Ibu Magang: Kikuknya Ibu Baru

Melahirkan di rumah sakit pada magrib tanggal 8 September, 9 September siang saya sudah diperbolehkan untuk pulang setelah jadwal kunjungan dokter. Dapat nasehat sedikit untuk tidak terlalu agresif karena semalam sempat pingsan. Alhamdulillah tidak ada keluhan apa pun selain masih susah gerak karena nyeri jahitan.

Pulang ke rumah yang jaraknya cuma 7 km dari RS, ternyata cukup memerlukan perjuangan. Meski pakai mobil sendiri dan disupirin suami dengan pelaaaan dan hati-hati, tapi kena hentakan sedikit saja jahitan nyeri. Sesampainya di rumah langsung disambut keluarga besar. Turun dari mobil dibantu suami, karena geser duduk sedikit terasa nyeri. Nyeri terus ya? 😂

Diskusi Nama

Sejak masih hamil, tepatnya ketika jenis kelamin janin sudah terdeteksi, sebenarnya saya dan suami sudah menyiapkan beberapa nama yang kemudian mengerucut pada satu keputusan. Jadi, sejak hamil saya sudah mengajak bicara janin di kandungan sambil menyebut namanya, di postingan-postingan terdahulu sudah saya bocorkan inisialnya, Z.

Setelah bayinya lahir, nama tadi kami lempar ke keluarga, yang sebagian besar langsung setuju namun menyarankan untuk minta pendapat dulu dengan tetua keluarga. Sempat kebingungan karena diberi pilihan beberapa nama lagi, akhirnya diambillah jalan tengah, tetap memakai nama yang kami pilih namun nama lengkapnya disesuaikan agar memiliki arti yang baik dan sesuai dengan kaidah bahasa. Jadilah…

ADITIYA ZAIDA MUTTAQIN – pintar dan bertambah taqwa

Yak, Z A I D, panggilan sebenarnya, yang sudah kami sebut tiap-tiap waktu sejak dia dalam kandungan. Sebenarnya nama Zaid terinspirasi dari nama sahabat-sahabat Rasulullah, Zaid bin Tsabit dan Zaid bin Haritsah. Terlepas dari arti namanya yang juga sebagai do’a untuknya, kami berharap anak kami bisa sesholeh, secerdas dan seberani dua sahabat tersebut. Aamiin.

Kikuknya Jadi Ibu Baru

Alhamdulillah, tidak terasa sudah hampir dua bulan menjadi seorang ibu. Tantangan pertama sebagai ibu baru yang masih magang adalah… gendong bayi. Ya Allah, seumur hidup saya tidak pernah berani gendong bayi, yang sudah hitungan bulan sekali pun, apalagi yang newborn seperti ini. Tapi karena ini anak sendiri, mau tidak mau ya harus mau. Akhirnya sedikit demi sedikit memberanikan diri dan terus berlatih, sambil dibantu-bantu mama memperbaiki posisinya.

Menyusui pun sebelumnya tidak pernah (yaiyalah!). Jadi kombinasi kikuknya gendong bayi, sambil belajar posisi menyusui yang benar, berhasil membuat saya dalam seminggu pertama: tangan kram kapalan, tulang punggung terasa patah, pokoknya badan sakit semua diperparah dengan bekas jahitan yang masih rada-rada nyeri. Oh iya, nyeri jahitan ini kalau tidak salah baru mendingan setelah sekitar setengah bulan. Jadi selama masih nyeri, saya duduk harus diatur, geser harus pelan-pelan, BAB pun masih takut mengeden padahal tiap hari saya sudah banyak makan serat.

Umma, Begadang Yuk

Saat memposting kabar kelahiran bayi kami, beberapa ibu senior (yang lebih dulu punya anak) mengucapkan selamat sambil menyelipkan embel-embel “selamat begadang”. Awalnya cukup penasaran, ngajak begadang seperti apa sih bayi baru lahir? Ternyata…

Membuat kantung mata saya lebih besar dan lingkaran hitamnya jadi lebih pekat laiknya panda. Hihihi.

Setelah malam pertama dilewatkan di kamar RS dengan nyanyian tangisan bayi sahut-sahutan, malam kedua, di rumah, pun demikian. Bedanya sekarang bayinya cuma satu. Tiap dua jam dia bangun dan menangis, entah minta ASI atau pun BAB. Mau tidak mau sang ibu magang harus bangun untuk mengASIhi. Begitu juga malam ketiga. Tiga malam pertama itu subhanallah rewelnya minta ampun, meski sudah dikASIhi, dia tetap menangis dan menempel lamaaa di PD karena ASI saya masih belum banyak, jadi dia lapar terus kali ya? Makanya si ibu bapak baru, tidak bisa tidur nyenyak karena tidak terbiasa bangun terus di malam hari.

Alhamdulillah, malam keempat rewelnya berkurang karena ASI saya sudah lancar jaya sampai bocor.

Drama Sebulan Pertama

Suka duka selama hamil ternyata belum ada apa-apanya dibanding ketika bayinya sudah keluar. Karena setiap harinya adalah hal baru bagi orang tua baru ini, maka tiap hari adalah bentuk petualangan yang harus dilewati, entah dengan sukses maupun dengan bersimbah darah.

Mulai dari proses menyusui yang ternyata begitu banyak serba-serbinya, masalah bangun malam, rawannya kena babyblues, hingga berbagai macam perasaan yang campur aduk. Mungkin akan saya ceritakan masing-masing dalam postingan tersendiri.

Sebentar, saya mau mengASIhi dulu yaaa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s