Ibu Magang : Peralatan MP-ASI Zaid

Sebentar lagi Zaid 6 bulan, yang artinya akan mulai makan, horeeee. Perkara makan-makan ini jadi hal yang cukup menyita perhatian bagi saya. Sebagai IRT yang kemampuan masaknya sedengkul, persiapan MP-ASI untuk Zaid sudah semacam persiapan berangkat ke medan perang. Kalau untuk suami, meski skill masak saya mungkin di bawah beliau, tapi dimasakkan apa saja ya ayo selalu dimakan. Sedangkan kali ini untuk bayi, tidak bisa sembarangan. Makanya saya sudah baca-baca buku, gabung forum, masuk grup tentang MP-ASI, ikut group WA dan berselancar ke banyak blog ibu-ibu lainnya sejak Zaid 4 bulan.

Selain pengetahuan tentang makanan, tentu peralatannya pun harus dipersiapkan. Awalnya saya bingung harus menyiapkan apa, karena setelah baca sana-sini dapat beberapa list peralatan MP-ASI yang beragam dan beda-beda di tiap ibu. Saya kira dulu cuma perlu feeding set. Ternyata mau kasih makan bayi aja peralatannya seabrek. Mahal lagi. Iyaaa mahal, soalnya yang jadi panutan saya saat itu adalah para selebgram, kan sering tuh mereka review barang, beberapa hasil endorse babyshop. Feeding setnya aja bisa setengah juta lho. Ya Allah bukan kasta saya, hihihi.

Akhirnya saya buat kumpulan list, mencoba menuliskan satu per satu dari yang paling wajib dan paling mudah di temukan. Kemudian disortir. Memikirkan matang-matang, ini wajib punya tidak? Mencoba memakai logika, soalnya kalau pakai emosi ala ibu-ibu yaaa semuanya pasti mau dibeli deh, apalagi yang bentuknya lucu. Entah terpakai nantinya atau tidak, yang penting beli. Entah karena ngiler atau terpengaruh review orang lain. Akhirnya kir pikir pikir, sambil memikirkan pendanaan akhirnya saya ceklis yang wajib punya. Kemudian, yang sunah dan yang harganya lumayan mahal saya pikirkan alternatifnya.

Berikut beberapa peralatan yang masuk list, yang nanti saya coret satu-satu:

