Ibu Magang : Growth Spurt, Melatih Ketangguhan Ibu

Baru saja selesai disusui dan tertidur di pelukan, saat ditaruh, eh bangun lagi. Lalu nangis mau minta susu lagi, sambil digendong baru tenang. Seharian semalaman akhirnya tidak mau tidur, maunya nempel di ibu dan terus nyusu.

Pernah mengalami hal yang mirip seperti itu? Bagaimana rasanya?

Pertama kali mengalaminya yang saya rasa hanyalah… lelah. Iya, lelah. Waktu itu baru minggu kedua setelah melahirkan, tiba-tiba Zaid perilakunya seperti itu, maunya terus mimi, digendong, tiap ditaruh nangis dan seharian sulit ditidurkan. Meski habis mimi sempat tertidur di PD, mau dilepas dari badan saya, dia bangun lagi. Lelah? Sangat. Saat itu badan saya belum pulih, belum terbiasa begadang juga, lalu siangnya tidak bisa istirahat karena Zaid terus nempel. Ya Allah ini bayi kenapa? Sempat khawatir saat itu, apa ASI saya tidak mencukupi (padahal di waktu bersamaan saya mengalami hiperlaktasi)? Lagi sakitkah? Pokoknya berbagai macam kegelisahan berputar-putar di kepala saya.

Alhamdulillah setelah googling, saya menemukan jawabannya. Ternyata Zaid sedang mengalami Growth Spurt. Dan ini sangaaaat sangat wajar. Alhamdulillah. Akhirnya saya coba dalami, membaca beberapa referensi. Dan seperti biasa, dokumen di grup AIMI selalu menenangkan saya.

Growth Spurt alias percepatan pertumbuhan, berikutnya saya singkat GS, adalah fenomena yang mungkin jadi salah satu pencetus stress bagi ibu baru, jika tanpa dibarengi dengan pengetahuan dan dukungan keluarga. Growth spurt sebenarnya adalah kejadian yang wajar bagi manusia karena merupakan bagian dari fase pertumbuhan. Mengutip kalimat di dokumen AIMI Kalsel, “ingatkah kita pernah mengalami ingin makan terus saat usia menjelang remaja?”, nah itu juga GS. Sama halnya pada bayi.
Tanda-tanda GS pada bayi biasanya, seperti:

  • Frekuensi menyusu meningkat
  • Di beberapa kasus, siang hari bayi tidur seharian, malamnya bangun terus ingin menyusu (seolah tahu bahwa malam hari produksi ASI lebih banyak)
  • Lebih rewel
  • Selalu ingin menempel dengan ibunya
  • Sulit ditidurkan

Masa-masa GS bisa terjadi kapan saja, misal di minggu kedua, minggu keempat, 3 bulan, 5 bulan, 7 bulan, dan sebagainya. Lama GS dalam sekali fase antara 2 sampai 10 hari. Seingat saya setidaknya saya sudah mengalagi 2 GS, saat 2 minggu dan 5 minggu usia Zaid. Yang pertama lamanya sekitar seminggu, yang kedua sekitar 3 hari.

Nah, GS jadi masa rawan ibu-ibu gagal ASIX. Karena bayi terus ingin menyusu, banyak yang beranggapan bahwa dia belum kenyang atau ASI kita kurang, sehingga menyerah pada sufor. Ingat saja prinsip ASI “supply and demand”, semakin banyak permintaan dari bayi, akan semakin banyak pula PD kita memproduksi ASI. Intinya, frekuensi menyusu bayi yang meningkat pada masa GS adalah cara bayi untuk membantu kita meningkatkan suplai ASI untuk perkembangan usia selanjutnya. Jadi terus berpikir positif ya, bun. ASI kita cukup kok.

Selamat belajar jadi ibu tangguh. Pada masa GS bayi tidak perlu asupan lain selain ASI, susui saja semau bayi, GS pasti akan berlalu. Yang tidak kalah pentig, ibu terus jaga kesehatan yaaa :)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s