjawab semua pertanyaan karena waktunya habis.

Tes Koran (Tes Kraepelin Pauli)
Nah ini tes yang saya suka. Terdiri dari buanyaaaak sekali angka yang bersusun secara vertikal dan horizontal, kita diminta untuk menjumlahkan angka-angka yang berdekatan pada setiap kolom dan menuliskan jumlahnya di sampingnya (satuannya saja jika jumlahnya belasan, atau puluhan) di setiap baris. Kenapa disebut tes koran? Karena kertasnya sebesar koran, bisa membayangkan seberapa banyak angka yang harus dijumlahkan?
Di sini sangat diperlukan konsentrasi, karena kita diberi waktu yang sangat singkat untuk menjumlahkan tiap kolom. Ingat, tetap jujur, jangan coba untuk mencurangi waktu karena nanti kita bisa kewalahan sendiri. Kuncinya adalah, jangan terlalu menggebu di depan, tetap konsentrasi dan jaga kestabilan.
Saat mengerjakan tes ini, keadaan lingkungan sangat mempengaruhi saya, karena peserta di samping menjawab sambil komat-kamit berhitung. Duh, konsentrasi.
image
Di atas contoh pengerjaan tes koran.

Wawancara Psikolog
Terakhir, setelah menjalani rangkaian tes yang panjang tanpa istirahat, kami dipertemukan dengan seorang psikolog. Pembicaraan singkat saja, tentang kesungguhan pada posisi di perusahaan. Apakah yakin atau tidak dengan kemampuan diri.

4. Tes Kesehatan (MCU)
image

Ini adalah tahap tes terakhir. Konon, jika kita sudah sampai ke tahap ini, maka 95% kita diterima, kecuali ada penyakit yang sangaaaaat membahayakan. Tes kesehatan saya jalani pada bulan Mei 2014 di Klinik Prodia Banjarmasin. Kali ini saya tidak diantar papah, tapi naik taksi sendiri hingga terminal, lanjut naik ojek ke klinik. Sebelum tes, diminta jangan minum dan makan apa pun, makanya pagi-pagi saya sudah datang, agar perut tidak terlalu lapar jika kesiangan.
Pada MCU, ada tes urin, tes mata (melihat beberapa huruf dengan ukuran berbeda), tes darah (diambil darah, untung saya sudah biasa), tes rontgen (ini pengalaman pertama), diukur berat dan tinggi badan, dan terakhir cek fisik oleh dokter. Agak geli di sini, kita diperiksa seluruh badan, untung dokternya perempuan juga.

LULUUUUUUSSSS!!!
Pengumuman kelulusan setelah tes kesehatan lamaaaaa sekali. Saya sampai hampir lupa dengan Muamalat. Padahal sejak wawancara cabang, saya merasa begitu yakin dengan Muamalat hingga mengabaikan dua panggilan dari perusahaan lain. Entahlah, keyakinan itu datang sendiri. Saat senggang, saya iseng mengamati beberapa akun media sosial milik karyawan Muamalat di seluruh Indonesia, saya merasa yakin jika bisa bergabung dengan perusahaan ini, maka saya akan mendapatkan ilmu dan pengalaman yang baik bagi diri saya.

Tapi, telpon cinta kok lama tidak terdengar?

Nyaris lupa, akhirnya saya dapati panggilan tidak terjawab dari nomor kantor Muamalat Barabai sekitar awal Juli 2014. Aaaakkk tidaaaak. Untunglah beberapa waktu kemudian telpon kembali masuk, alhamdulillah. Saya diminta untuk ke Muamalat Barabai pada 11 Juli 2014 untuk tanda tangan kontrak.

Diskusi panjang sempat terjadi dengan orang tua, dan akhirnya didapat keputusan untuk mencoba saya dulu pengalaman bekerja di perusahaan. Maka, jadilah saya sebagai Account Manager (marketing pemasaran) di Muamalat Barabai per tanggal 11 Juli 2014.

image

Momen Milad ke-23 Muamalat

image

Milad ke-23 BMI. Mei 2015. Gabungan KCP Barabai dan KK Kandangan

image

Hari terakhir di Muamalat. FYI, yg sebelah saya lagi hamil, Kak Meli (CS)

Hari terakhir di Muamalat, 11 Juli 2015. Saya sempatkan berfoto dengan all crew KCP Barabai minus SBM dan para NBS. Iya, saya memutuskan resign tepat saat kontrak habis. Pamitan dengan kakak-kakak yang baik hati. Alhamdulillah, ada banyak hal baik yang saya dapat di Muamalat, tentang pekerjaan, ibadah dan kehidupan berkeluarga karena sering dibagi oleh karyawan lain yang rata-rata memang lebih senior. Atau saya memang paling muda saat itu secabang Banjarmasin? Sepertinya. Ilmu baru di bidang baru setidaknya bisa saya terapkan di kehidupan saya, meski sekarang saya sudah tidak termasuk keluarga Muamalat lagi.

11 thoughts on “Pengalaman Seleksi Masuk Bank Muamalat Indonesia (Part 2)

  1. saya juga test kesehatan akhir bulan april 2016 wktu itu dikabari belum ada persetujuan dr direksi terkait untuk kontraknya (untuk bagian legal) sampai hari ni bulan juni 2016 blm jug ada kabar. apakah selalu seperti itu sangat lama untuk dapat persetujuan??? HC cabang bilang g ada masalah cuma kendala di persetujuan direksi

    • Iya mba Wenny, sepertinya memang begitu. Saya satu bulan lebih bahkan hampir 2 bulan setelah tes kesehatan sampai panggilan kerja. Ditunggu aja mba, kalo sampai tes kesehatan biasanya insya Allah lulus. Semangat yaa :)

    • Mau nikah mba, ngikut suami ke kota lain, skalian mau jadi IRT aja. Utk atmosfer kerja alhamdulillah enak, banyak nambah2 ilmu agama juga kebawa yg baik2.

      Kalo marketingnya ada enak ada enggak. Ketemu relasi baru jadi banyak link, banyak ilmu dari org2 di luar. Tapi kaya marketing pada umumnya yaa kita terpatok target aja sih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s