  1. High Chair / Booster Seat. Sedari kecil memang harus diajarkan disiplin ya ke anak. Kalau makan jangan pakai acara lari-lari, sambil main-main, sambil rebahan blablabla. Itu juga yang insya Allah saya ingin terapkan. Kalau makan ya harus di tempatnya, duduk. Nah untuk yang budgetnya banyak mungkin bisa beli high chair/booster seat (yang harganya bisa ta juta). Ada sih yang harganya terjangkau, tapi saya memutuskan untuk meletakkan high chair di list paling bawah saja. Alternatifnya? Mungkin Zaid bisa saya dudukkan di strollernya saja, hehe. 
  2. Feeding Set. Ini memang yang terwajib sepertinya. Kebetulan sudah punya 2 feeding set kado nikahan (iyaaaa ada yang kasih bahkan sebelum saya hamil) dan lahiran. Warnanya hijau dan biru. Sempat ngiler dengan feeding set Pigeon yang warna putih sih. Tapi belum terlalu perlu, jadi di skip saja nafsunya.
  3. Bib / Slaber / Celemek. Ya ini perlu biar waktu makan baju anak tetap bersih. Harganya juga tidak terlalu wah, bisa pilih yang standar. Bisa pilih yang bahannya kain, tau yang anti air. Hmm, cukup lah punya 4 atau 6pcs.
  4. Baby Food Maker/Food Processor. Katanya ini alat multifungsi untuk mengukus, memblender, menghangatkan, mencairkan dan lain-lain. Hmmm, buat saya nampaknya tidak terlalu perlu karena alternatifnya ada di no 5, 6 dan 7.
  5. Kukusan. Alhamdulillah sudah ada, masih baru, kado nikahan.
  6. Blender. Bisa pakai blender rumahan, atau cukup hand blender. Setelah dipikir-pikir, menelaah, membaca dan mendapat saran dari banyak ibu, saya tidak perlu blender, karena katanya jika makanan bayi diblender nanti teksturnya malah terlalu lembut, sehingga bayi tidak bisa merasakan tekstur makanan. Jadi, yang terbaik memang pakai saringan kawat saja.
  7. Saringan Kawat. Sudah beli, memang peralatan paling wajib sepertinya.
  8. Parutan keju. Untuk memudahkan menghaluskan daging. Jadi daging dibekukan dulu, diparut, baru dimasak hingga akhirnya disaring.
  9. Slow Cooker. Katanya untuk working mom yang waktunya mepet ini sangat perlu. Gunanya untuk membuat bubur saring. Masukan semua bahan ke slow cooker di malam hari, tinggal tidur, paginya sudah jadi. Untuk IRT semacam saya? Belum tertarik sih. Mungkin saya bisa membuat bubur secara konvensional saja.
  10. Training Cup. Melatih bayi agar bisa minum sendiri. Ada banyak sekali pilihan training cup yang lucu-lucu. Saya masih bingung mau beli atau tidak, soalnya kalau minum bisa diajari pakai gelas kan? Meski konsekuensinya bayi bisa lebih mudah tersedak jika tidak dijaga, tapi di awal-awal minumnya bisa disendoki, atau pakai sedotan.
  11. Food Feeder. Untuk melatih bayi makan sendiri, jadi bentuknya bisa dipegang bayi dan makanan dimasukkan ke dalam food feeder. Bayi akan menghisap sari-sari makanannya jadi tidak akan tersedak.
  12. Spoon feeder. Katanya untuk memudahkan memberi makan bayi. 
  13. Baby Cube. Untuk menyimpan kaldu atau bahan MPASI di kulkas. Tapi alternatifnya bisa pakai no 12 atau 13.
  14. Wadah-wadah kecil. Pakai yang ada di rumah saja, biasanya terpakai untuk simpan air kaldu, katanya.
  15. Plastik klip. Fungsinya sama yaa, untuk menyimpan dan memisahkan bahan makanan per porsi, sebelum dimasak. Jadi porsi yg lain tidak terganggu/tetap bersih.
  16. Talenan. Wajib, beli baru khusus untuk bayi.
  17. Pisau. Juga khusus untuk bayi.
  18. Sponge cuci. Khusus untuk bayi.
  19. Sabun khusus peralatan bayi
  20. Dan banyaaaaak perintilan lainnya yang tidak sanggup lagi saya tuliskan.

Setelah mengkaji di beberapa group, mendapati banyak pencerahan, akhirnya saya beli yang sangat perlu saja. Jadi, yang saya pakai akhirnya adalah…

  • Stroller untuk duduk. Nanti juga bisa didudukkan di kursi, atau dipangku.
  • Feeding set
  • Saringan kawat
  • Kukusan
  • Panci dan pernak-perniknya
  • Talenan
  • Pisau
  • Parutan keju
  • Wadah-wadah kecil
  • Spons cuci
  • Sabun cuci bayi

    Awalnya memang terasa membingungkan ya menyiapkan peralatan MPASI. Untunglah saya dapat pencerahan bahwa MPASI tidak harus mahal, tidak harus ribet, tidak harus yang sulit didapat dan tidak harus mengikuti trend ibu-ibu kaya.

    Untuk menu, hanya perlu menyesuaikan dengan menu keluarga. Tidak perlu cari bahan yang sulit karena meniru orang-orang, yang penting nutrisinya dijaga. Make sense sih, masa nanti orang tuanya makan gabus, anaknya cuma bisa makan salmon. Kan ribet.

    Untuk peralatan, pakai yang sederhana dan sering dipakai di rumah tangga. Tidak perlu slow cooker, karena bisa masak dengan panci. Tidak perlu food processor karena bisa diganti dengan saringan, ulekan dan sebagainya.

    Jadi Zaid insya Allah akan saya beri MPASI homemade. Do’akan yaaa semoga sukses. Deg-degn nih. Hihihi. 

