Ibu Magang : Babyblues Syndrome

Mungkin babyblues syndrome sudah familiar di telinga para wanita, bahkan bagi yang belum melahirkan sekali pun. Dulu saya bingung mengapa setelah melahirkan, para ibu malah mengalami babyblues. Bukankah setelah 9 bulan mengandung, lalu bisa melihat langsung bayinya, ibu harusnya jauh lebih bahagia ketimbang sedih?

Setelah mengalami sendiri akhirnya saya percaya mengapa setelah melahirkan ibu-ibu sangat rawan stres. Melihat berbagai macam pemberitaan tentang ibu yang jadi gila, ibu yang membunuh bayinya, ibu yang menyiksa bayinya, dan kasus-kasus lain semacam itu, awalnya saya pikir ah jahat sekali mereka, tega sekali mereka, tidak sayangkah dengan anaknya? Ternyata, sebagian besar terjadi karena mereka mengalami babyblues parah yang disebut postpartum depression.

Apa saya mengalami babyblues? Entahlah, saya kurang paham definisi babyblues. Tapi memang ada kalanya saya tiba-tiba menangis entah karena apa, sedih tanpa sebab hingga rasanya kesal namun tidak tahu harus menumpahkannya kemana. Biasanya hal ini rawan terjadi di malam hari, ketika badan lelah, mata mengantuk, namun bayi saya menangis minta ASI, kadang tiba-tiba rasa sedih muncul sendiri.

Dalam kasus ini, saya masih dapat bantuan dari orang tua juga suami. Bangun malam ditemani, dibantu merawat bayi, dibuatkan teh hangat oleh suami ketika menyusui malam-malam, disuapi cemilan, hingga diajak main agar saya tidak terlalu ingat dengan rasa letih dan kantuk. Dengan dukungan orang tua dan suami yang begitu besar seperti itu, saya masih saja terkena babyblues. Maka dapat saya bayangkan bagaimana sebenarnya perasaan ibu fulanah, yang saya dengar menyakiti dan membunuh bayinya karena sering ditinggal suami dan ditekan oleh mertua. Merawat bayinya sendiri, merawat anak balitanya juga, mengurus rumah hingga sedih yang disebabkan oleh orang lain (suami dan mertua).

Setelah dipikir-pikir dengan logika, wajar sekali ibu baru mengalami babyblues. Perubahan hidup yang tiba-tiba jadi salah satu pencetusnya. Kemarin masih bisa tidur tenang, yang diurus hanya diri sendiri dan suami, sekarang ketika ada bayi jam tidur menjadi terganggu khususnya di minggu-minggu awal karena belum bisa menyesuaikan diri. Adanya bayi pun menambah beban pikiran. Bisa tidak merawat bayi dengan baik? Bagaimana caranya agar bayi bisa tumbuh berkecukupan? Bagaimana masa depannya? Tangisan bayi setiap saat tanpa kita tahu apa maksud sebenarnya juga bisa menekan dan mengubah mood ibu. Beberapa hal itu juga yang saya alami.

Alhamdulillah, tidak terlalu lama saya mengalami babyblues. Yang saya ingat, saya pernah menangis tanpa suara di tengah malam ketika menyusui bayi. Saya tahan-tahan sekuatnya, tapi air mata entah mengapa terus mengalir. Mungkin juga saat itu saya merasa sendiri, karena mama dan suami tertidur meskipun masih ada di dekat saya.

Kumpulan kekhawatiran akan bayi menumpuk di pikiran. Bayi didekati nyamuk saja rasa kesalnya luar biasa, takut dia sakit. Pernah juga saya ikut menangis hingga sesenggukan ketika bayi saya menangis dan sangat sulit ditenangkan. Seingat saya itu terjadi di minggu pertama, saat saya masih kikuk menggendong bayi, masih belum tahu cara menyusui yang benar dan masih merasa sangat lelah karena kantuk yang luar biasa. Disusui, bayi saya menolak. Digendong, bayi saya menangis. Diganti gendong oleh suami, tetap menangis. Saya coba susui lagi, malah menangis lebih kencang. Akhirnya tangis saya ikut pecah hingga suami berinisiatif mengambil alih bayi kami dari pelukan saya. Saat itu saya begitu takut dan khawatir. “Kamu menangis karena apa, nak? Sakit kah? Sakitnya dimana? Ibu tidak paham. Maafkan ibu. Maaf ibu tidak bisa mengerti kamu sampai kamu menangis kelelahan.” begitu kurang lebih yang saya pikirkan. Sepanjang ini, saya pikir itulah hal yang paling parah.

Karena babyblues adalah akumulasi dari rasa lelah, rasa takut dan rasa khawatir, maka seorang ibu harus dapat dukungan kasih sayang dari lingkungan sekitar untuk dapat mengatasinya. Persiapan kelahiran yang matang, membekali diri dengan pengetahuan tentang bayi dan cara mengasuh juga terus berdoa adalah solusinya. Ditambah dengan perhatian dari suami, bisa menghentikan babyblues syndrome lebih cepat.

Babyblues akan berlalu. Masa-masa klik saling mengerti antara bayi dan orang tua akan datang. Babyblues hanya salah satu warna dari motherhood.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s