Ibu Magang : Memilah dan Memilih Kebutuhan Bayi

Sejak awal hamil, pasti kita sudah sibuk membeli perlengkapan bayi. Bagi yang hamil untuk pertama kali tentu belum ada pengalaman tentang apa-apa saja sebenarnya yang benar-benar dibutuhkan, sehingga perlu rekomendasi dari orang-orang yang telah berpengalaman atau mencari list barang dari internet, seperti yang pernah saya lakukan.

Memang pakaiannya yang mungil-mungil, pernak-pernik yang lucu hingga barang penunjang lain seperti stroller bisa membuat kalap ibu muda yang begitu antusias menunggu kelahiran bayi. Orang tua mana pun pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, tinggal menyesuaikan dengan budget yang dimiliki.

Saya juga telah membeli banyak perlengkapan bayi sebelum melahirkan. Ternyata ada beberapa barang yang sebenarnya tidak terlalu perlu, sebaliknya ada juga beberapa barang yang sekarang dirasa sangat perlu tapi tidak saya beli sebelumnya.

Yang Tidak (Terlalu) Dibutuhkan

Versi saya ya.

Pertama, gurita. Sampai Zaid umur 2 bulan lebih ini, gurita berperekat yang saya beli sebanyak 3pcs tidak pernah sekalipun terpakai. Ini karena sekarang gurita memang tidak direkomendasikan lagi untuk dipakaikan ke bayi. CMIIW.

Kedua, bedong instan. Itu lho bedong yang tinggal tarik ritsletingnya, bayi langsung terbungkus rapi. Bedong instan hanya terpakai tidak lebih dari 10 kali, padahal saya beli 2pcs, karena biasanya Zaid lebih sering dibedong memakai sarung atau pun selimut serbaguna. Masalah selera sih ya. Pemakaian bedong sebenarnya hanya di awal-awal kelahiran karena setelah sebulan lebih, Zaid malah lebih suka pakai baju kutung karena dia mudah sekali berkeringat. Dan sekarang pun jika ingin dipakaikan bedong instan, sudah tidak muat di badan Zaid. Huhuhu.

Ketiga, sarung tangan. Lewat sebulan, Zaid sudah tidak lagi pakai sarung tangan, karena katanya akan lebih baik dibiarkan terbuka agar bayi bisa mengeksplor indera perabanya. Padahal saya beli sarung tangan lumayan banyak, tapi hanya terpakai sebentar saja. Memang tetap harus hati-hati, selalu pastikan kukunya terpotong pendek jika tidak ingin ada bekas cakaran di mukanya. 

Yang (Ternyata) Dibutuhkan

Lagi-lagi versi saya.

Apron Menyusui. Karena saya masih bolak-balik rumah orang tua dan mertua yang lumayan jauh, maka saya sering diharuskan keadaan untuk menyusui di luar ruangan, meski dalam perjalanan lebih sering saya lakukan di dalam mobil. Nah, perkara menyusui di tempat umum sebenarnya sudah hal lumrah bagi sebagian orang, tapi bagi saya tetap hal yang membuat risih karena ini perkara aurat. Pernah saat ingin imunisasi Zaid ke puskesmas, dia minta minum. Saya yang memang tidak pernah menyimpan ASIP, harus menyusui langsung saat itu juga, padahal di puskesmas tidak hanya ibu-ibu tapi juga ada bapak-bapak yang ikut mengantar isterinya. Untunglah saya bisa masuk ke ruangan, menumpang untuk menyusui sebentar. Akhirnya saya beli apron menyusui dan alhamdulillah ketika kebetulan jalan ke pasar, saya bisa menyusui Zaid di tengah banyak orang tanpa merasa risih atau malu.

Tas Sedang/Besar. Sebelumnya kami hanya membeli satu tas kecil yang sekiranya muat beberapa diapers, peralatan bayi dan satu dua baju ganti. Namun setelah melakukan perjalanan bolak-balik rumah orang tua dan mertua, ternyata Zaid perlu tas yang lebih besar. Alhamdulillah saat aqiqahan ada yang memberi kado satu tas sedang dan satu tas besar, lengkaplah sudah. Jadi biasanya jika jalan sebentar di dalam kota saya hanya perlu tas kecil. Tapi jika akan pergi jauh, lama di perjalanan, tas sedang dan tas besar yang harus diangkut karena kami membawa lebih banyak peralatan dan pakaian. Bahkan pakaian saya pun kadang ikut masuk ke tas Zaid, tujuannya agar tidak menambah tas bawaan lagi.