    Ibu Magang : Akhirnya Zaid Tengkurap

    Alhamdulillah. Momen yang ditunggu-tunggu akhirnya datang; Zaid finally rolled over for the first time on his 141st day (January, 28th. 2017) yeaaayyy.

    Memiliki beberapa teman yang lahirannya berdekatan, dalam artian bayi-bayi kami seumuran, pasti ada kalanya saling tanya, “Zaid sudah bisa apa nih?“. Kadang, secara tidak langsung para ibu kemudian membandingkan perkembangan bayinya dengan bayi lain.

    “Si Hasan sudah bisa jalan, kok si Amin belum ya? Si Fatimah sudah bisa bicara kok si Maryam belum ya? Padahal seumuran.”

    Pemikiran seperti ini yang paling saya hindari. Saat bayi lain sudah bisa tengkurap sejak usia dua atau tiga bulan, Zaid saat itu bahkan belum bisa miring-miring. Tapi saya dan suami coba sabar menunggu, karena yakin perkembangan setiap bayi pasti beda. Yang kembar identik saja beda kok, yang saudara kandung juga beda, masa kita mau membandingkan dengan anak yang beda ibu beda ayah? Kan logikanya begitu. Hehe.

    Nah, alhamdulillah di hari ke 141 akhirnya Zaid tengkurap juga. Saya begitu excited kemarin itu, sampai lari ke kamar sebelah untuk ambil hape buat rekam momennya. Ada diupload di ig khusus @zaidamuttaqin yah mungkin ada yang mau lihat.

    Jadi pagi itu saya dan Zaid seperti biasa main peluk-pelukan sambil rebahan. Saya miring, peluk dia, nanti dia ikutan miring peluk saya. Di satu titik tiba-tiba saya merasa kok Zaid agak maksa dorong badan saya ya? Jadi saya memutuskan untuk gesar badan saja menjauh, eh tiba-tiba Zaid terbalik dalam posisi tengkurap, tapi belum bisa tegak karena terhalang salah satu tangannya.

    Saya coba menunggu sambil ambil video. Cukup lama dia usaha untuk bangun sampai akhirnya bisa tengkurap tegak tapi dalam posisi belum sempurna karena tangannya masih tertindih di dada. Saya tunggu lagi dia usaha membebaskan tangannya, tapi karena capek mungkin akhirnya dia nangis, hihihi. Saya balik telentangin.

    Di momen pertama ini sebenarnya saya masih ragu, Zaid memang niat tengkurap atau kebetulan terbalik karena terlalu miring? Tapi kemudian keraguan saya hilang saat malamnya Zaid kembali tengkurap tiga kali sekaligus. Saya cerita yaaa…

    Sesi 1; bukan lagi karena main peluk-pelukan. Waktu saya rebahkan dia tiba-tiba guling badan dan langsung bisa tengkurap tegak. Tapi seperti tadi pagi, tangannya masih tertindih di bawah dada. Saya tunggu dia usaha untuk melepaskan tangannya, sampai akhirnya sekitaran 30 detik tangannya bisa lepas bebas. Horeeee, momennya saya rekam dan upload di ig @zaidamuttaqin.

    Sesi 2; setelah berhasil membebaskan satu tangan tadi, saya balik telentangkan dia. Tapi baru saja rebahan, eh Zaidnya langsung tengkurap lagi dan posisinya langsung sempurna dengan kedua tangan bebas. Huwoooww you did it well boy! Kemudian dia rebahan dalam posisi masih tengkurap, karena ngantuk mungkin. Takut hidungnya ketutup, akhirnya saya balik lagi badannya.

    Sesi 3; baruuuuu saja dibalik, dia tengkurap lagi. Kali ini cukup lihai, gerakannya makin cepat dan sempurna. Saya biarkan saja sampai dia bosan, capek dan merengek akhirnya saya bantu untuk telentang lagi.

