Hamil 38 Minggu (3 September 2016) : I’m Ready

Melewati bulan ke-9, memasuki bulan September, makin dekat due date, dan satu per satu temen yang hamilnya deketan mulai lahiran, bikin saya mau-gak-mau-mesti-siap-lahir-batin juga. Sejak setengah bulan lalu sudah stay di rumah mama, LDR sebentar sama suami yang mesti kerja, karena di sini keluarga lebih banyak dan lebih deket. Di rumah mertua, di mana selama ini kami numpang hidup sementara, keluarga agak jauhan dan lebih dikit. Dan eh, kayaknya kebanyakan ibu muda kalo lahiran emang mau deket sama orang tua sendiri kan? CMIIW 😁

Memasuki minggu ke-38, artinya janin di kandungan saya sudah masuk kategori cukup bulan. Sejak ini, kapan pun dia mau keluar, insya Allah sudah aman. Makanya sejak di rumah mama, saya sudah cuci-cuci semua pakaian dan perlengkapan buat si bayi. Biar bersih aja gitu, kan di toko pasti banyak tangan yang pegang, meski pakai plastik pembungkus sekali pun. Apa-apa yang kurang juga sudah dilengkapi, setidaknya siap lah untuk hari-hari pertama. Kalau masih ada yang kurang, bisa sambil jalan.

Persiapan

Jadi, yang disiapkan :

  • Tas berisi perlengkapan ibu dan bayi secukupnya. Saya masukin 2pcs per item. Jadi kalo tiba-tiba kontraksi dan mau ke bidan atau RS, tinggal angkut. Cusss.
  • Kartu jaminan kesehatan. Karena punya, ya disiapkan juga, hehe. Pokoknya identitas diri lah, macam KTP dan KK, kali aja kepake.
  • Dana umum (kayak monopoli ya?) alias tabungan persiapan persalinan, jaga-jaga kalau ada biaya tidak terduga . Ini sudah disiapkan sejak awal nikah, dicicil dikit-dikit tiap bulan. Alhamdulillah juga ada bantuan dari ‘dana pensiun‘ saya pas kemarin sempat kerja setahun, lumayan nominalnya. Kalo gak kepake bisa buat kontrak rumah setahun 😍 Hihihi ummanya sudah pengen banget punya rumah sendiri, tiap hari sounding ke janin “nak, lahirannya normal aja yaa, biar tabungannya bisa buat aqiqah sama ngontrak/bikin rumah buat kita” 😂
  • Lahir dan batin. Ini yang gak kalah penting sih. Nguatin diri, mbulatkan tekad biar siap lahir batin. Alhamdulillah, lingkungan sekitar juga dukung dengan terus mendo’akan. Sambil baca-baca juga, belajar teori melahirkan kayak cara mengejan, dll. Lumayan, jadi agak tenang.
  • Diet. DIET??? Iya, saya mesti bisa atur-atur makan nih, kurangi karbo sama gula, kayak yang dibilang dokter tempo hari. Soalnya pas kemarin USG lagi, BBJ sudah 2,8kg, naik sekitar 200 gram, padahal cuma jeda sekitar semingguan dari cek sebelumnya. Hikss, gimana ya? Padahal lapar terus.

    Hmm, ada perasaan gak sabar juga mau lahiran. Mau cepet lihat wajah si baby Z, mirip siapa ya? Umma apa Aba? Tapi yang kerennya, insya Allah bulan lahirannya sama kayak Umma Aba ya, September. Hihi.

    Keajaiban Komunikasi

    Oh iya, kemarin dapat pengetahuan baru dari grup Ibu ASI, pas ada yang tanya tentang janin yang kelilit tali pusar. Katanya, dari yang sudah pengalaman, kalau kita sounding terus ke janin, bisa dilepas sama janinnya sendiri. Jadi inget dulu pas mau USG cek jenis kelamin, sebelum ke dokter saya ajak ngobrol buat jangan nutupin kelaminnya, eh dia nurut. Sekali di scan, langsung ngangkang hihi. Baru sadar the power of ngajak-obrol-janin.

    Akhirnya tiap hari saya bilangin begini:

    “Nak, kalo lagi main, sambil coba dilepasin yaaa lilitan tali pusarnya, biar enak lahirnya. Bagus-bagus posisinya, biar lahirannya gampang. Sehat-sehat trus yaaa.”

    Trus kadang ditambahin juga:

    “Lahirannya normal aja ya, nak. Biar tabungannya bisa buat ngontrak/beli/bikin rumah kita sendiri.” 

    Hihihi.

    Kontraksi Palsu (Braxton Hicks)

    Sebenarnya sampai sekarang masih bingung kontraksi palsu itu yang gimana. Bulan-bulan kemarin sempat nyeri selangkangan  kirain itu kontraksi palsu, tapi katanya itu karena janin mulai turun, masuk panggul.

    Baca-baca, katanya lagi kalau kontraksi palsu itu kayak otot rahim mengeras gitu, jadi kalau dilihat dan dirasa perut jdi kenceng banget, keras. Nah kalau yang gini sebenarnya sudah sering dari trimester 2 apa awal trimester 3 ya, cuma ya sesekali aja.

    Sekarang, memang agak seringan. Apalagi kalau lagi rebahan, tiba-tiba perutnya keras banget. Gak sakit sih, tapi jadi gak enak aja posisinya. Biasanya saya elus-elus, akhirnya lembek sendiri.

    Apa bedanya braxton hicks dengan kontraksi beneran?

    Katanya, karena belum ngerasa sendiri, kalo kontraksi palsu biasanya sebentar, intervalnya lama dan gak teratur, kalau nyeri juga gak sakit banget. Dan akan pulih, kalo dibawa berubah posisi. Di saya, gak sakit sama sekali.

    Kalau sudah kontraksi asli, waktunya lama, intervalnya teratur, dan makin lama makin terasa nyeri, biasanya kerasa dari punggung belakang ke daerah perut depan. Katanya. Katanya, ya. Nanti cerita deh lebih jelasnya kalo sudah ngerasa sendiri.

    Btw, minggu depan mau USG lagi. Berhasil gak yaa soundingnya tentang lilitan? Semoga. Aamiin.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s