Ibu Magang : Memilah dan Memilih Kebutuhan Bayi

Sejak awal hamil, pasti kita sudah sibuk membeli perlengkapan bayi. Bagi yang hamil untuk pertama kali tentu belum ada pengalaman tentang apa-apa saja sebenarnya yang benar-benar dibutuhkan, sehingga perlu rekomendasi dari orang-orang yang telah berpengalaman atau mencari list barang dari internet, seperti yang pernah saya lakukan.

Memang pakaiannya yang mungil-mungil, pernak-pernik yang lucu hingga barang penunjang lain seperti stroller bisa membuat kalap ibu muda yang begitu antusias menunggu kelahiran bayi. Orang tua mana pun pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, tinggal menyesuaikan dengan budget yang dimiliki.

Saya juga telah membeli banyak perlengkapan bayi sebelum melahirkan. Ternyata ada beberapa barang yang sebenarnya tidak terlalu perlu, sebaliknya ada juga beberapa barang yang sekarang dirasa sangat perlu tapi tidak saya beli sebelumnya.

Yang Tidak (Terlalu) Dibutuhkan

Versi saya ya.

Pertama, gurita. Sampai Zaid umur 2 bulan lebih ini, gurita berperekat yang saya beli sebanyak 3pcs tidak pernah sekalipun terpakai. Ini karena sekarang gurita memang tidak direkomendasikan lagi untuk dipakaikan ke bayi. CMIIW.

Kedua, bedong instan. Itu lho bedong yang tinggal tarik ritsletingnya, bayi langsung terbungkus rapi. Bedong instan hanya terpakai tidak lebih dari 10 kali, padahal saya beli 2pcs, karena biasanya Zaid lebih sering dibedong memakai sarung atau pun selimut serbaguna. Masalah selera sih ya. Pemakaian bedong sebenarnya hanya di awal-awal kelahiran karena setelah sebulan lebih, Zaid malah lebih suka pakai baju kutung karena dia mudah sekali berkeringat. Dan sekarang pun jika ingin dipakaikan bedong instan, sudah tidak muat di badan Zaid. Huhuhu.

Ketiga, sarung tangan. Lewat sebulan, Zaid sudah tidak lagi pakai sarung tangan, karena katanya akan lebih baik dibiarkan terbuka agar bayi bisa mengeksplor indera perabanya. Padahal saya beli sarung tangan lumayan banyak, tapi hanya terpakai sebentar saja. Memang tetap harus hati-hati, selalu pastikan kukunya terpotong pendek jika tidak ingin ada bekas cakaran di mukanya. 

Yang (Ternyata) Dibutuhkan

Lagi-lagi versi saya.

Apron Menyusui. Karena saya masih bolak-balik rumah orang tua dan mertua yang lumayan jauh, maka saya sering diharuskan keadaan untuk menyusui di luar ruangan, meski dalam perjalanan lebih sering saya lakukan di dalam mobil. Nah, perkara menyusui di tempat umum sebenarnya sudah hal lumrah bagi sebagian orang, tapi bagi saya tetap hal yang membuat risih karena ini perkara aurat. Pernah saat ingin imunisasi Zaid ke puskesmas, dia minta minum. Saya yang memang tidak pernah menyimpan ASIP, harus menyusui langsung saat itu juga, padahal di puskesmas tidak hanya ibu-ibu tapi juga ada bapak-bapak yang ikut mengantar isterinya. Untunglah saya bisa masuk ke ruangan, menumpang untuk menyusui sebentar. Akhirnya saya beli apron menyusui dan alhamdulillah ketika kebetulan jalan ke pasar, saya bisa menyusui Zaid di tengah banyak orang tanpa merasa risih atau malu.

Tas Sedang/Besar. Sebelumnya kami hanya membeli satu tas kecil yang sekiranya muat beberapa diapers, peralatan bayi dan satu dua baju ganti. Namun setelah melakukan perjalanan bolak-balik rumah orang tua dan mertua, ternyata Zaid perlu tas yang lebih besar. Alhamdulillah saat aqiqahan ada yang memberi kado satu tas sedang dan satu tas besar, lengkaplah sudah. Jadi biasanya jika jalan sebentar di dalam kota saya hanya perlu tas kecil. Tapi jika akan pergi jauh, lama di perjalanan, tas sedang dan tas besar yang harus diangkut karena kami membawa lebih banyak peralatan dan pakaian. Bahkan pakaian saya pun kadang ikut masuk ke tas Zaid, tujuannya agar tidak menambah tas bawaan lagi.

Gendongan. Saya kira gendongan tidak akan terpakai karena selain saya jarang keluar rumah, jika terdesak saya masih bisa menggunakan sarung atau gendongan batik alias cukin. Tapi makin ke sini Zaid makin berat, saya bahkan suami kewalahan menggendongnya dengan tangan kosong. Memang ada stroller, tapi sepertinya terlalu ribet untuk dipakai setiap waktu. Bagi saya stroller hanya untuk jalan-jalan santai, tidak bisa selalu digunakan di rumah, terlebih saya lebih suka memeluk bayi saya dibanding mendorongnya di stroller

Kami sebenarnya juga diberi kado baby carrier saat aqiqahan, tapi jenisnya hanya bisa digunakan ketika bayi sudah bisa duduk atau setidaknya punggung dan lehernya sudah tegak. Nah, beberapa hari yang lalu saya tidak sengaja membaca review seorang ibu tentang gendongan dengan dudukan, alias hipseat carrier. Hipseat-nya bisa dipakai tunggal, dilepas dari carrier-nya sehingga bisa digunakan sejak newborn untuk membantu menggendong atau menyusui. Aduh, saya langsung jatuh cinta. Sayang.. 

Sayang, harganya lumayan mahal untuk kondisi dompet saya. Ada kualitas, ada harga. Tapi alhamdulillah, produk ini sedang mengadakan giveaway berhadiah hipseat carrier model terbaru, saya sudah ikut dan semoga rezeki Zaid ya. Jika pun belum rezeki gratisan, kami sepertinya harus menabung untuk membelinya, karena setelah membaca puluhan review dari penggunanya, saya yakin hipseat carrier ini akan sangat membantu saya dalam mengasuh Zaid. Yang paling penting, produk ini sudah disertifikasi oleh Badan Kesehatan Dunia, jadi sudah pasti aman untuk pertumbuhan tulang bayi. Harga terjangkau tapi tidak jelas keamanannya, atau mahal tapi aman untuk anak kita? 

Intinya, jika kita bisa menghabiskan banyak uang untuk hobi dan keperluan sendiri, mengapa harus pelit mengeluarkan dana untuk kepentingan anak? #ntms

*bukan iklan produk, ini murni keinginan seorang ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s