    Ternyata begini perasaan orang tua, apalagi ibu baru seperti saya, melihat tahap demi tahap perkembangan anak. Sangat bahagiaaaaa. Saya sangat beruntung bisa melihat sendiri momen pertamanya, karena kadang ada bayi yang tiba-tiba tengkurap sendiri saat ditinggal sebentar oleh ibunya.

    Bisa tengkurap di usia 4,5 bulan ini, sebenarnya Zaid sudah bisa menegakkan kepala sejak usia sebulanan. Saya selalu stimulasi dia dengan menengkurapkannya setiap hari, sebentaaaar saja. Kumpulan videonya juga pernah saya share. Rajin yaaa rekam anak tiap saat? Yaaa secara saya IRT jadi sehari-harinya memang main dengan anak, hehe.

    Oh iya balik lagi ke topik Zaid tengkurap, momen ini mungkin agak melegakan karena sudah lama saya tunggu-tunggu sampai saya sounding tiap hari, “Nak, Zaid belajar tengkurap ya? Biar kalo pegel telentang, Zaid bisa tengkurap sendiri gak usah minta bantuan umma.”. Tapi buat yang anaknya belum bisa tengkurap, tenang saja, bayi bisa tengkurap di usia yang beda-beda. Seperti teman saya ada yang di usia 2 bulan sudah bisa bolak-balik, 3 bulan, 4 bulan, 5 bulan atau usia lainnya. Yang penting sabar dan jangan bandingkan dengan bayi lain. Terlambat dibanding bayi lain pada satu momen, belum tentu bayi kita perkembangannya kurang. Lebih lambat tengkurap, mungkin dia nanti lebih cepat bisa bicara. Pasti ada kurang lebihnya lah.

    Tiap bayi unik, segala sesuatunya tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Jika ingin membandingkan pun, bandingkan dengan perkembangannya sendiri. Sedihnya banyak ibu-ibu yang membandingkan bayinya sendiri, biasanya dalam hal berat badan.  Ingat, bayi gemuk memang lucu, tapi yang penting sehat dan berat badannya selalu naik DIBANDING berat badan miliknya sendiri di bulan sebelumnya.

    Dibandingkan itu tidak enak loh, bu. Bayi kita meskipun belum bisa bicara, dia pasti merasa kalau ibunya suka membandingkan, itu sugesti negatif nantinya. Okay? Selanjutnya, saya menunggu Zaid bisa balik telentang :)

    Ibu Magang : Memilih Popok; Antara Faktor Ekonomis, Kenyamanan dan Kesehatan

    Saat mendekati due date, saya belum menentukan apakah akan membeli popok sekali pakai (pospak) atau cloth diaper (clodi). Waktu itu belanjaan bayi baru beli popok kain tradisional, yang bentuknya memanjang lalu diikat di perut itu. Sampai akhirnya saya melahirkan, belum ada persediaan pospak.

    Tapi sedari lahir Zaid memang langsung dipakaikan pospak. Dapat dari mana? Neneknya Zaid bawa yang gratisan dari puskesmas, hihi. Merk Mamy Poko buat newborn. Hampir seminggu Zaid pakai gratisan, soalnya nenek bawa cukup banyak. Padahal saat itu Zaid ganti pospak mungkin bisa belasan kali dalam sehari karena BAB-nya masih sering.

    Sejauh ini Zaid cuma pernah pakai pospak dari 2 merk, Mamy Poko dan Sweety. Saya cerita aja yaaa.

    Mamy Poko Standar Tipe Perekat

    Karena dari awal sudah dipakaikan nenek Mamy Poko, dan alhamdulillah cocok, jadi saya dan suami tidak coba untuk beralih ke merk lain. Selain karena Mamy Poko cukup murah mudah ditemukan di kota kami, saya pribadi takut nanti Zaid kena diaper rash / ruam popok karena tidak cocok dengan popoknya. Coba baca dan lihat-lihat tentang ruam popok deh, ngeri dan kasian bayinya.

