Ibu Magang : Belajar Banyak Hal dari Proses Menyusui


Setelah 9 bulan menjadi bumil, akhirnya saya naik level jadi busui. Ternyata suka duka selama hamil belum ada apa-apanya dibanding masa menyusui. Sebagai ibu baru, saya merasa ada banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari pengalaman menjadi busui ini, entah ilmu tentang ASI, maupun pelajaran hidup semisal rasa syukur, ikhlas dan sabar.

Saya beruntung, beberapa saat sebelum melahirkan telah dikenalkan seorang teman pada Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) via media sosial Facebook. Saya diajak bergabung dengan grup ASI for Baby Kalsel yang dinaungi langsung AIMI Kalsel, yang di dalamnya banyak sekali info tentang serba-serbi ASI, dari panduan hari-hari awal menyusui, MP-ASI sampai proses menyapih.

Memang di awal saya merasa agak kecolongan karena tidak bisa melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yang sudah saya pelajari jauh-jauh hari dari berbagai literatur, karena RS tempat saya melahirkan ternyata tidak support hal itu. Setelah bayi lahir, saya hanya sekilas melihatnya, lalu langsung dibawa ke ruang bayi. Untunglah sekitar sejam kemudian, setelah saya pindah ke ruang inap, saya langsung bisa mendekap Zaid (bayi saya), segera menyusuinya dibantu mama, hingga Zaid tetap dapat kolostrum di awal hidupnya.

Karena belum pernah menyusui sama sekali sebelumnya, pun saya tidak pernah memperhatikan ibu lain menyusui bayinya, maka masa-masa awal sebagai busui jadi masa yang menurut saya penuh perjuangan dan pembelajaran. Minggu-minggu pertama saya harus selalu dibantu mama untuk mengangkat Zaid, diletakkan di lengan saya, lalu dibantu lagi jika saya ingin pindah menyusui ke PD lain. Selain karena saya masih agak kikuk menggendong bayi, saya juga masih tidak leluasa bergerak karena nyeri jahitan paska melahirkan.

Hari-hari awal, tepatnya 3 hari pertama, ASI saya belum ‘keluar’, namun tetap selalu saya susukan. Nah, hari-hari awal ini adalah masa rawan putus asanya para ibu muda. Saya membaca banyak curhatan dari berbagai grup ibu menyusui tentang “ASI-saya-kurang” atau “ASI-saya-tidak-kunjung-keluar” hingga akhirnya menyerah dan memberikan sufor kepada bayinya. Beruntung saya punya mama yang sedikit banyak paham perihal Ibu dan Anak dan ASI ekslusif, hingga selalu dimotivasi untuk menyusukan meski ASI saya (tampaknya) belum keluar. Saya pernah membaca selagi hamil, produksi ASI di awal kelahiran memang hanya sedikit, menyesuaikan dengan ukuran lambung bayi yang begitu kecil, dan terus menyusukan adalah cara untuk merangsang produksi ASI. Belakangan saya tahu istilahnya dari dokumen AIMI bahwa ASI itu supply on demand, dia diproduksi sesuai dengan permintaan/kebutuhan bayi. Masya Allah.

Kesalahan Menyusui

Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, ASI saya akhirnya (terlihat) keluar di malam keempat. Saya sedang tidur ketika tiba-tiba terasa ada air merembes di badan, begitu saya cek ternyata sudah basah seluruh badan karena ASI saya bocor. PD terasa sangat sakit dan keras, sementara ASI terus menetes. Alhamdulillah tidak lama Zaid bangun dan akhirnya kedua PD kembali normal setelah saya susukan.

Dari sinilah awalnya kesalahan saya dalam menyusui. Karena PD terasa bengkak, akhirnya kadang saya perah untuk mengurangi nyerinya, meski tidak pernah terpakai karena Zaid selalu minum langsung dari pabriknya. Namun pemerahan tidak saya lakukan secara terjadwal, hanya ketika saya sudah tidak bisa lagi menahan nyeri. Nah, yang benar jadwal pemerahan harus terjadwal, konsisten, begitu katanya. Kedua, saya sering berganti-ganti PD ketika menyusui. Kadang Zaid menangis ketika disodorkan satu PD, asumsi saya dia tidak suka PD yang itu hingga saya alihkan ke PD sebelah agar tidak menangis lagi. Belakangan saya tahu ternyata bukan karena tidak suka PD di sisi itu, tapi karena posisi menyusui dan pelekatan yang tidak benar.

Kesalahan ini terjadi berhari-hari tanpa saya ketahui, hingga akhirnya PD saya mudah sekali penuh sampai ASI-nya muncrat ketika Zaid menyusu. Akibat aliran ASI yg terlalu deras, dia sering tersedak lalu menangis dan berhenti menyusu. Saya pindahkan ke PD sebelahnya, minum sebentar lalu hal yang sama terjadi lagi. Ketika aliran menjadi deras, bahkan tetap mengalir meski tidak diisap, Zaid kembali tersedak, menangis hingga sulit ditenangkan.

