Jadi Spesialis atau Orang Serba Bisa?

“Lebih bagus ahli (expert) dalam satu bidang, sementara bidang lain tidak mumpuni/tidak bisa sama sekali. Atau bisa (namun tidak ahli) segala bidang secara merata?”

Menjelang UN SMA 2010 lalu, saya dan beberapa kawan begitu kesulitan dengan salah satu mata pelajaran. Padahal waktu sudah sangat mepet dan kami harus mengejar memahami materi pelajaran 3 tahun dalam waktu yang singkat. Akhirnya kami coba berguru pada seorang teman yang bisa dikatakan jenius dalam pelajaran tersebut. Nasihatnya di akhir pertemuan:

“Pelajari lebih giat, ulang terus, mantapkan materi yang sudah benar-benar kalian pahami, abaikan saja yang pemahamannya masih di bawah 50%. Tidak perlu paham semuanya. Yang penting, jika keluar soal tentang materi yang kita pahami, kita sudah bisa pastikan bahwa jawaban kita 100% benar. Sisanya, semampunya saja, toh kita sudah punya pegangan nilai dari jawaban-jawaban yang pasti benar tadi. Daripada memaksakan diri memahami semuanya, akhirnya tidak ada materi yang betul-betul mantap, tidak ada jawaban yang kita yakini pasti benar. Semuanya setengah-setengah.”

Sarannya saya ikuti, alhamdulillah lulus UN dengan nilai yang lumayan untuk mata pelajaran tersebut. Akhirnya, pola belajar seperti ini saya terapkan setiap kali ujian saat kuliah, meskipun tentu saja sebagai mahasiswa saya dituntut untuk memahami semua materi yang diberikan. Tapi setidaknya berhasil untuk memperoleh “yakin lulus” pada setiap ujian yang ada.

Dari pemikiran ini, saya kemudian menyadari mengapa saat sekolah kebanyakan peringkat kelas didominasi oleh perempuan, namun ketika event khusus misal olimpiade, malah siswa laki-laki yang menonjol? Bersandar pada apa yang dikatakan teman saya, saya pikir ini karena umumnya para siswi mempunyai kemampuan merata pada setiap mata pelajaran, mereka berusaha (memaksakan diri) untuk selalu bisa dalam semua hal. Sementara siswa, lagi-lagi atas pengamatan saya sendiri, umumnya tidak terlalu peduli dengan semuanya, mereka lebih memilih untuk menikmati apa yang mereka suka saja, pelajaran lain yang tidak sesuai minat, mereka abaikan. Sehingga kemudian kita mengenal si Susi sebagai juara kelas, dan si Budi sebagai ahli Matematika.

Beralih ke kehidupan sebenarnya, hal ini juga berlaku. Perempuan dikenal dengan keahlian multitasking-nya, maka tidak heran jika para ibu mampu mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus, alias mampu beralih fokus secara cepat. Sementara laki-laki, para bapak, umumnya hanya bisa fokus pada satu hal dalam satu waktu. Bahkan saya pernah mendengar, entah ini berdasar penelitian atau sekadar joke, jika laki-laki sedang mengerjakan sesuatu, jangan diajak bicara, karena fokus mereka sedang ke kerjaan mereka, tidak bisa terbagi, dan akhirnya kita terabaikan.

Menjadi ahli atau menjadi serba bisa secara rata-rata memang punya lebih dan kurangnya masing-masing. Memilih sebagai ahli, kita tentu akan lebih diperhitungkan dan dikenal orang. Kita jadi punya keyword untuk diri sendiri, yang mana ketika orang bertemu dengan keyword tersebut, akan langsung terpikir ke kita, dan sebaliknya. Jadi ciri khas. Kekurangannya, tidak sepenuhnya kekurangan sebenarnya, tentu saja untuk bidang lain kita harus mengandalkan orang lain. Sementara dengan menjadi orang yang serba bisa namun secara rata-rata, kita jadi tahu dengan banyak hal. Tapi, orang tidak akan terlalu mengenal, karena tidak ada yang menonjol dari diri kita.

Jadi, kita ingin menjadi seorang ahli dalam satu bidang, atau serba bisa namun rata-rata? Jangan jawab menjadi ahli dalam segala bidang lho, kalau begitu saya juga mau 😂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s