Ibu Magang : Fase Oral, Haruskah Bayi Diberi Empeng?

from google

Sejak umur sebulan lebih Zaid nampaknya sudah memasuki fase oral, di mana segala sesuatu yang ada di dekatnya selalu ingin dimasukkan ke mulut. Awalnya hanya jari tangan, satu dua kemudian lima hingga muat kesepuluh jari di mulutnya.

Hobi Zaid: makan jari, semuat mulutnya.

Memasuki fase oral, apalagi ketika akan tumbuh gigi, gusi bayi terasa gatal dan dia mencoba untuk menggigit apa saja. Banyak orang tua yang memberikan pacifier atau empeng kepada bayinya. Tujuannya tentu saja agar hasrat mengecap si bayi selalu terpenuhi dan membuatnya lebih tenang sehingga ibu bisa mengerjakan pekerjaan rumah.

Sampai sekarang saya belum pernah terpikir untuk memberikan empeng. Kenapa? Baca lebih lanjut

Ibu Magang : Babyblues Syndrome

Mungkin babyblues syndrome sudah familiar di telinga para wanita, bahkan bagi yang belum melahirkan sekali pun. Dulu saya bingung mengapa setelah melahirkan, para ibu malah mengalami babyblues. Bukankah setelah 9 bulan mengandung, lalu bisa melihat langsung bayinya, ibu harusnya jauh lebih bahagia ketimbang sedih?

Setelah mengalami sendiri akhirnya saya percaya mengapa setelah melahirkan ibu-ibu sangat rawan stres. Melihat berbagai macam pemberitaan tentang ibu yang jadi gila, ibu yang membunuh bayinya, ibu yang menyiksa bayinya, dan kasus-kasus lain semacam itu, awalnya saya pikir ah jahat sekali mereka, tega sekali mereka, tidak sayangkah dengan anaknya? Ternyata, sebagian besar terjadi karena mereka mengalami babyblues parah yang disebut postpartum depression.

Apa saya mengalami babyblues? Entahlah, saya kurang paham definisi babyblues. Tapi memang ada kalanya saya tiba-tiba menangis entah karena apa, sedih tanpa sebab hingga rasanya kesal namun tidak tahu harus menumpahkannya kemana. Biasanya hal ini rawan terjadi di malam hari, ketika badan lelah, mata mengantuk, namun bayi saya menangis minta ASI, kadang tiba-tiba rasa sedih muncul sendiri.

Dalam kasus ini, saya masih dapat bantuan dari orang tua juga suami. Bangun malam ditemani, dibantu merawat bayi, dibuatkan teh hangat oleh suami ketika menyusui malam-malam, disuapi cemilan, hingga diajak main agar saya tidak terlalu ingat dengan rasa letih dan kantuk. Dengan dukungan orang tua dan suami yang begitu besar seperti itu, saya masih saja terkena babyblues. Maka dapat saya bayangkan bagaimana sebenarnya perasaan ibu fulanah, yang saya dengar menyakiti dan membunuh bayinya karena sering ditinggal suami dan ditekan oleh mertua. Merawat bayinya sendiri, merawat anak balitanya juga, mengurus rumah hingga sedih yang disebabkan oleh orang lain (suami dan mertua).

Setelah dipikir-pikir dengan logika, wajar sekali ibu baru mengalami babyblues. Perubahan hidup yang tiba-tiba jadi salah satu pencetusnya. Kemarin masih bisa tidur tenang, yang diurus hanya diri sendiri dan suami, sekarang ketika ada bayi jam tidur menjadi terganggu khususnya di minggu-minggu awal karena belum bisa menyesuaikan diri. Adanya bayi pun menambah beban pikiran. Bisa tidak merawat bayi dengan baik? Bagaimana caranya agar bayi bisa tumbuh berkecukupan? Bagaimana masa depannya? Tangisan bayi setiap saat tanpa kita tahu apa maksud sebenarnya juga bisa menekan dan mengubah mood ibu. Beberapa hal itu juga yang saya alami.