    Mamy Poko Extra Dry (Tipe Perekat)

    Nah suatu waktu, persedian Mamy Poko Standar sudah habis. Berangkatlah suami cari ke minimarket, eh ternyata dimana-mana kosong yang size M. Akhirnya beliau bawa pulang Mamy Poko, tapi yang Extra Dry. Harganya lebih mahal (maklum yaa emak-emak pertamanya fokus ke harga) dan penampakannya lebih bulky. Tebal banget dibanding dengan yang standar. Pas baru dipakai saja sudah kelihatan gembul, padahal belum kena pipis.

    Tapi memang ada harga ada rupa ya. Bedanya dengan yang standar, tipe extra dry ini desainnya lebih lucu karena gambar di pospaknya berwarna-warni, yang standar cuma satu warna. Dari segi daya serap juga jauh beda menurut saya. Meski klaim di kemasannya tidak beda jauh (standar 10 jam, extra dry 12 jam), tapi pengalaman saya yang standar itu sudah agak lembab jika lebih dari 6 jam. Makanya pas pakai yang standar saya setidaknya ganti popoknya Zaid setiap 4-6 jam.

    Untuk yang extra dry memang benar-benar kering sesuai namanya. Umur 3 bulanan Zaid sudah jarang bangun malam, jadi semalaman biasanya hanya pakai satu popok sejak mandi sore, baru saya ganti pas dia bangun pagi karena saya juga kadang bisa ketiduran semalaman. Yang extra dry ini, selama 12 jam bahkan lebih itu masih tergolong kering, tapi penampakannya hihihi jadi tebal sekali. Sampai celananya kadang melorot karena popoknya merekah mengembang menyembul.

    Kiri Extra Dry. Kanan Standar.

    Untuk desain seperti yang dilihat, extra dry lebih lucu karena bagian depannya ada gambar kartun. Selain itu juga ada indikator pipisnya. Tapi buat saya pribadi sebenarnya dua fitur ini tidak terlalu berpengaruh, karena yang lihat popoknya saya (bukan zaid) dan indikatornya berubah warna atau tidak akan tetap saya ganti jika sudah terlihat penuh atau lama. Eh tapi yang extra dry ada karet di bagian belakang, yang buat saya cukup berguna agar popok lebih elastis di pinggang dan tidak terlalu ketat.

    Sweety

    Merk yang ini sebenarnya karena keadaan darurat. Rasanya baru bulan pertama, Mamy Poko size NB kosoooong padahal sudah dicari ke setiap toko dan minimarket. Curiga bulan itu banyak bayi baru lahir, setiap toko loh kosongnya. Akhirnya suami beli popok merk apa aja yang ada size NB, dan dibawa pulanglah Sweety.

    Seingat saya, pakai Sweety Zaid juga tidak kena ruam popok. Pemakaiannya cukup sebentar sih. Kalau tidak salah cuma beli yang isi 10an gitu. Entah Zaidnya memang bayi yang tidak mudah kena ruam, atau pakai Sweety sebenarnya juga cocok. Entahlah… habis satu pack, balik lagi kami ke Mamy Poko.

    Rekomendasi Popok Lain?

    Karena saya memang baru coba 2 merk ke Zaid, jadi kurang tahu popok apa yang bagus. Selain itu bayi kulitnya memang beda-beda, merk yang cocok dengan bayi A belum tentu cocok untuk bayi lain. Ada bayi yang kulitnya sangat sensitif, jadi ganti merk popok sekali bisa kena ruam. Ada juga yang memang sepertinya cocok semua merk, saya kenal yang bayinya gonta-ganti merk popok tapi bayinya aman-aman saja.

    Tapi kalau mau rekomendasi sih saya sebut merk yang sering dan banyak dipakai teman-teman saja ya, diantaranya:

    Pampers Premium; ini katanya generasi diapers yang tipis dan lembut. Banyak sih teman yang pakai. Harga? Lebih mahal dari Mamy Poko. Dari kemasannya saja nampak mewah karena warna gold, ya premium sih ya sesuai namanya.

    Nepia Genki; dari namanya sepertinya keluaran Jepang ya? Entahlah, nebak aja. Ini juga banyak yang pakai. Katanya lembut dan jarang ada yang kena ruam.