Gendongan. Saya kira gendongan tidak akan terpakai karena selain saya jarang keluar rumah, jika terdesak saya masih bisa menggunakan sarung atau gendongan batik alias cukin. Tapi makin ke sini Zaid makin berat, saya bahkan suami kewalahan menggendongnya dengan tangan kosong. Memang ada stroller, tapi sepertinya terlalu ribet untuk dipakai setiap waktu. Bagi saya stroller hanya untuk jalan-jalan santai, tidak bisa selalu digunakan di rumah, terlebih saya lebih suka memeluk bayi saya dibanding mendorongnya di stroller

Kami sebenarnya juga diberi kado baby carrier saat aqiqahan, tapi jenisnya hanya bisa digunakan ketika bayi sudah bisa duduk atau setidaknya punggung dan lehernya sudah tegak. Nah, beberapa hari yang lalu saya tidak sengaja membaca review seorang ibu tentang gendongan dengan dudukan, alias hipseat carrier. Hipseat-nya bisa dipakai tunggal, dilepas dari carrier-nya sehingga bisa digunakan sejak newborn untuk membantu menggendong atau menyusui. Aduh, saya langsung jatuh cinta. Sayang.. 

Sayang, harganya lumayan mahal untuk kondisi dompet saya. Ada kualitas, ada harga. Tapi alhamdulillah, produk ini sedang mengadakan giveaway berhadiah hipseat carrier model terbaru, saya sudah ikut dan semoga rezeki Zaid ya. Jika pun belum rezeki gratisan, kami sepertinya harus menabung untuk membelinya, karena setelah membaca puluhan review dari penggunanya, saya yakin hipseat carrier ini akan sangat membantu saya dalam mengasuh Zaid. Yang paling penting, produk ini sudah disertifikasi oleh Badan Kesehatan Dunia, jadi sudah pasti aman untuk pertumbuhan tulang bayi. Harga terjangkau tapi tidak jelas keamanannya, atau mahal tapi aman untuk anak kita? 

Intinya, jika kita bisa menghabiskan banyak uang untuk hobi dan keperluan sendiri, mengapa harus pelit mengeluarkan dana untuk kepentingan anak? #ntms

*bukan iklan produk, ini murni keinginan seorang ibu.

Ibu Magang : Babyblues Syndrome

Mungkin babyblues syndrome sudah familiar di telinga para wanita, bahkan bagi yang belum melahirkan sekali pun. Dulu saya bingung mengapa setelah melahirkan, para ibu malah mengalami babyblues. Bukankah setelah 9 bulan mengandung, lalu bisa melihat langsung bayinya, ibu harusnya jauh lebih bahagia ketimbang sedih?

Setelah mengalami sendiri akhirnya saya percaya mengapa setelah melahirkan ibu-ibu sangat rawan stres. Melihat berbagai macam pemberitaan tentang ibu yang jadi gila, ibu yang membunuh bayinya, ibu yang menyiksa bayinya, dan kasus-kasus lain semacam itu, awalnya saya pikir ah jahat sekali mereka, tega sekali mereka, tidak sayangkah dengan anaknya? Ternyata, sebagian besar terjadi karena mereka mengalami babyblues parah yang disebut postpartum depression.

Apa saya mengalami babyblues? Entahlah, saya kurang paham definisi babyblues. Tapi memang ada kalanya saya tiba-tiba menangis entah karena apa, sedih tanpa sebab hingga rasanya kesal namun tidak tahu harus menumpahkannya kemana. Biasanya hal ini rawan terjadi di malam hari, ketika badan lelah, mata mengantuk, namun bayi saya menangis minta ASI, kadang tiba-tiba rasa sedih muncul sendiri.

