Ibu Magang : Anak Pintar atau Rewel, Hasil Sugesti Ibu dan Lingkungan

Zaid kayaknya enak ya diurus? Anteng terus.” seorang kawan pernah berujar.

Saya hanya tersenyum mengiyakan. Iya, alhamdulillah. Masya Allah, Zaid memang pintar, anak sholeh, tidak pernah menyusahkan umma aba, selalu ceria dan bahagia. Aamiin.

Meski kalau boleh bongkar rahasia, ada kok masanya saya stres karena sudah pasrah menenangkan Zaid yang saat itu menangis. Tapi yaa menangis memang sewajarnya bayi. Karena dia lapar, karena haus, karena mengantuk, karena gerah, karena lelah, karena berisik. Memang begitu komunikasi bayi, kan dia belum bisa bicara.

Dulu saya juga sempat stres, frustasi ngurus anak bayi, apalagi di minggu awal. Duh, rasanya kok saya tidak sanggup yaa. Tapi kemudian saya tidak sengaja membaca sebuah artikel (sayangnya saya lupa dimana), dan JLEBBB!!! Tertohok. Langsung kena sasaran. Saya merasa lalai.

Jadi inti artikelnya menjelaskan bahwa jangan pernah kita mengira meski masih kecil, bayi tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa merasakan dan tidak bisa meniru. Sebenarnya apa yang inderanya tangkap, itulah yang akan dirasakan bayi. Apalagi chemistry dengan ibu, bonding yang kuat, sehingga ibu memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak, baik fisik, mental maupun sifat anak sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan.

Ingat kan bahwa kita disarankan untuk jangan stres, jangan sedih dan jangan memikirkan hal aneh maupun negatif, karena akan berpengaruh ke janin? Bagaimana feeling ibu saat hamil akan dirasakan juga oleh janin. Nah, begitu pula bayi.

Kalau ibu berpikir, “Duh, anakku kok rewel terus ya?” secara tidak langsung pikiran negatif ini akan mempengaruhi bayi, sehingga dia akan rewel beneran.

Lalu ibu bicara di depan bayi, “Nak, kok kamu nangis terus? Kok susah ditidurkan?” bayi akan mendengar dan tertanam di benaknya bahwa dia adalah bayi yang selalu menangis, yang susah ditidurkan.

Perkataan itu sugesti lho, dan tidak hanya pengaruh ke ibu sendiri, tapi juga ke bayi. Sebisanya hindari pemikiran negatif, hindari mengeluhkan keadaan bayi, termasuk berkeluh-kesah di media sosial seperti, “Anakku kenapa rewel terus ya?” yang akan dibaca oleh banyak orang.

Makanya sekarang saya sebisa mungkin terus belajar jika ditanya orang, “Zaid gimana nih hari ini?” selalu saya jawab, “Alhamdulillah, pinter.” meski kenyataannya saya sedang jungkir balik menenangkan dia. Apalagi kalau suami yang tanya, saya pikir toh tidak ada manfaatnya juga kalau saya jawab anak kami rewel, malah akan menambah pikiran suami di kantor. Menjawab dengan hal yang positif, otomatis orang-orang juga akan berpikir hal yang sama, “oh, Zaid pinter yaaaa.” sehingga tidak akan ada pemikiran negatif baik dari saya dan suami, juga dari orang sekitar. Pokoknya selaluuuuu usahakan berpikir dan melakukan yang positif. Tapi… kalo testpack, positif laginya nanti dulu ya. Hehe.

Terakhir, perlu diingat hierarki tertinggi tetap diperankan oleh ayah. Karena kuncinya adalah sepintar apa suami bisa membuat isteri bahagia, jauh dari stress, tidak tertekan dan selalu bisa menghadirkan hawa positif di rumah. Bahkan percaya atau tidak, suami adalah booster ASI alami lho, asalkan bisa membuat isteri terus merasa nyaman.

Oh iya, banyak yang melabeli Zaid sebagai bayi yang “murah senyum” bahkan saat pertama bertemu. Kebetulan Zaid memang orang yang mudah menerima orang baru. Nah, pelabelan orang ini jadi semacam gema yang terus bergaung, satu dua orang yang mengatakan murah senyum, didengar oleh yang lain, menjadikannya kesan pertama, yang kemudian melabelkan serupa. Akhirnya jadi pemikiran permanen orang-orang bahwa Zaid murah senyum. Sugesti positif bagi Zaid. Sebenarnya semua bayi itu peniru ulung, begitu pun Zaid. Selalu dihadapi dengan senyum, selalu ditemani dengan senyum, dia akan meniru. Asalkan orang lain tersenyum dan memasang wajah ramah, dia akan ikut senyum kok. Sesimpel itu :)

Iklan