    Goon; yang ini saya pernah pegang, memang lembuuuut. Tapi tentu tetap cocok-cocokan ke tiap bayi.

    Happy Diapers; baru saja masuk Indonesia nih. Tahu dari following di ig, banyak yang promo. Kemarin ada promo free 8 sampel gratis di webnya, cuma bayar ongkir saja. Dari penampakannya lucu sih, dia banyak desain unik-unik. Jadi katanya dalam satu pack, desainnya beragam. Cek webnya deh.

    Oh iya, pergantian size pospak juga perlu disesuaikan dengan keadaan bayi, jangan kaku terpaku pada ukuran berat badan. Zaid pertama pakai size NB-S (3-8kg) tapi kalau tidak salah sudah diganti dengan size M (6-11kg) saat Zaid berusia 2 bulan, BB nya waktu itu 5,9kg. Di keterangan BB pospak, yg NB-S memang muat sampai 8kg, tapi saat dipakaikan ke Zaid agak ketat di bagian lingkar paha. Maklum paha Zaid sudah sebesar gajah, hihi, jadi pindah size saja deh daripada dia tidak nyaman.

    Oh iya mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa saya selalu pakai pospak yang berperekat? Bukan jenis celana? Saya rasa untuk umuran Zaid yang belum bisa merangkak, tipe perekat lebih nyaman aja untuk bongkar pasang periksa “isi” popok, selain itu bisa disesuaikan dengan lingkar pinggangnya. Nanti kalau Zaid sudah lebih aktif baru pindah ke jenis celana karena pasti akan lebih sulit memasangkan popok kalau dia gerak-gerak.

    Sekali lagi, untuk popok bayi memang harus cocok-cocokan, belum tentu yang mahal pasti bagus. Tentunya sebagai orang tua kita ingin yang aman dan nyaman, kalau memang cocok dengan yang harganya terjangkau berarti bonus. Soalnya budget untuk pospak tiap bulan memang lumayan loh kalau dihitung-hitung.
    Buat yang rajin cuci-cuci, bagusnya pakai clodi, atau bisa pakai gantian dengan pospak. Kalau di rumah clodi, kalau jalan pakai pospak. Memang perlu modal dulu beli beberapa clodi, tapi hitungannya akan jauh lebih murah karena bisa dicuci-pakai. Nanti kalau ada waktu coba saya buat hitung-hitungannya yaaa…

    Bijak memilih ya, bun.

    Ibu Magang : Anak Pintar atau Rewel, Hasil Sugesti Ibu dan Lingkungan

    Zaid kayaknya enak ya diurus? Anteng terus.” seorang kawan pernah berujar.

    Saya hanya tersenyum mengiyakan. Iya, alhamdulillah. Masya Allah, Zaid memang pintar, anak sholeh, tidak pernah menyusahkan umma aba, selalu ceria dan bahagia. Aamiin.

    Meski kalau boleh bongkar rahasia, ada kok masanya saya stres karena sudah pasrah menenangkan Zaid yang saat itu menangis. Tapi yaa menangis memang sewajarnya bayi. Karena dia lapar, karena haus, karena mengantuk, karena gerah, karena lelah, karena berisik. Memang begitu komunikasi bayi, kan dia belum bisa bicara.

    Dulu saya juga sempat stres, frustasi ngurus anak bayi, apalagi di minggu awal. Duh, rasanya kok saya tidak sanggup yaa. Tapi kemudian saya tidak sengaja membaca sebuah artikel (sayangnya saya lupa dimana), dan JLEBBB!!! Tertohok. Langsung kena sasaran. Saya merasa lalai.

    Jadi inti artikelnya menjelaskan bahwa jangan pernah kita mengira meski masih kecil, bayi tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa merasakan dan tidak bisa meniru. Sebenarnya apa yang inderanya tangkap, itulah yang akan dirasakan bayi. Apalagi chemistry dengan ibu, bonding yang kuat, sehingga ibu memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak, baik fisik, mental maupun sifat anak sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan.