Dalam kasus ini, saya masih dapat bantuan dari orang tua juga suami. Bangun malam ditemani, dibantu merawat bayi, dibuatkan teh hangat oleh suami ketika menyusui malam-malam, disuapi cemilan, hingga diajak main agar saya tidak terlalu ingat dengan rasa letih dan kantuk. Dengan dukungan orang tua dan suami yang begitu besar seperti itu, saya masih saja terkena babyblues. Maka dapat saya bayangkan bagaimana sebenarnya perasaan ibu fulanah, yang saya dengar menyakiti dan membunuh bayinya karena sering ditinggal suami dan ditekan oleh mertua. Merawat bayinya sendiri, merawat anak balitanya juga, mengurus rumah hingga sedih yang disebabkan oleh orang lain (suami dan mertua).

Setelah dipikir-pikir dengan logika, wajar sekali ibu baru mengalami babyblues. Perubahan hidup yang tiba-tiba jadi salah satu pencetusnya. Kemarin masih bisa tidur tenang, yang diurus hanya diri sendiri dan suami, sekarang ketika ada bayi jam tidur menjadi terganggu khususnya di minggu-minggu awal karena belum bisa menyesuaikan diri. Adanya bayi pun menambah beban pikiran. Bisa tidak merawat bayi dengan baik? Bagaimana caranya agar bayi bisa tumbuh berkecukupan? Bagaimana masa depannya? Tangisan bayi setiap saat tanpa kita tahu apa maksud sebenarnya juga bisa menekan dan mengubah mood ibu. Beberapa hal itu juga yang saya alami.

Alhamdulillah, tidak terlalu lama saya mengalami babyblues. Yang saya ingat, saya pernah menangis tanpa suara di tengah malam ketika menyusui bayi. Saya tahan-tahan sekuatnya, tapi air mata entah mengapa terus mengalir. Mungkin juga saat itu saya merasa sendiri, karena mama dan suami tertidur meskipun masih ada di dekat saya.

Kumpulan kekhawatiran akan bayi menumpuk di pikiran. Bayi didekati nyamuk saja rasa kesalnya luar biasa, takut dia sakit. Pernah juga saya ikut menangis hingga sesenggukan ketika bayi saya menangis dan sangat sulit ditenangkan. Seingat saya itu terjadi di minggu pertama, saat saya masih kikuk menggendong bayi, masih belum tahu cara menyusui yang benar dan masih merasa sangat lelah karena kantuk yang luar biasa. Disusui, bayi saya menolak. Digendong, bayi saya menangis. Diganti gendong oleh suami, tetap menangis. Saya coba susui lagi, malah menangis lebih kencang. Akhirnya tangis saya ikut pecah hingga suami berinisiatif mengambil alih bayi kami dari pelukan saya. Saat itu saya begitu takut dan khawatir. “Kamu menangis karena apa, nak? Sakit kah? Sakitnya dimana? Ibu tidak paham. Maafkan ibu. Maaf ibu tidak bisa mengerti kamu sampai kamu menangis kelelahan.” begitu kurang lebih yang saya pikirkan. Sepanjang ini, saya pikir itulah hal yang paling parah.

Karena babyblues adalah akumulasi dari rasa lelah, rasa takut dan rasa khawatir, maka seorang ibu harus dapat dukungan kasih sayang dari lingkungan sekitar untuk dapat mengatasinya. Persiapan kelahiran yang matang, membekali diri dengan pengetahuan tentang bayi dan cara mengasuh juga terus berdoa adalah solusinya. Ditambah dengan perhatian dari suami, bisa menghentikan babyblues syndrome lebih cepat.

Babyblues akan berlalu. Masa-masa klik saling mengerti antara bayi dan orang tua akan datang. Babyblues hanya salah satu warna dari motherhood.

Ibu Magang : Belajar Banyak Hal dari Proses Menyusui


Setelah 9 bulan menjadi bumil, akhirnya saya naik level jadi busui. Ternyata suka duka selama hamil belum ada apa-apanya dibanding masa menyusui. Sebagai ibu baru, saya merasa ada banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari pengalaman menjadi busui ini, entah ilmu tentang ASI, maupun pelajaran hidup semisal rasa syukur, ikhlas dan sabar.

Saya beruntung, beberapa saat sebelum melahirkan telah dikenalkan seorang teman pada Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) via media sosial Facebook. Saya diajak bergabung dengan grup ASI for Baby Kalsel yang dinaungi langsung AIMI Kalsel, yang di dalamnya banyak sekali info tentang serba-serbi ASI, dari panduan hari-hari awal menyusui, MP-ASI sampai proses menyapih.