Alhamdulillah, tidak terlalu lama saya mengalami babyblues. Yang saya ingat, saya pernah menangis tanpa suara di tengah malam ketika menyusui bayi. Saya tahan-tahan sekuatnya, tapi air mata entah mengapa terus mengalir. Mungkin juga saat itu saya merasa sendiri, karena mama dan suami tertidur meskipun masih ada di dekat saya.

Kumpulan kekhawatiran akan bayi menumpuk di pikiran. Bayi didekati nyamuk saja rasa kesalnya luar biasa, takut dia sakit. Pernah juga saya ikut menangis hingga sesenggukan ketika bayi saya menangis dan sangat sulit ditenangkan. Seingat saya itu terjadi di minggu pertama, saat saya masih kikuk menggendong bayi, masih belum tahu cara menyusui yang benar dan masih merasa sangat lelah karena kantuk yang luar biasa. Disusui, bayi saya menolak. Digendong, bayi saya menangis. Diganti gendong oleh suami, tetap menangis. Saya coba susui lagi, malah menangis lebih kencang. Akhirnya tangis saya ikut pecah hingga suami berinisiatif mengambil alih bayi kami dari pelukan saya. Saat itu saya begitu takut dan khawatir. “Kamu menangis karena apa, nak? Sakit kah? Sakitnya dimana? Ibu tidak paham. Maafkan ibu. Maaf ibu tidak bisa mengerti kamu sampai kamu menangis kelelahan.” begitu kurang lebih yang saya pikirkan. Sepanjang ini, saya pikir itulah hal yang paling parah.

Karena babyblues adalah akumulasi dari rasa lelah, rasa takut dan rasa khawatir, maka seorang ibu harus dapat dukungan kasih sayang dari lingkungan sekitar untuk dapat mengatasinya. Persiapan kelahiran yang matang, membekali diri dengan pengetahuan tentang bayi dan cara mengasuh juga terus berdoa adalah solusinya. Ditambah dengan perhatian dari suami, bisa menghentikan babyblues syndrome lebih cepat.

Babyblues akan berlalu. Masa-masa klik saling mengerti antara bayi dan orang tua akan datang. Babyblues hanya salah satu warna dari motherhood.

Ibu Magang: Kikuknya Ibu Baru

Melahirkan di rumah sakit pada magrib tanggal 8 September, 9 September siang saya sudah diperbolehkan untuk pulang setelah jadwal kunjungan dokter. Dapat nasehat sedikit untuk tidak terlalu agresif karena semalam sempat pingsan. Alhamdulillah tidak ada keluhan apa pun selain masih susah gerak karena nyeri jahitan.

Pulang ke rumah yang jaraknya cuma 7 km dari RS, ternyata cukup memerlukan perjuangan. Meski pakai mobil sendiri dan disupirin suami dengan pelaaaan dan hati-hati, tapi kena hentakan sedikit saja jahitan nyeri. Sesampainya di rumah langsung disambut keluarga besar. Turun dari mobil dibantu suami, karena geser duduk sedikit terasa nyeri. Nyeri terus ya? 😂

Diskusi Nama

Sejak masih hamil, tepatnya ketika jenis kelamin janin sudah terdeteksi, sebenarnya saya dan suami sudah menyiapkan beberapa nama yang kemudian mengerucut pada satu keputusan. Jadi, sejak hamil saya sudah mengajak bicara janin di kandungan sambil menyebut namanya, di postingan-postingan terdahulu sudah saya bocorkan inisialnya, Z.