    Ingat kan bahwa kita disarankan untuk jangan stres, jangan sedih dan jangan memikirkan hal aneh maupun negatif, karena akan berpengaruh ke janin? Bagaimana feeling ibu saat hamil akan dirasakan juga oleh janin. Nah, begitu pula bayi.

    Kalau ibu berpikir, “Duh, anakku kok rewel terus ya?” secara tidak langsung pikiran negatif ini akan mempengaruhi bayi, sehingga dia akan rewel beneran.

    Lalu ibu bicara di depan bayi, “Nak, kok kamu nangis terus? Kok susah ditidurkan?” bayi akan mendengar dan tertanam di benaknya bahwa dia adalah bayi yang selalu menangis, yang susah ditidurkan.

    Perkataan itu sugesti lho, dan tidak hanya pengaruh ke ibu sendiri, tapi juga ke bayi. Sebisanya hindari pemikiran negatif, hindari mengeluhkan keadaan bayi, termasuk berkeluh-kesah di media sosial seperti, “Anakku kenapa rewel terus ya?” yang akan dibaca oleh banyak orang.

    Makanya sekarang saya sebisa mungkin terus belajar jika ditanya orang, “Zaid gimana nih hari ini?” selalu saya jawab, “Alhamdulillah, pinter.” meski kenyataannya saya sedang jungkir balik menenangkan dia. Apalagi kalau suami yang tanya, saya pikir toh tidak ada manfaatnya juga kalau saya jawab anak kami rewel, malah akan menambah pikiran suami di kantor. Menjawab dengan hal yang positif, otomatis orang-orang juga akan berpikir hal yang sama, “oh, Zaid pinter yaaaa.” sehingga tidak akan ada pemikiran negatif baik dari saya dan suami, juga dari orang sekitar. Pokoknya selaluuuuu usahakan berpikir dan melakukan yang positif. Tapi… kalo testpack, positif laginya nanti dulu ya. Hehe.

    Terakhir, perlu diingat hierarki tertinggi tetap diperankan oleh ayah. Karena kuncinya adalah sepintar apa suami bisa membuat isteri bahagia, jauh dari stress, tidak tertekan dan selalu bisa menghadirkan hawa positif di rumah. Bahkan percaya atau tidak, suami adalah booster ASI alami lho, asalkan bisa membuat isteri terus merasa nyaman.

    Oh iya, banyak yang melabeli Zaid sebagai bayi yang “murah senyum” bahkan saat pertama bertemu. Kebetulan Zaid memang orang yang mudah menerima orang baru. Nah, pelabelan orang ini jadi semacam gema yang terus bergaung, satu dua orang yang mengatakan murah senyum, didengar oleh yang lain, menjadikannya kesan pertama, yang kemudian melabelkan serupa. Akhirnya jadi pemikiran permanen orang-orang bahwa Zaid murah senyum. Sugesti positif bagi Zaid. Sebenarnya semua bayi itu peniru ulung, begitu pun Zaid. Selalu dihadapi dengan senyum, selalu ditemani dengan senyum, dia akan meniru. Asalkan orang lain tersenyum dan memasang wajah ramah, dia akan ikut senyum kok. Sesimpel itu :)

    Ibu Magang : Fase Oral, Haruskah Bayi Diberi Empeng?

    from google

    Sejak umur sebulan lebih Zaid nampaknya sudah memasuki fase oral, di mana segala sesuatu yang ada di dekatnya selalu ingin dimasukkan ke mulut. Awalnya hanya jari tangan, satu dua kemudian lima hingga muat kesepuluh jari di mulutnya.

    Hobi Zaid: makan jari, semuat mulutnya.

    Memasuki fase oral, apalagi ketika akan tumbuh gigi, gusi bayi terasa gatal dan dia mencoba untuk menggigit apa saja. Banyak orang tua yang memberikan pacifier atau empeng kepada bayinya. Tujuannya tentu saja agar hasrat mengecap si bayi selalu terpenuhi dan membuatnya lebih tenang sehingga ibu bisa mengerjakan pekerjaan rumah.

    Sampai sekarang saya belum pernah terpikir untuk memberikan empeng. Kenapa? Baca lebih lanjut