Memang di awal saya merasa agak kecolongan karena tidak bisa melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yang sudah saya pelajari jauh-jauh hari dari berbagai literatur, karena RS tempat saya melahirkan ternyata tidak support hal itu. Setelah bayi lahir, saya hanya sekilas melihatnya, lalu langsung dibawa ke ruang bayi. Untunglah sekitar sejam kemudian, setelah saya pindah ke ruang inap, saya langsung bisa mendekap Zaid (bayi saya), segera menyusuinya dibantu mama, hingga Zaid tetap dapat kolostrum di awal hidupnya.

Karena belum pernah menyusui sama sekali sebelumnya, pun saya tidak pernah memperhatikan ibu lain menyusui bayinya, maka masa-masa awal sebagai busui jadi masa yang menurut saya penuh perjuangan dan pembelajaran. Minggu-minggu pertama saya harus selalu dibantu mama untuk mengangkat Zaid, diletakkan di lengan saya, lalu dibantu lagi jika saya ingin pindah menyusui ke PD lain. Selain karena saya masih agak kikuk menggendong bayi, saya juga masih tidak leluasa bergerak karena nyeri jahitan paska melahirkan.

Hari-hari awal, tepatnya 3 hari pertama, ASI saya belum ‘keluar’, namun tetap selalu saya susukan. Nah, hari-hari awal ini adalah masa rawan putus asanya para ibu muda. Saya membaca banyak curhatan dari berbagai grup ibu menyusui tentang “ASI-saya-kurang” atau “ASI-saya-tidak-kunjung-keluar” hingga akhirnya menyerah dan memberikan sufor kepada bayinya. Beruntung saya punya mama yang sedikit banyak paham perihal Ibu dan Anak dan ASI ekslusif, hingga selalu dimotivasi untuk menyusukan meski ASI saya (tampaknya) belum keluar. Saya pernah membaca selagi hamil, produksi ASI di awal kelahiran memang hanya sedikit, menyesuaikan dengan ukuran lambung bayi yang begitu kecil, dan terus menyusukan adalah cara untuk merangsang produksi ASI. Belakangan saya tahu istilahnya dari dokumen AIMI bahwa ASI itu supply on demand, dia diproduksi sesuai dengan permintaan/kebutuhan bayi. Masya Allah.

Kesalahan Menyusui

Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, ASI saya akhirnya (terlihat) keluar di malam keempat. Saya sedang tidur ketika tiba-tiba terasa ada air merembes di badan, begitu saya cek ternyata sudah basah seluruh badan karena ASI saya bocor. PD terasa sangat sakit dan keras, sementara ASI terus menetes. Alhamdulillah tidak lama Zaid bangun dan akhirnya kedua PD kembali normal setelah saya susukan.

Dari sinilah awalnya kesalahan saya dalam menyusui. Karena PD terasa bengkak, akhirnya kadang saya perah untuk mengurangi nyerinya, meski tidak pernah terpakai karena Zaid selalu minum langsung dari pabriknya. Namun pemerahan tidak saya lakukan secara terjadwal, hanya ketika saya sudah tidak bisa lagi menahan nyeri. Nah, yang benar jadwal pemerahan harus terjadwal, konsisten, begitu katanya. Kedua, saya sering berganti-ganti PD ketika menyusui. Kadang Zaid menangis ketika disodorkan satu PD, asumsi saya dia tidak suka PD yang itu hingga saya alihkan ke PD sebelah agar tidak menangis lagi. Belakangan saya tahu ternyata bukan karena tidak suka PD di sisi itu, tapi karena posisi menyusui dan pelekatan yang tidak benar.

Kesalahan ini terjadi berhari-hari tanpa saya ketahui, hingga akhirnya PD saya mudah sekali penuh sampai ASI-nya muncrat ketika Zaid menyusu. Akibat aliran ASI yg terlalu deras, dia sering tersedak lalu menangis dan berhenti menyusu. Saya pindahkan ke PD sebelahnya, minum sebentar lalu hal yang sama terjadi lagi. Ketika aliran menjadi deras, bahkan tetap mengalir meski tidak diisap, Zaid kembali tersedak, menangis hingga sulit ditenangkan.