Setelah bayinya lahir, nama tadi kami lempar ke keluarga, yang sebagian besar langsung setuju namun menyarankan untuk minta pendapat dulu dengan tetua keluarga. Sempat kebingungan karena diberi pilihan beberapa nama lagi, akhirnya diambillah jalan tengah, tetap memakai nama yang kami pilih namun nama lengkapnya disesuaikan agar memiliki arti yang baik dan sesuai dengan kaidah bahasa. Jadilah…

ADITIYA ZAIDA MUTTAQIN – pintar dan bertambah taqwa

Yak, Z A I D, panggilan sebenarnya, yang sudah kami sebut tiap-tiap waktu sejak dia dalam kandungan. Sebenarnya nama Zaid terinspirasi dari nama sahabat-sahabat Rasulullah, Zaid bin Tsabit dan Zaid bin Haritsah. Terlepas dari arti namanya yang juga sebagai do’a untuknya, kami berharap anak kami bisa sesholeh, secerdas dan seberani dua sahabat tersebut. Aamiin.

Kikuknya Jadi Ibu Baru

Alhamdulillah, tidak terasa sudah hampir dua bulan menjadi seorang ibu. Tantangan pertama sebagai ibu baru yang masih magang adalah… gendong bayi. Ya Allah, seumur hidup saya tidak pernah berani gendong bayi, yang sudah hitungan bulan sekali pun, apalagi yang newborn seperti ini. Tapi karena ini anak sendiri, mau tidak mau ya harus mau. Akhirnya sedikit demi sedikit memberanikan diri dan terus berlatih, sambil dibantu-bantu mama memperbaiki posisinya.

Menyusui pun sebelumnya tidak pernah (yaiyalah!). Jadi kombinasi kikuknya gendong bayi, sambil belajar posisi menyusui yang benar, berhasil membuat saya dalam seminggu pertama: tangan kram kapalan, tulang punggung terasa patah, pokoknya badan sakit semua diperparah dengan bekas jahitan yang masih rada-rada nyeri. Oh iya, nyeri jahitan ini kalau tidak salah baru mendingan setelah sekitar setengah bulan. Jadi selama masih nyeri, saya duduk harus diatur, geser harus pelan-pelan, BAB pun masih takut mengeden padahal tiap hari saya sudah banyak makan serat.

Umma, Begadang Yuk

Saat memposting kabar kelahiran bayi kami, beberapa ibu senior (yang lebih dulu punya anak) mengucapkan selamat sambil menyelipkan embel-embel “selamat begadang”. Awalnya cukup penasaran, ngajak begadang seperti apa sih bayi baru lahir? Ternyata…

Membuat kantung mata saya lebih besar dan lingkaran hitamnya jadi lebih pekat laiknya panda. Hihihi.

Setelah malam pertama dilewatkan di kamar RS dengan nyanyian tangisan bayi sahut-sahutan, malam kedua, di rumah, pun demikian. Bedanya sekarang bayinya cuma satu. Tiap dua jam dia bangun dan menangis, entah minta ASI atau pun BAB. Mau tidak mau sang ibu magang harus bangun untuk mengASIhi. Begitu juga malam ketiga. Tiga malam pertama itu subhanallah rewelnya minta ampun, meski sudah dikASIhi, dia tetap menangis dan menempel lamaaa di PD karena ASI saya masih belum banyak, jadi dia lapar terus kali ya? Makanya si ibu bapak baru, tidak bisa tidur nyenyak karena tidak terbiasa bangun terus di malam hari.

Alhamdulillah, malam keempat rewelnya berkurang karena ASI saya sudah lancar jaya sampai bocor.

Drama Sebulan Pertama

Suka duka selama hamil ternyata belum ada apa-apanya dibanding ketika bayinya sudah keluar. Karena setiap harinya adalah hal baru bagi orang tua baru ini, maka tiap hari adalah bentuk petualangan yang harus dilewati, entah dengan sukses maupun dengan bersimbah darah.

Mulai dari proses menyusui yang ternyata begitu banyak serba-serbinya, masalah bangun malam, rawannya kena babyblues, hingga berbagai macam perasaan yang campur aduk. Mungkin akan saya ceritakan masing-masing dalam postingan tersendiri.

Sebentar, saya mau mengASIhi dulu yaaa.