Saya coba bertanya ke beberapa teman yang sudah senior dalam hal menyusui, mencari artikel di internet, membaca-baca kembali dokumen di grup ASI dan Komunitas Ibu Menyusui, akhirnya saya dapati bahwa keadaan yang saya alami dinamakan over-supply atau hiperlaktasi atau fast LDR, entahlah. Yang pasti tanda-tandanya sesuai dengan keadaan saya: PD bengkak, cepat penuh, aliran ASI deras, hingga bayi sering tersedak. Bayi yang sering tersedak lalu menangis bisa berakibat dia trauma hingga menolak untuk menyusu, begitu yang saya baca. Saya langsung bergetar, sedih, sangat takut Zaid trauma.

Saya cari tahu terus tentang penyebab, akibat hingga solusi masalah ini. Hingga akhirnya saya tahu bahwa cara menyusui saya salah. Seharusnya susukan dulu di satu PD hingga kosong, baru pindah ke PD satunya. Saya juga terus belajar posisi menyusui dan pelekatan yang benar, meski hanya dari tulisan dan gambar. Sampai saat ini pun terus belajar. Sebenarnya ada Kelas EdukASI Menyusui dari AIMI yang diselenggarakan berkala, tapi jadwalnya selalu tidak sesuai dengan saya, sehingga saya belum dapat kesempatan untuk belajar langsung dari konselor AIMI.

Untuk solusinya, saya mencoba cara pertama, yaitu memerah sedikit ASI sebelum menyusui. Namun ternyata tetap tidak berhasil. Aliran ASI tetap deras, Zaid tetap tersedak. Kemudian saya coba posisi menyusui setengah berbaring (bersandar) yang katanya akan mengurangi derasnya ASI, tapi ternyata tetap tidak berhasil. Lalu akhirnya saya coba metode block-feeding untuk mengurangi kebengkakan dan derasnya aliran ASI saya. Intinya dengan block-feeding kita hanya menyusukan satu sisi PD dalam dua sampai tiga kali waktu menyusui. Setelahnya baru pindah ke PD satunya, dilakukan dengan cara yang sama, disusukan dalam beberapa waktu menyusui. Dengan cara ini, PD yang tidak disusukan akan ‘berpikir’ bahwa bayi mengurangi permintaan, sehingga PD akan mengurangi produksi ASI. Supply on demand bekerja di sini. Untuk lebih jelasnya mungkin bisa dibaca artikel lain di internet atau di grup AIMI. Saya takut salah mendeskripsikan.

Setelah melakukan block-feeding sekitar 5 hari, alhamdulillah PD saya berangsur normal. Memang kadang aliran ASI masih deras, namun PD tidak lagi bengkak. Entah karena block-feeding saya berhasil, atau PD memang sudah bisa menyesuaikan kebutuhan bayi. Karena info dari AIMI, wajar jika di awal kelahiran PD masih bengkak karena masih dalam proses menyesuaikan berapa kebutuhan bayi. Lama kelamaan, sekitar bulan kedua, PD akan memproduksi ASI sesuai permintaan bayi.

Menyusui bukan Sekadar Memberi ASI

Iya, menyusui lebih dari sekadar memberi ASI kepada bayi. Kasarnya, anak SD pun bisa memberi ASI, namun menyusui adalah sebuah proses bonding antara ibu dan anak. Memang benar, saya paling suka saat proses menyusui, mendekap bayi, menggenggam jari-jari mungilnya, menatap wajahnya, mencium aroma khasnya. Masya Allah, begitu nikmatnya menjadi seorang ibu.

Saya pun belajar tentang serba-serbi ASI. Bahwa ASI terdiri dari dua jenis, yaitu foremilk atau ASI awal yang berwarna bening dan hindmilk, ASI akhir yang berwarna keruh. Foremilk yang kaya akan protein berguna untuk perkembangan otak bayi, sedangkan hindmilk kaya akan lemak untuk perkembangan fisiknya. Karena itulah menyusui dengan benar, menyelesaikan di satu PD sebelum beralih ke PD satunya, bisa memastikan bayi mendapatkan foremilk dan hindmilk yang cukup. Bayangkan jika saya terus melakukan cara menyusui seperti sebelumnya, berganti-ganti PD, maka Zaid hanya akan mendapat foremilk terus menerus tanpa sempat mencicipi hindmilk, tentu akan berpengaruh pada pertumbuhannya. Menyadari hal ini, sekali lagi saya ingatkan diri, busui harus terus belajar.

ASIX dan ASIP

Selain tantangan untuk belajar dari diri sendiri, menjadi busui juga berarti siap dengan keadaan lingkungan. Perbedaan antara ilmu kesehatan modern dengan kebiasaan-zaman-dulu ternyata sedikit banyak akan menimbulkan masalah. Mama memang paham tentang ASI ekslusif (ASIX), dimana selama 6 bulan bayi hanya diberikan ASI, karena beliau orang kesehatan. Namun lingkungan saya tidak.