Saya coba bertanya ke beberapa teman yang sudah senior dalam hal menyusui, mencari artikel di internet, membaca-baca kembali dokumen di grup ASI dan Komunitas Ibu Menyusui, akhirnya saya dapati bahwa keadaan yang saya alami dinamakan over-supply atau hiperlaktasi atau fast LDR, entahlah. Yang pasti tanda-tandanya sesuai dengan keadaan saya: PD bengkak, cepat penuh, aliran ASI deras, hingga bayi sering tersedak. Bayi yang sering tersedak lalu menangis bisa berakibat dia trauma hingga menolak untuk menyusu, begitu yang saya baca. Saya langsung bergetar, sedih, sangat takut Zaid trauma.

Saya cari tahu terus tentang penyebab, akibat hingga solusi masalah ini. Hingga akhirnya saya tahu bahwa cara menyusui saya salah. Seharusnya susukan dulu di satu PD hingga kosong, baru pindah ke PD satunya. Saya juga terus belajar posisi menyusui dan pelekatan yang benar, meski hanya dari tulisan dan gambar. Sampai saat ini pun terus belajar. Sebenarnya ada Kelas EdukASI Menyusui dari AIMI yang diselenggarakan berkala, tapi jadwalnya selalu tidak sesuai dengan saya, sehingga saya belum dapat kesempatan untuk belajar langsung dari konselor AIMI.

Untuk solusinya, saya mencoba cara pertama, yaitu memerah sedikit ASI sebelum menyusui. Namun ternyata tetap tidak berhasil. Aliran ASI tetap deras, Zaid tetap tersedak. Kemudian saya coba posisi menyusui setengah berbaring (bersandar) yang katanya akan mengurangi derasnya ASI, tapi ternyata tetap tidak berhasil. Lalu akhirnya saya coba metode block-feeding untuk mengurangi kebengkakan dan derasnya aliran ASI saya. Intinya dengan block-feeding kita hanya menyusukan satu sisi PD dalam dua sampai tiga kali waktu menyusui. Setelahnya baru pindah ke PD satunya, dilakukan dengan cara yang sama, disusukan dalam beberapa waktu menyusui. Dengan cara ini, PD yang tidak disusukan akan ‘berpikir’ bahwa bayi mengurangi permintaan, sehingga PD akan mengurangi produksi ASI. Supply on demand bekerja di sini. Untuk lebih jelasnya mungkin bisa dibaca artikel lain di internet atau di grup AIMI. Saya takut salah mendeskripsikan.

Setelah melakukan block-feeding sekitar 5 hari, alhamdulillah PD saya berangsur normal. Memang kadang aliran ASI masih deras, namun PD tidak lagi bengkak. Entah karena block-feeding saya berhasil, atau PD memang sudah bisa menyesuaikan kebutuhan bayi. Karena info dari AIMI, wajar jika di awal kelahiran PD masih bengkak karena masih dalam proses menyesuaikan berapa kebutuhan bayi. Lama kelamaan, sekitar bulan kedua, PD akan memproduksi ASI sesuai permintaan bayi.

Menyusui bukan Sekadar Memberi ASI

Iya, menyusui lebih dari sekadar memberi ASI kepada bayi. Kasarnya, anak SD pun bisa memberi ASI, namun menyusui adalah sebuah proses bonding antara ibu dan anak. Memang benar, saya paling suka saat proses menyusui, mendekap bayi, menggenggam jari-jari mungilnya, menatap wajahnya, mencium aroma khasnya. Masya Allah, begitu nikmatnya menjadi seorang ibu.

Saya pun belajar tentang serba-serbi ASI. Bahwa ASI terdiri dari dua jenis, yaitu foremilk atau ASI awal yang berwarna bening dan hindmilk, ASI akhir yang berwarna keruh. Foremilk yang kaya akan protein berguna untuk perkembangan otak bayi, sedangkan hindmilk kaya akan lemak untuk perkembangan fisiknya. Karena itulah menyusui dengan benar, menyelesaikan di satu PD sebelum beralih ke PD satunya, bisa memastikan bayi mendapatkan foremilk dan hindmilk yang cukup. Bayangkan jika saya terus melakukan cara menyusui seperti sebelumnya, berganti-ganti PD, maka Zaid hanya akan mendapat foremilk terus menerus tanpa sempat mencicipi hindmilk, tentu akan berpengaruh pada pertumbuhannya. Menyadari hal ini, sekali lagi saya ingatkan diri, busui harus terus belajar.

