Ibu Magang : Fase Oral, Haruskah Bayi Diberi Empeng?

from google

Sejak umur sebulan lebih Zaid nampaknya sudah memasuki fase oral, di mana segala sesuatu yang ada di dekatnya selalu ingin dimasukkan ke mulut. Awalnya hanya jari tangan, satu dua kemudian lima hingga muat kesepuluh jari di mulutnya.

Hobi Zaid: makan jari, semuat mulutnya.

Memasuki fase oral, apalagi ketika akan tumbuh gigi, gusi bayi terasa gatal dan dia mencoba untuk menggigit apa saja. Banyak orang tua yang memberikan pacifier atau empeng kepada bayinya. Tujuannya tentu saja agar hasrat mengecap si bayi selalu terpenuhi dan membuatnya lebih tenang sehingga ibu bisa mengerjakan pekerjaan rumah.

Sampai sekarang saya belum pernah terpikir untuk memberikan empeng. Kenapa? Karena dalam pandangan saya empeng sama saja dengan dot, mengutip kalimat yang sering bertebaran, “dot itu jahat!”

Kekhawatiran saya bahwa nanti Zaid akan bingung puting ketika diberi empeng membuat saya lebih membiarkan Zaid untuk berkreasi dengan fase oralnya. Saya memilih untuk tidak mengenalkan empeng kepada Zaid. Selain karena alasan di atas, banyak efek buruk dari empeng dibanding manfaatnya (bunda bisa googling).Memang sudah saya belikan teether beberapa waktu lalu, tapi alih-alih memasukkan ke mulut, dia malah hanya memegang dan memperhatikan teethernya. Kadang dia juga lebih suka mengecap tangannya sendiri. Sampai saat ini saya hanya membiarkan mulut Zaid dimasuki PD saya, teether, dan tangannya (dan selimut, dan ujung handuk, dan jari saya, dan jari suami, dan bahu saya).

Biasanya saya akan lakukan beberapa hal ini untuk mengalihkan perhatian Zaid dari kebiasaannya mengemut jari:

  • Mengajaknya bicara
  • Mengalihkannya pada mainan berwarna atau bersuara
  • Memberi teether
  • Jika ada tanda-tanda lapar, maka akan saya alihkan ke PD. Disusui.

Sejauh ini, karena saya Full Time Mother yang 24/7 standby di samping Zaid, saya belum pernah memberikan dot dan semacamnya. Zaid selalu direct breastfeeding, ASI fresh. Saat bepergian pun, saya tidak pernah menyetok ASIP, tapi selalu menyusui langsung meski di tempat umum, dengan bantuan nursing cover tentunya.

Kengerian tentang cerita-cerita banyak ibu akan bayinya yang bingung puting membuat saya lebih waspada. Karena jika sudah bingung puting, otomatis produksi ASI akan menurun karena bayi menolak untuk menyusu langsung. Dipompa pun tidak akan seefektif isapan bayi. Apalagi proses relaktasi tidak semudah seperti belajar menyusui pertama kali.

Namun semua kembali pada pilihan ibu masing-masing. Tentu setiap ibu tahu yang terbaik bagi anaknya dengan segala konsekuensinya. Banyak kok yang berhasil lulus ASIX meski tidak pernah menyusui langsung, mereka selalu rutin pumping dan bayi tetap dapat ASI (dengan ASIP). Tapi bagi FTM seperti saya, tentu sebuah kerugian besar jika merusak nursing habit bayi dengan melibatkan dot/empeng.

Meski tidak semua bisa digeneralisasi, pada beberapa kasus ada bayi yang diberi dot tidak mengalami bingung puting, tapi bukanlah hal yang baik untuk mencoba-coba. Media pemberian ASIP, selain dot pun ada banyak pilihan lain. Seperti, gelas, sendok, pipet dan cup feeder.

Yuk belajar jadi ibu yang bijak. Ibu harus banyak membaca dan belajar karena mengurus bayi tidak bisa diulang. Minimalisasi kesalahan yaaa, bu. Semangaaaat :)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s