Pernah Zaid disarankan untuk diminumi kopi dengan alasan agar dia tidak kejang-kejang. Pernah juga disuruh untuk diberi makan saja karena katanya Zaid yang badannya agak berisi tidak akan kenyang jika hanya diberi ASI, makanya dia rewel terus dan sebentar-sebentar menyusu. Padahal saat itu yang beliau lihat adalah Zaid dalam masa Growth Spurt (akan saya ceritakan di postingan lain).

Lantas apa tanggapan saya? Hanya saya balas dengan senyum.

Insya Allah kita bisa lulus ASIX ya, nak. Karena jangankan saya yang IRT murni/full time mother (FTM), yang tiap waktu bisa menyusui langsung memberi ASI, ibu pekerja/working mom (WM) saja rata-rata bisa lulus ASIX karena meski harus meninggalkan bayi, mereka sudah menyiapkan ASI perah (ASIP). Jadi bayi dari WM tetap bisa dapat ASI meski tidak disusui langsung sepanjang waktu. Hanya saja memang musti diperhatikan media pemberian ASIP, jangan pakai dot untuk menghindari bingung puting, begitu yang saya dapat dari AIMI.

Mengenai ASIP, sebagai FTM saya hanya pernah dua tiga kali memerah dan menyimpan ASI, ketika mengalami over-supply. Tentang haruskah FTM, yang bisa menyusui langsung tiap waktu, untuk memerah secara berkala masih belum saya pahami. Memang ada FTM yang selalu menyusui langsung sekaligus selalu memerah dengan terjadwal, karena pemerahan terjadwal akan semakin melancarkan produksi ASI. Namun sepanjang ini saya memang belum tergerak untuk memerah, karena alhamdulillah ASI saya cukup.

Belajar Syukur lewat ASI

Berkali-kali ditekankan oleh AIMI tiap kali ada yang bertanya bagaimana agar ASI melimpah, ASI itu bukan mencari ‘banyak’, tapi cukup. Benar lho, siapa pun tidak akan nyaman tidur kedinginan berbaju basah karena ASI merembes akibat produksi yang terlalu banyak.

Alhamdulillah, sekarang saya sudah jarang mendapati PD bengkak, paling hanya beberapa kali di malam hari, karena tengah malam hingga pagi adalah waktu dimana ASI sedang banyak-banyaknya. Sekarang meskipun PD saya tidak lagi bengkak (mangkar, kata Urang Banjar) , dan keadaan ini sangat saya syukuri karena badan saya terasa lebih nyaman, alhamdulillah ASI selalu cukup setiap Zaid membutuhkan. Meski dalam keadaan yang saya rasa sudah kosong pun, ketika Zaid ingin, ASI akan keluar. Masya Allah, bukankah mekanisme produksi ASI ini sudah diatur dengan begitu sempurna oleh Allah?

Ada yang namanya LDR, let down reflex. Keadaan dimana ASI akan keluar ketika menerima rangsangan, biasanya dari isapan bayi, ditandai dengan rasa nyeri yang muncul dan PD tiba-tiba langsung terasa penuh. Ketika PD saya terasa kosong, lalu Zaid tetap ingin menyusu, maka LDR ini kembali datang, ASI saya kembali meluncur bak air mancur.

Oh iya, LDR selain dari isapan bayi juga bisa dirangsang dengan cara lain kok. Ini berguna untuk para WM saat memerah ASI yang dengan adanya LDR memerah akan jadi lebih mudah dan cepat karena aliran ASI lancar. Biasanya bisa dengan memandang foto bayi, membayangkan bayinya, atau rangsangan fisik lain. Saya bahkan pernah mengalami, ketika mandi lalu mendengar sayup-sayup tangisan Zaid, LDR datang, ASI saya keluar dengan sendirinya.

Intinya, segala yang berlebihan itu tidak baik, Rasul ajarkan itu. Kita hanya perlu beryukur, syukur karena dicukupkan. Setelah tahu lebih banyak tentang ASI, saya jadi semakin pro ASI. Jika pada susu formula buatan manusia saja kita begitu percaya akan kandungannya, bagaimana dengan cairan yang diciptakan oleh Sang Pencipta? Tentu akan lebih luar biasa kan?


disclaimer:

*mengenai pemberian sufor/ASI, menyusui langsung/ASIP, saya percaya setiap ibu tahu dan ingin yang terbaik bagi anaknya. Maka apa pun pilihan mereka, tentu telah mereka pikirkan matang-matang berdasar pada berbagai faktor.

** untuk ilmu tentang ASI dan menyusui, tulisan saya hanya sebagai pengetahuan awal. Untuk lebih jelasnya lebih baik langsung akses dokumen AIMI atau ke konselor laktasi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s