ASIX dan ASIP

Selain tantangan untuk belajar dari diri sendiri, menjadi busui juga berarti siap dengan keadaan lingkungan. Perbedaan antara ilmu kesehatan modern dengan kebiasaan-zaman-dulu ternyata sedikit banyak akan menimbulkan masalah. Mama memang paham tentang ASI ekslusif (ASIX), dimana selama 6 bulan bayi hanya diberikan ASI, karena beliau orang kesehatan. Namun lingkungan saya tidak.

Pernah Zaid disarankan untuk diminumi kopi dengan alasan agar dia tidak kejang-kejang. Pernah juga disuruh untuk diberi makan saja karena katanya Zaid yang badannya agak berisi tidak akan kenyang jika hanya diberi ASI, makanya dia rewel terus dan sebentar-sebentar menyusu. Padahal saat itu yang beliau lihat adalah Zaid dalam masa Growth Spurt (akan saya ceritakan di postingan lain).

Lantas apa tanggapan saya? Hanya saya balas dengan senyum.

Insya Allah kita bisa lulus ASIX ya, nak. Karena jangankan saya yang IRT murni/full time mother (FTM), yang tiap waktu bisa menyusui langsung memberi ASI, ibu pekerja/working mom (WM) saja rata-rata bisa lulus ASIX karena meski harus meninggalkan bayi, mereka sudah menyiapkan ASI perah (ASIP). Jadi bayi dari WM tetap bisa dapat ASI meski tidak disusui langsung sepanjang waktu. Hanya saja memang musti diperhatikan media pemberian ASIP, jangan pakai dot untuk menghindari bingung puting, begitu yang saya dapat dari AIMI.

Mengenai ASIP, sebagai FTM saya hanya pernah dua tiga kali memerah dan menyimpan ASI, ketika mengalami over-supply. Tentang haruskah FTM, yang bisa menyusui langsung tiap waktu, untuk memerah secara berkala masih belum saya pahami. Memang ada FTM yang selalu menyusui langsung sekaligus selalu memerah dengan terjadwal, karena pemerahan terjadwal akan semakin melancarkan produksi ASI. Namun sepanjang ini saya memang belum tergerak untuk memerah, karena alhamdulillah ASI saya cukup.

Belajar Syukur lewat ASI

Berkali-kali ditekankan oleh AIMI tiap kali ada yang bertanya bagaimana agar ASI melimpah, ASI itu bukan mencari ‘banyak’, tapi cukup. Benar lho, siapa pun tidak akan nyaman tidur kedinginan berbaju basah karena ASI merembes akibat produksi yang terlalu banyak.

Alhamdulillah, sekarang saya sudah jarang mendapati PD bengkak, paling hanya beberapa kali di malam hari, karena tengah malam hingga pagi adalah waktu dimana ASI sedang banyak-banyaknya. Sekarang meskipun PD saya tidak lagi bengkak (mangkar, kata Urang Banjar) , dan keadaan ini sangat saya syukuri karena badan saya terasa lebih nyaman, alhamdulillah ASI selalu cukup setiap Zaid membutuhkan. Meski dalam keadaan yang saya rasa sudah kosong pun, ketika Zaid ingin, ASI akan keluar. Masya Allah, bukankah mekanisme produksi ASI ini sudah diatur dengan begitu sempurna oleh Allah?

Ada yang namanya LDR, let down reflex. Keadaan dimana ASI akan keluar ketika menerima rangsangan, biasanya dari isapan bayi, ditandai dengan rasa nyeri yang muncul dan PD tiba-tiba langsung terasa penuh. Ketika PD saya terasa kosong, lalu Zaid tetap ingin menyusu, maka LDR ini kembali datang, ASI saya kembali meluncur bak air mancur.

Oh iya, LDR selain dari isapan bayi juga bisa dirangsang dengan cara lain kok. Ini berguna untuk para WM saat memerah ASI yang dengan adanya LDR memerah akan jadi lebih mudah dan cepat karena aliran ASI lancar. Biasanya bisa dengan memandang foto bayi, membayangkan bayinya, atau rangsangan fisik lain. Saya bahkan pernah mengalami, ketika mandi lalu mendengar sayup-sayup tangisan Zaid, LDR datang, ASI saya keluar dengan sendirinya.

Intinya, segala yang berlebihan itu tidak baik, Rasul ajarkan itu. Kita hanya perlu beryukur, syukur karena dicukupkan. Setelah tahu lebih banyak tentang ASI, saya jadi semakin pro ASI. Jika pada susu formula buatan manusia saja kita begitu percaya akan kandungannya, bagaimana dengan cairan yang diciptakan oleh Sang Pencipta? Tentu akan lebih luar biasa kan?


disclaimer:

*mengenai pemberian sufor/ASI, menyusui langsung/ASIP, saya percaya setiap ibu tahu dan ingin yang terbaik bagi anaknya. Maka apa pun pilihan mereka, tentu telah mereka pikirkan matang-matang berdasar pada berbagai faktor.

** untuk ilmu tentang ASI dan menyusui, tulisan saya hanya sebagai pengetahuan awal. Untuk lebih jelasnya lebih baik langsung akses dokumen AIMI atau ke konselor laktasi.


Ibu Magang: Kikuknya Ibu Baru

Melahirkan di rumah sakit pada magrib tanggal 8 September, 9 September siang saya sudah diperbolehkan untuk pulang setelah jadwal kunjungan dokter. Dapat nasehat sedikit untuk tidak terlalu agresif karena semalam sempat pingsan. Alhamdulillah tidak ada keluhan apa pun selain masih susah gerak karena nyeri jahitan.

Pulang ke rumah yang jaraknya cuma 7 km dari RS, ternyata cukup memerlukan perjuangan. Meski pakai mobil sendiri dan disupirin suami dengan pelaaaan dan hati-hati, tapi kena hentakan sedikit saja jahitan nyeri. Sesampainya di rumah langsung disambut keluarga besar. Turun dari mobil dibantu suami, karena geser duduk sedikit terasa nyeri. Nyeri terus ya? 😂

Diskusi Nama

Sejak masih hamil, tepatnya ketika jenis kelamin janin sudah terdeteksi, sebenarnya saya dan suami sudah menyiapkan beberapa nama yang kemudian mengerucut pada satu keputusan. Jadi, sejak hamil saya sudah mengajak bicara janin di kandungan sambil menyebut namanya, di postingan-postingan terdahulu sudah saya bocorkan inisialnya, Z.

Setelah bayinya lahir, nama tadi kami lempar ke keluarga, yang sebagian besar langsung setuju namun menyarankan untuk minta pendapat dulu dengan tetua keluarga. Sempat kebingungan karena diberi pilihan beberapa nama lagi, akhirnya diambillah jalan tengah, tetap memakai nama yang kami pilih namun nama lengkapnya disesuaikan agar memiliki arti yang baik dan sesuai dengan kaidah bahasa. Jadilah…

ADITIYA ZAIDA MUTTAQIN – pintar dan bertambah taqwa

Yak, Z A I D, panggilan sebenarnya, yang sudah kami sebut tiap-tiap waktu sejak dia dalam kandungan. Sebenarnya nama Zaid terinspirasi dari nama sahabat-sahabat Rasulullah, Zaid bin Tsabit dan Zaid bin Haritsah. Terlepas dari arti namanya yang juga sebagai do’a untuknya, kami berharap anak kami bisa sesholeh, secerdas dan seberani dua sahabat tersebut. Aamiin.

Kikuknya Jadi Ibu Baru

Alhamdulillah, tidak terasa sudah hampir dua bulan menjadi seorang ibu. Tantangan pertama sebagai ibu baru yang masih magang adalah… gendong bayi. Ya Allah, seumur hidup saya tidak pernah berani gendong bayi, yang sudah hitungan bulan sekali pun, apalagi yang newborn seperti ini. Tapi karena ini anak sendiri, mau tidak mau ya harus mau. Akhirnya sedikit demi sedikit memberanikan diri dan terus berlatih, sambil dibantu-bantu mama memperbaiki posisinya.

Menyusui pun sebelumnya tidak pernah (yaiyalah!). Jadi kombinasi kikuknya gendong bayi, sambil belajar posisi menyusui yang benar, berhasil membuat saya dalam seminggu pertama: tangan kram kapalan, tulang punggung terasa patah, pokoknya badan sakit semua diperparah dengan bekas jahitan yang masih rada-rada nyeri. Oh iya, nyeri jahitan ini kalau tidak salah baru mendingan setelah sekitar setengah bulan. Jadi selama masih nyeri, saya duduk harus diatur, geser harus pelan-pelan, BAB pun masih takut mengeden padahal tiap hari saya sudah banyak makan serat.

Umma, Begadang Yuk

Saat memposting kabar kelahiran bayi kami, beberapa ibu senior (yang lebih dulu punya anak) mengucapkan selamat sambil menyelipkan embel-embel “selamat begadang”. Awalnya cukup penasaran, ngajak begadang seperti apa sih bayi baru lahir? Ternyata…

Membuat kantung mata saya lebih besar dan lingkaran hitamnya jadi lebih pekat laiknya panda. Hihihi.

Setelah malam pertama dilewatkan di kamar RS dengan nyanyian tangisan bayi sahut-sahutan, malam kedua, di rumah, pun demikian. Bedanya sekarang bayinya cuma satu. Tiap dua jam dia bangun dan menangis, entah minta ASI atau pun BAB. Mau tidak mau sang ibu magang harus bangun untuk mengASIhi. Begitu juga malam ketiga. Tiga malam pertama itu subhanallah rewelnya minta ampun, meski sudah dikASIhi, dia tetap menangis dan menempel lamaaa di PD karena ASI saya masih belum banyak, jadi dia lapar terus kali ya? Makanya si ibu bapak baru, tidak bisa tidur nyenyak karena tidak terbiasa bangun terus di malam hari.

Alhamdulillah, malam keempat rewelnya berkurang karena ASI saya sudah lancar jaya sampai bocor.

Drama Sebulan Pertama

Suka duka selama hamil ternyata belum ada apa-apanya dibanding ketika bayinya sudah keluar. Karena setiap harinya adalah hal baru bagi orang tua baru ini, maka tiap hari adalah bentuk petualangan yang harus dilewati, entah dengan sukses maupun dengan bersimbah darah.

Mulai dari proses menyusui yang ternyata begitu banyak serba-serbinya, masalah bangun malam, rawannya kena babyblues, hingga berbagai macam perasaan yang campur aduk. Mungkin akan saya ceritakan masing-masing dalam postingan tersendiri.

Sebentar, saya mau mengASIhi dulu yaaa.

Jika Cinta Buta Benar Ada, Maka Kau Adalah Wujud Nyatanya

Jika cinta buta benar ada, maka kau adalah wujud nyatanya.

Aku bisa mencintaimu hanya dengan mendengar detak jantungmu.

Aku bisa mencintaimu hanya dengan merasakan gerak kecilmu.

Aku mencintaimu bahkan sebelum kita bertemu.

Aku telah mencintaimu jauh sebelum kutahu bagaimana rupamu,

tingkahmu.

 

Lalu bagaimana aku tak bertambah cinta begitu bisa melihatmu secara utuh?

Tanpa sekat.

Tanpa jarak.

 

Memelukmu adalah hal ternyaman bagiku.

Kala detak jantung seirama.

Napas kita memburu sama.

Kehangatan menjalar,

membuncah menjadi rasa bahagia.

 

Kasih ini tak berjeda.

Senyummu adalah sebab senyumku.

Bahagiamu adalah sumber bahagiaku.

Sakitmu, jika bisa, biarlah kurelakan berpindah padaku.

 

Karena kau adalah nyata yang tercipta dari cinta.

Kau adalah dunia yang di dalamnya penuh dengan do’a,

kumpulan dari segala.

Segala do’a,

mimpi,

cita,

asa.

Segalanya.

Sungguh, kasih kami tak berjeda, nak.

 

Sekali lagi, kasih kami tak ada jeda.

Tumbuhlah selalu dengan buncahan kebahagiaan.

Berkembanglah dengan berbagai kepandaian.

Dan bertambah taqwalah selalu.

Serupa namamu;

Aditiya Zaida Muttaqin